Oleh: Dafrosia Darmi Manggasa, S.Kep., Ns., M.Biomed
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Di tengah berbagai kemajuan pembangunan kesehatan, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tetap menjadi ancaman serius karena tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia bahkan masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TB terbanyak setelah India. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa TB bukan sekadar persoalan medis, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga keluarga dan masyarakat.
Situasi tersebut juga tercermin di Provinsi Sulawesi Tengah. Data tahun 2025 menunjukkan terdapat 8.418 kasus TB yang berhasil ditemukan dan diobati. Di Kabupaten Poso, capaian penemuan kasus bahkan melampaui target. Dari estimasi 663 kasus TB, berhasil ditemukan 720 kasus atau mencapai 109 persen.
Capaian ini menunjukkan semakin baiknya upaya deteksi kasus yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Namun, tingginya jumlah kasus yang ditemukan juga mengindikasikan bahwa tuberkulosis masih menjadi persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius dan pengendalian secara berkelanjutan.
Selain TB sensitif obat, tantangan lain yang semakin mengkhawatirkan adalah Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO). Kondisi ini terjadi ketika kuman TB tidak lagi merespons obat antituberkulosis standar, umumnya akibat pengobatan yang tidak teratur atau tidak tuntas. TB RO memerlukan perhatian khusus karena pengobatannya lebih lama, lebih kompleks, dan membutuhkan biaya yang lebih besar.
Keberadaan kasus TB RO menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengendalian tuberkulosis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan kasus baru, tetapi juga oleh keberhasilan memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas guna mencegah munculnya resistensi obat.
TB merupakan penyakit menular dengan potensi penyebaran yang sangat tinggi. Penularan terjadi melalui percikan droplet yang keluar saat penderita TB aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah. Dalam lingkungan rumah yang padat dan memiliki ventilasi buruk, risiko penularan menjadi semakin besar.
Tidak mengherankan jika satu penderita TB yang tidak terdeteksi dan tidak menjalani pengobatan secara tepat dapat menularkan penyakit kepada banyak orang di sekitarnya. Tingginya angka kasus TB tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan. Penyakit ini juga menimbulkan beban ekonomi, sosial, dan psikologis yang tidak kecil bagi individu maupun keluarga.
Dari sisi ekonomi, penderita sering mengalami penurunan produktivitas akibat kondisi fisik yang melemah dan proses pengobatan yang berlangsung dalam waktu lama. Tidak sedikit keluarga yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi, pemenuhan kebutuhan gizi, hingga kehilangan pendapatan karena anggota keluarga tidak mampu bekerja secara optimal.
Dari aspek sosial, penderita TB masih sering menghadapi stigma dan diskriminasi di lingkungan masyarakat. Kesalahpahaman mengenai penyakit ini menyebabkan sebagian penderita memilih menyembunyikan kondisi kesehatannya karena takut dikucilkan.
Akibatnya, proses pemeriksaan dan pengobatan menjadi terlambat sehingga risiko penularan semakin meningkat. Sementara itu, dari sisi psikologis, diagnosis TB dapat menimbulkan kecemasan, rasa malu, stres, bahkan perasaan putus asa.
Pengobatan yang harus dijalani selama berbulan-bulan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi penderita dan keluarganya. Kondisi ini menunjukkan bahwa TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan sosial dan kesehatan mental masyarakat.
Menghadapi kompleksitas permasalahan tersebut, pengendalian TB tidak cukup hanya berfokus pada layanan kesehatan dan pengobatan. Diperlukan pendekatan yang menempatkan keluarga sebagai garda terdepan dalam pencegahan penyakit. Dalam konteks inilah konsep tugas kesehatan keluarga menjadi sangat relevan.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku kesehatan anggotanya. Melalui keluarga, kebiasaan hidup sehat dibentuk, keputusan kesehatan diambil, dan dukungan terhadap anggota keluarga yang sakit diberikan. Oleh karena itu, keberhasilan pencegahan TB sangat ditentukan oleh sejauh mana keluarga mampu menjalankan fungsi kesehatannya secara optimal.
