Oleh; Tutang Muhtar Kamaludin dan Salihudin M. Awal
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalāid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda) dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya.
Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka kamu boleh berburu. Jangan sampai kebencian (mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka).
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya (QS 5: 2)
Universitas Tadulako memasuki usia ke-45 tahun dan hari ini bertepatan dengan wisuda ke 137. Dalam perjalanan sebuah perguruan tinggi, usia ini menandai kematangan. Empat puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat.
Di dalamnya tersimpan sejarah perjuangan, pertumbuhan kelembagaan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta ribuan kisah mahasiswa dan alumni yang pernah menjadikan kampus ini sebagai rumah pembelajaran.
Potret Untad hari ini memperlihatkan sebuah universitas yang telah tumbuh besar. Profil resmi Universitas Tadulako mencantumkan 50.974 mahasiswa, 11 fakultas dan satu program pascasarjana. Program pendidikannya terdiri atas dua program D3, empat D4, 59 S1, 23 S2, tujuh S3, dan lima program profesi. Jumlahnya mencapai 100 program studi.
Sementara itu, situs web Untad menyebutkan ada 102 program studi dan 1.535 dosen yang meliputi dosen PNS, PPPK, dan BLU. Perbedaan kecil antarlaman resmi itu kemungkinan berkaitan dengan waktu pembaruan data. Karena itu, gambaran amannya adalah Untad kini menaungi sekitar 100 program studi, lebih dari 50 ribu mahasiswa, dan sekitar 1.500 dosen.
Pada sisi kualitas sumber daya manusia, data terperinci terakhir dalam Rencana Strategis Untad 2025-2029 mencatat bahwa pada 2024 terdapat 568 dosen berkualifikasi S3 atau doktor. Renstra tersebut menargetkan jumlah dosen tetap berkualifikasi S3 mencapai 617 orang pada 2026. Hingga April 2026, Untad telah memiliki 134 guru besar aktif, meningkat tajam dibandingkan awal 2023 yang baru berjumlah 54 orang. Secara kelembagaan, Untad juga telah memperoleh peringkat "Akreditasi Unggul" yang berlaku hingga 27 Februari 2029.
Bagaimana dengan jumlah alumni? Angka mutakhir secara kumulatif belum dipublikasikan secara terbuka. Namun, pada Wisuda ke-80 tahun 2015, Untad mencatat telah memiliki 50.032 alumni. Sejak Wisuda ke-81 sampai ke-136 telah berlangsung 56 periode wisuda.
Dengan kisaran sekitar 1.100-1.500 lulusan per periode - Wisuda ke-135 meluluskan 1.372 orang dan Wisuda ke-136 meluluskan 1.272 orang , dan Wisuda ke-137 meluluskan 1.300 orang, jumlah alumni Untad hingga 2026 secara wajar dapat diperkirakan telah mencapai sekitar 120 ribu sampai 125 ribu orang. Angka ini merupakan estimasi, bukan angka administratif resmi, sehingga masih perlu dikonfirmasi melalui basis data alumni yang terintegrasi.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Untad bukan lagi sebuah komunitas kecil, tetapi telah menjadi ekosistem sosial dan intelektual yang besar. Semakin besar sebuah universitas, semakin besar pula tantangan untuk menjaganya tetap berada dalam satu arah.
Gedung, akreditasi, teknologi, dan jumlah profesor memang penting, tetapi semuanya memerlukan perekat bernama kebersamaan. Dalam kajian sosial, kebersamaan merupakan bagian dari modal sosial. Robert Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan, jaringan, dan norma kerja sama memungkinkan suatu komunitas mencapai tujuan bersama secara lebih efektif.
Di lingkungan kampus, modal sosial tumbuh ketika dosen bersedia bekerja lintas disiplin, tenaga kependidikan melayani dengan baik, mahasiswa saling menghargai, pimpinan membuka ruang dialog, dan alumni ikut memikirkan masa depan almamater
Ruang Kebersamaan dan pemikirin terbuka secara akademik sudah mulai digagas oleh rektor Universitas Tadulako (Untad) di Palu bermula dari masa perguruan tinggi swasta pada tahun 1963 di bawah kepemimpinan rektor pertama Drh. Nasri Gayur, hingga era negeri sejak 1981 yang dipimpin secara berturut-turut oleh Prof. Mattulada, Prof. Musji Amal Pagiling, Prof. Aminuddin Ponulele, Moh. Abd. Rasyid, Sahabuddin Mustapa, Prof. Muhammad Basir Cyio, Prof. Mahfudz, dan Prof .Amar.
Dalam ulasan Zulkifli Pagesa sebagai budayawan meyampaikan Universitas yang menyandang nama Tadulako, nama yang lekat dengan heroisme, keberanian, kecerdasan kinetik dan superioritas memang akhirnya hanya sekedar nama, kritik tajam dari elemen masyarakat ini harusnya menjadi cambuk untuk civitas kaum terpelajar.
Transformasi digital ke-Tadulako-an yg digagas oleh Prof. Amar adalah kerja cerdas yang penuh tantangan ditengah ketidaksiapan SDM dan Infrastruktur. Prof. Matulada telah meletakkan dasar antropologis yang kuat. Prof. Musyi Amal telah membangun narasi filosofi akademik yang canggih.
