Lukpanenteng Kabupaten Bangkep Berpotensi Jadi Desa Wisata "Kelas Dunia" Membutuhkan Peta Jalan

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 19:43 WIB
Hasanuddin Atjo (FOTO:  ISTIMEWA/RADAR PALU).
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *)
 

LUKPANENTENG, di Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, merupakan salah satu desa wisata yang baru muncul, namun sangat cepat terkenal.

Kini destinasi yang menjual keindahan lingkungan pesisir telah menjadi ikon pecahan Kabupaten Banggai dengan daya pikat "Danau Cermin". Dalam bahasa setempat disebut danau Paisupok.

Paisupok sudah dikenal hingga ke mancanegara. Selling point dari destinasi ini adalah danau air laut yang begitu jernih dan tembus pandang hingga dasar danau. Tidak banyak karakter danau seperti itu.

Baca Juga: Harmonisasi Regulasi Pariwisata Sehat Jamin Kepastian Hukum Destinasi Wisata

Karenanya danau ini disebut danau cermin atau danau kaca yang kemudian diviralkan oleh sejumlah wisnus dan wisnan yang telah berkunjung ke sana. Promosi gratis ini mempercepat desa wisata ini menjadi tenar.

Popularitas danau ini, terlihat dari meningkatnya frekuensi kunjungan wisnus (wisatawan nusantara) maupun wisman  (wisatawan mancanegara) dari tahun ke tahun. 

Keberadaan danau ini dengan daya pikatnya. Dinilai bisa jadi salah  satu lokomotif ekonomi bagi Kabupaten yang tingkat kemiskinan masih tinggi dan kemandirian fiskal tergolong rendah di Sulawesi Tengah.

Data BPS Sulteng menunjukkan bahwa tahun 2025 kunjungan wisnus sebesar 226.812 orang. Sementara kunjumgan wisman mencapai 6.420 orang, berada di bawah Kabupaten Tojo Unauna (8.596  orang), dan Kota Palu (6.955 orang).

Hingga triwulan II tahun 2026 kunjungan wisnus sebanyak  127.746 orang. Dan  menarik dibahas adalah naiknya angka kunjungan wisman mencapai 4.377 orang. 

Pencapaian ini menggeser Tojo Unauna (Touna) yang baru mencapai (1.990) orang. Meski terkenal karena pesona Togean island. Juga telah melampaui Kota Palu (3.356) orang, merupakan caratan akumulasi kunjungi destinasi Pasigala (Palu-Sigi-Donggala).

Potensi menjadi kelas dunia itu tidak hanya karena indikasi meningkatnya trend kunjungan wisman. Akan tetapi, apresiasi dari Kementrian dan lembaga.

Lukpanenteng berhasil masuk 5 besar lomba desa wisata Nusantara pasa tahun 2023 yang dilaksanakan Kemendes-PPDT. Selain itu destinasi ini masuk pada kategori 300 ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia).

Senin, 14/09/2026 bertempat di kantor Bappeda  Sulawesi Tengah dilaksanakan rapat koordinasi antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengampu pariwisata, dengan sejumlah OPD penunjang.

Mengemuka pada rakor bahwa keberadaan destinasi ini dinilai. belum memberi dampak yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat dan  kemajuan daerah. Populeritas tersebut harusnya dimanfaatkan, tidak berlalu begitu saja.

Catatan kritis juga datang dari peserta bahwa kejernihan air serta kebersihan danau harus terjaga, karena ini nilaii jualnya Di daerah hulu diharap tidak terjadi alih fungsi hutan  yang berpotensi mengeruhkan air danau pada saat hujan tiba. Dan kekuatiran tersebut mulai terlihat.

Jika  aktifitas alih fungsi tidak bisa disntisipasi maka tamat obsesi menjadi " kelas dunia". Setidaknya Perdes (Peraturan Desa) bisa mendahului, sambil menunggu regulasi yang lebih kuat. Sebagai upaya mitigasi.

Infrastruktur kepariwisataan yang terbatas, kesiapan SDM dan keberadaan ekosistem pengelola bisnis pariwisata dinilai menjadi masalah krusial yang perlu solusi.

Akibat dari keterbatasan ini, maka wisnus dan wisnan pada umumnya tidak menghabiskan waktunya dalam durasi yang lama sehingga dampak dan efek domino kurang terasa.

Karena itu rencana induk atau peta jalan yang terintegrasi dan terukur sangat dibutuhkan agar intervensi dari Pemerintah dan investasi oleh sektor swasta memiliki arah yang jelas.

Peta jalan yang dibuat secara proporsional dilengkapi dengan rencana aksi terukur menjadi salah satu faktor penentu akan keberhasilan .

Alokasi anggaran pemerintah (pusat dan daerah) tidak akan mubasir. Selain itu  memberi kepastian  sektor swasta dan Non Goverment Organization (NGO) untuk berinvestasi.

Terakhir pengembangan desa wisata lainnya diharap dapat  berbasis peta jalan yang  akan mempertimbangkan program nasional seperti green dan blue economy.

Apalagi fokus Pemerintah pada saat ini antara lain mendorong kemandirian desa  dengan memanfaatkan potensi sumber daya desa.(***)

 

*) Penulis adalah Tim TP4-Sulteng.

Editor : Muchsin Siradjudin
LUKPANENTENG Wisata dunia Kabupaten Banggai Kepulauan sulawesi tengah