Oleh : Supriadi
(Pustakawan Poltekkes Palu)
ADA satu hal yang lebih menarik dari pada sekadar berita tentang Rocky Gerung menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Perubahan posisi itu kini menjadi panggung untuk menguji seluruh gagasan yang selama ini ia ucapkan tentang kekuasaan. Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung bersama 25 anggota Wantimpres lainnya di Istana Negara.
Melihat sosok yang dulunya begitu vokal menyuarakan kebenaran mendadak berada dibarisan kekuasaan memang sering kali memicu kekecewaan mendalam. Rasa kaget sebenarnya wajar terjadi ketika ekspektasi moral kita gantungkan terlalu tinggi pada seorang manusia. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin sekadar rotasi posisi seorang intelektual publik.
Namun bagi Rocky, posisi ini memiliki makna yang jauh lebih besar. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai salah satu pengkritik keras kekuasaan. Ia berbicara dari luar, mengamati kekuasaan dari jarak tertentu, dan menggunakan kritik sebagai instrumen untuk menguji kebijakan serta perilaku politik.
Baca Juga: Anwar Hafid Ingatkan Ilmu Pemerintahan Tak Boleh Berhenti di Kampus
Pengeritik berada di luar struktur pengambilan keputusan. Ia memiliki keleluasaan untuk mempertanyakan hampir segala sesuatu. Ia tidak mempunyai kewajiban institusional untuk ikut memikirkan bagaimana sebuah pemerintahan bekerja. Seorang intelektual tidak menjadi konsisten hanya karena setiap kebijakan pemerintah ia tolak.
Begitu pula seseorang tidak otomatis menjadi tidak konsisten hanya karena menerima jabatan di pemerintahan. Konsistensi berada pada tingkat yang lebih mendasar: apakah prinsip berpikirnya tetap digunakan ketika objek yang dihadapi berubah?
Niccolo Machiavelli pernah menegaskan bahwa seorang pemimpin atau tokoh politik sering kali harus bertindak bertentangan dengan iman, kemanusiaan, dan kebaikan demi mempertahankan posisinya. Dunia politik pada dasarnya berjalan di atas roda kepentingan yang dinamis dan sangat pragmatis.
Baca Juga: 13 Tahun IMIP dan Cerita Hilirisasi di Bahodopi
Tidak ada lawan abadi dan tidak ada kawan sejati, sebab pergerakan mereka selalu bermuara pada arah angin kepentingan yang sama. Ketika sebuah tawaran posisi mampu menyelaraskan kepentingan pribadi mereka, prinsip yang selama ini digaungkan bisa bergeser dalam sekejap mata.
Realitas ini mengajarkan kita untuk tidak pernah mengkultuskan siapa pun secara berlebihan dalam ruang publik. Menaruh kepercayaan tanpa celah hanya akan membuka pintu menuju rasa kecewa yang berulang kali terjadi dalam sejarah humanitas.
Aristoteles bahkan pernah berpesan bahwa kita harus lebih mencintai kebenaran daripada mencintai sahabat atau idola kita sendiri agar pikiran tetap jernih. Setiap kemungkinan selalu terbuka lebar, termasuk melihat figur populer idola masyarakat bertransformasi menjadi bagian dari sistem kekuasaan.
Baca Juga: Irjen Pol Rizal Irawan Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Nasri Masuk Masa Pensiun
Kesadaran ini bukan ajakan untuk menjadi pribadi yang pesimis, melainkan panggilan untuk menjadi pemikir yang lebih dewasa. Kita perlu terus mengasah akal sehat, memelihara daya kritis, dan menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat agar tidak mudah terpedaya ilusi.
Jika Rocky selama ini menganggap kekuasaan harus selalu diawasi oleh nalar kritis, maka prinsip itu seharusnya tetap berlaku ketika ia sendiri berada dekat dengan kekuasaan. Jika ia percaya bahwa kebijakan publik harus diuji dengan argumentasi, maka argumentasi itu harus tetap menjadi dasar ketika ia memberikan pertimbangan kepada presiden.
Jika ia selama ini menolak kultus kekuasaan, maka ia harus tetap mampu mengatakan tidak ketika diperlukan. Dan jika ia percaya bahwa kebebasan berpikir merupakan syarat utama kehidupan demokratis, maka kebebasan itu semestinya tidak berhenti ketika seseorang menerima jabatan.
Maka tantangan berikutnya bukan lagi membuktikan bahwa ia mampu mengkritik kekuasaan. Tantangannya adalah membuktikan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir secara merdeka.(***)