Perbaikan Daya Saing Industri Budidaya Strategi Menangkal Impor Udang

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:03 WIB
DIALOG: Dialog terbatas dihadiri ketua SCI Prof. Andi Tamsil, Hasanuddin Atjo dan Muh. Saenong dari SCI Sulsel, akademisi Prof. Zainuddin, serta pelaku usaha Syahrun dan R. Rhamzani.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
DIALOG: Dialog terbatas dihadiri ketua SCI Prof. Andi Tamsil, Hasanuddin Atjo dan Muh. Saenong dari SCI Sulsel, akademisi Prof. Zainuddin, serta pelaku usaha Syahrun dan R. Rhamzani.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Perlu Peta Jalan dan Role Model Terukur

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

LEMAHNYA daya saing industri budidaya udang ditengarai jadi penyebab  utama udang asal Ekuador bisa menembus pasar Indonesia, yang notabenenya memiliki areal tambak seluas 303 ribu ha dan tumpuan hidup hampir 1 milyar tenaga kerja 

Masuknya udang Vaname asal Ekuador (Juni  2026) sebesar 120 ton terus menjadi perhatian  dan dipantau sejumlah pihak.

Mulai pembudidaya (on-farm), pelaku usaha penunjang (off-farm hulu) hingga bakul dan pedagang udang besar.

Baca Juga: Ekspor Sulteng Didorong Naik Kelas, Kakao hingga Udang Dibidik Pasar Global
 
Kekuatiran tersebut itu antara lain,  bahwa importasi itu bisa saja terus berlanjut, kemudian membesar. Kekuatiran tersebut berasalan oleh karena  regulasi kawasan berikat dan kawasan ekonomi lainnya menunjang. Dan telah  ada indikasi ke arah itu.

Apabila situasi seperti ini terus berlanjut, dan strategi bangun daya saing industri budidaya "tidak bergerak" sebagaimana yang semestinya,  dikuatirkan akan  berdampak tutupnya sejumlah usaha hulu (tambak udang industri penunjang) yang tidak mampu bersaing.

Harga Pokok Produksi (HPP) yang tinggi menjadi penyebab utama  udang asal Indonesia sulit bersaing di Pasar Global. HPP memproduksi udang di Indonesia antara $US 3,5 - 4 0 per kg. Lebih mahal dari India dan Ekusdor  sebesar $US. 1,0 - 1,5 per kg.

Baca Juga: Isu Impor Udang,  Alarm Kuat Daya Saing Industri Udang Nasional

Berkaitan dengan kekuatiran itu, Senin malam (8/9/2026) bertempat di Restoran Bandar Tuna Makassar, jalan Tentara Pelajar Makassar, dilaksanakan dialog terbatas pengurus inti SCI (pusat - daerah), pelaku usaha dan akademisi.

Hadir dalam dialog terbatas itu Prof. Andi Tamsil (ketua umum SCI-Pusat), Hasanuddin Atjo dan Muh. Saenong (SCI-Sulsel), Prof. Zainuddin L. (Akademisi) serta Syahrun dan R.Rhamzani (Pelaku usaha).

Mengemuka dalam dialog itu antara lain,  Pertama, pemerintah harus memperketat mekanisme impor agar tidak mencederai industri on-farm (tambak) dan off-farm hulu (industri prnunjang) dalam Negeri. Koordinasi tethadap lahirnya izin impor perlu dikaji mendalam secara terintegrasi.

Baca Juga: Kenapa Antibiotik Tetap Dipakai, Meski Zero Residu Jadi Syarat,  Ancam Keberlanjutan Industri Udang

Pengawasan terhadap peluang masuknya penyakit udang dan keamanan pangan menjadi hal krusial yang perlu mendapat perlakuan ekstra. Selain hal itu kebocoran (rembesan) udang impor mengisi pasar dalam Negeri juga dipandang rawan terjadi.

Kedua, Perlu kerja Kolaborasi antara Pemerintah, asosiasi, pelaku usaha , pemerhati dan stakeholder lain membedah masalah industrialisasi udang (off-farm hulu, on-farm dan off-farm hikir) dan mencari solusi.

Apalagi saat ini Jepang, salah satu Negara  tujuan ekspor potensial telah melirik udang yang diproduksi India  karena  harganya lebih murah. Bahkan mereka telah membangun. Perwakilan di India. 

Baca Juga: Mendorong Daya Saing Industri Udang Melalui Harmonisasi Kewenangan, Equador Bisa Dicontoh

Tiga komponen industrialisasi ini mesti didorong, dibesarkan secara bersama sama dan tidak saling mematikan. Terkait dengan hal itu dalam waktu tidak terlalu lama, diagendakan dilaksanakan satu lokakarya. 

Ketiga, Sangat strategis dibuat peta jalan (roadmap) dan role model strategi peningkatan daya saing industri budidaya udang pada beberapa sentra produksi udang di Indonesia. 

Setidaknya dua peta jalan dan role model yang mesti dibuat, yaitu tambak tradisional dan semi intensif (total areal 97 persen) dari 303.000 ha dan tambak intensif dan  supra intensif (3 persen).

Baca Juga: Rekayasa Genetik "Menembus Batas", Vaname Mendominasi Pasar Udang Global, Indonesia Diharap Lebih Berperan

Meskipun teknologi intensif dan Supra intensif luas areal sangat kecil, namun kontribusi ekspor udang Indinesia pada tahun  2025 sebanyak  (200 ribu ton), 80 persen berasal dari kelompok ini. 

Sejumlah orang berpendapat bahwa  lokakarya membangun daya saing dari industrialisasi udang Nasional mrnjadi sangat strategis. Dan dtindaklanjuti dengan penyusunan Peta jalan dan role model Terukur.(***)

*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Nasional, Pengamat Ekonomi dan Pembangunan.

Editor : Muchsin Siradjudin
Daya saing industri impor udang vaname