RADAR PALU - Masih lekat dalam ingatan, peristiwa 28 September 2018 ketika Palu, Sigi, dan Donggala porak-poranda akibat gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda menjelang petang hari. Bencana itu menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana sejak dini.
Berdasarkan dari peristiwa tersebut, Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kini terus mendorong setiap satuan pendidikan agar aktif menggelar simulasi kebencanaan. Dipilih tanggal 26 setiap bulannya, bukan tanggal 28 seperti peristiwa bencana besar yang pernah terjadi.
Baca Juga: Tujuh Tahun Gempa Pasigala, Masyarakat Kota Palu Harus Paham Zona Rawan Bencana
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Hardi mengungkapkan telah mendorong satuan pendidikan baik melalui surat edaran atau penyampaian secara lisan.
“Yang pertama kami (Disdikbud) tautkan bagaimana satuan pendidikan untuk menyiapkan rambu-rambumitigasi kebencanaan. Seperti dimana titik kumpul, diaman jalur evakuasi sehingga anak-anak bisa paham,” ungkapnya saat menghadiri kegiatan simulasi kebencanaan di SDN Lasoani, Selasa (21/10).
Menurutnya langkah ini diharapkan mampu membentuk sumber daya manusia yang tanggap, sigap, dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang. Dia juga mengapresiasi upaya dari SDN Lasoani yang menggelar simulasi kebencanaan.
Baca Juga: DPRD Palu Usulkan Raperda Pendidikan Kebencanaan
“Ini kami selalu mendorong. Dan ini akan jadi program wajib bahwa nanti setiap tanggal 26 itu akan melaksanakan simulasi kebencanaan,” ujarnya.
Hardi juga berharap agar seluruh sekolah memasang rambu-rambu kebencanaan. Kemudian menungkatkan integrasi kebencanaan dalam kurikulum. Dalam amatanya baru beberapa sekolah di Kota Palu yang menerapkan hal tersebut.
“Kita bergarap dan akan mendorong semua sekolah bisa melakukan hal ini,” pungkasnya (win)
Editor : Nur Soima Ulfa