Dalam keperawatan keluarga dikenal lima tugas kesehatan keluarga, yaitu mengenali masalah kesehatan, mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan, merawat anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan agar mendukung kesehatan, dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
Kelima tugas tersebut menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian tuberkulosis. Kemampuan keluarga mengenali masalah kesehatan akan membantu menemukan gejala TB sejak dini. Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, dan keringat malam sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi tanda awal tuberkulosis yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah mengenali masalah kesehatan, keluarga perlu mampu mengambil keputusan yang tepat. Keputusan untuk segera memeriksakan anggota keluarga ke fasilitas kesehatan dapat mempercepat diagnosis dan pengobatan. Semakin cepat penderita mendapatkan pengobatan, semakin kecil risiko penularan kepada anggota keluarga lainnya.
Tugas kesehatan keluarga berikutnya adalah merawat anggota keluarga yang sakit. Dalam kasus TB, dukungan keluarga memegang peranan yang sangat penting. Pengobatan TB memerlukan kedisiplinan tinggi karena harus dijalani secara teratur selama beberapa bulan.
Kehadiran keluarga sebagai pemberi dukungan moral dan pengawas minum obat terbukti berkontribusi terhadap keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya putus obat yang berpotensi menimbulkan resistensi. Selain itu, keluarga juga harus mampu memodifikasi lingkungan rumah agar lebih sehat.
Rumah yang memiliki ventilasi memadai, pencahayaan yang cukup, serta kebersihan lingkungan yang terjaga akan membantu mengurangi risiko penyebaran kuman TB. Upaya sederhana seperti membuka jendela setiap pagi dan memastikan sirkulasi udara berjalan baik dapat memberikan manfaat besar dalam pencegahan penyakit.
Tidak kalah penting, keluarga harus memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Puskesmas dan jejaring layanan kesehatan telah menyediakan berbagai layanan deteksi, pengobatan, dan pemantauan tuberkulosis. Namun, layanan tersebut hanya akan efektif apabila masyarakat memiliki kesadaran dan kemauan untuk mengaksesnya secara tepat dan berkelanjutan.
Pengalaman kami dalam melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Tagolu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso menunjukkan bahwa pemberdayaan keluarga yang didukung oleh kader kesehatan merupakan pendekatan yang efektif dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pencegahan TB.
Melalui pelatihan kader kesehatan dan kunjungan rumah, masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memperoleh pendampingan dalam menerapkan perilaku pencegahan tuberkulosis di lingkungan keluarga. Dalam kegiatan tersebut, kami melihat bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kemauan yang kuat untuk menjaga kesehatan keluarganya.
Yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan, pendampingan, serta penguatan kapasitas agar keluarga mampu menjalankan tugas kesehatannya secara mandiri. Kader kesehatan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di masyarakat. Mereka menjadi penghubung antara tenaga kesehatan dan warga, sekaligus berperan dalam menyampaikan edukasi, melakukan pemantauan, dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia. Ketika kader kesehatan dan keluarga bekerja bersama, upaya pencegahan TB akan lebih mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat.
Karena itu, pemberdayaan berbasis tugas kesehatan keluarga pada hakikatnya merupakan investasi sosial jangka panjang. Program ini tidak hanya bertujuan menurunkan risiko penularan TB, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih mandiri, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan.
Ke depan, pengendalian tuberkulosis harus semakin mengedepankan pendekatan promotif dan preventif yang berbasis masyarakat. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat perlu memperkuat kolaborasi agar upaya pencegahan TB tidak berhenti pada kegiatan sesaat, melainkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian tuberkulosis tidak hanya diukur dari banyaknya pasien yang berhasil diobati, tetapi juga dari semakin banyaknya keluarga yang mampu mencegah penularan dan menjaga kesehatan anggotanya secara mandiri. Investasi terbaik dalam pencegahan tuberkulosis bukan hanya pada obat, fasilitas kesehatan, atau teknologi medis, melainkan pada keluarga yang berpengetahuan, peduli, dan berdaya.
Ketika keluarga mampu menjalankan tugas kesehatannya dengan baik, masyarakat akan menjadi lebih sehat, produktif, dan tangguh. Dari keluarga yang berdaya akan lahir komunitas yang kuat, dan dari komunitas yang kuat akan terbangun masa depan Indonesia yang lebih sehat.***
Penulis adalah Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palu
Editor : Mugni Supardi