Prof. Aminuddin mengukuhkan lokalitas leadership, Sahabuddin Mustafa sebagai pengembang kerjasama internasional serta Prof. Basyir Cyio sebagai penata kawasan kampus sehingga kampus layak sebagai tempat pengembangan tri darma perguruan tinggi.
Yang membanggakan dan tantangan besar diemban oleh Prof. Amar adalah membawa Universitas Tadulako bertransformasi menjadi institusi pendidikan tinggi yang modern berbasis digital
Kebersamaan tentu tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Universitas justru hidup melalui pertanyaan, kritik, perdebatan, dan pengujian gagasan. Namun, perbedaan harus dikelola dengan etika akademik.
Kritik disampaikan berdasarkan data, bukan prasangka. Pimpinan tidak alergi terhadap kritik, sedangkan pihak yang mengkritik tetap menghormati martabat orang lain. Kebersamaan bukanlah keseragaman, melainkan kedewasaan dalam merawat perbedaan.
Teori kebersamaan atau yang dikenal dalam psikologi sebagai rasa kebersamaan (sense of community) dicetuskan oleh McMillan dan David Chavis Teori ini menjelaskan bahwa kebersamaan adalah perasaan menjadi bagian dari kelompok di mana anggota memiliki ikatan emosional, saling mendukung, dan merasa kebutuhan mereka terpenuhi.
Empat Elemen Utama Rasa Kebersamaan Menurut McMillan dan Chavis, kebersamaan dibangun atas empat elemen penting:Keanggotaan: Rasa memiliki batasan yang jelas, keamanan emosional, dan hak untuk menjadi bagian dari kelompok.Pengaruh: Hubungan timbal balik di mana anggota merasa bisa memengaruhi kelompok, dan sebaliknya kelompok memengaruhi anggota.
Integrasi dan Pemenuhan Kebutuhan: Keyakinan bahwa kebutuhan anggota akan terpenuhi melalui penghargaan atau keuntungan dari partisipasi dalam kelompok.Koneksi Emosional Bersama: Ikatan yang terjalin melalui sejarah, pengalaman bersama, dan waktu yang dihabiskan bersama kelompok.
Semangat itu sejalan dengan tema Dies Natalis ke-45, yaitu “KITA UNTAD”: Kolaboratif, Inovatif, Transformatif, dan Adaptif. “Kita” berarti bukan hanya fakultas saya, kelompok saya, atau kepentingan saya. “Kita” mencakup dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, petugas kebersihan, satuan pengamanan, alumni, serta masyarakat yang telah ikut membesarkan Untad.
Humaidi sebagai salah satu nahkoda dalam kegiatan Dies Natalis ke 45 Universitas Tadulako menyampaikan, KITA memiliki hakikat gabungan indvidu yang secara ontologis merupakan wujud nyata adanya kebersamaan.
KITA secara epistemologi didapatkan dari adanya interaksi dari suatu pengalaman empiris dan sosial. Kata ini menegaskan identitas yang muncul dari hubungan yang kuat yang telah terjalin 45 tahun lamanya. KITA, mengandung makna inklusif dari rasa kebersamaan, gotong royong dan solidaritas. Sehingga, dalam aspek aksiologis kata KITA mampu menumbuhkan rasa memiliki, meredam ego serta mengikis perbedaan.
KITA Untad merupakan akronim Kolaborasi, Inovasi, Transformasi dan Adaptif Untad. Kata ini mengandung semangat kebersamaan untuk membangun Untad melalui: Kolaborasi dan sinergitas lintas sektor melalui kerja nyata dan kolektif; Inovasi melalui karya kreatif dan pemanfaatan teknologi; Transformasi menuju perubahan yang lebih baik dan berkelanjutan; serta Adaptif terhadap berbagai perubahan.
KITA Untad menegaskan bahwa Untad yang maju dan berdampak bukan merupakan tugas individu, namun tugas bersama, tugas KITA.
Siapa KITA? KITA Untad
Arti kebersamaan adalah merasa menyadari, merasa peduli, dan berkomitmen untuk saling membantu serta menghabiskan waktu bersama orang lain. Ini bukan hanya sekadar berkumpul atau bekerja sama biasa, melainkan didasari oleh rasa tulus dan kekeluargaan yang dalam Rumah Tadulako.
Kebersamaan bukan sekadar berbagi waktu, tetapi juga saling menguatkan, mendukung, dan menginspirasi. Setiap interaksi mengajarkan kita arti empati, gotong royong, dan kepedulian yang membuat hidup lebih bermakna.
Kebersamaan dapat diwujudkan melalui penelitian lintas disiplin untuk menjawab persoalan Sulawesi Tengah: kemiskinan, stunting, kebencanaan, pertanian, perikanan, lingkungan, hilirisasi nikel, dan ketimpangan kesejahteraan.
Alumni juga dapat berperan melalui beasiswa, pendampingan karier, kesempatan magang, dukungan penelitian, serta jejaring pengabdian.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat serba digital, terjebak dalam rutinitas sehari-hari sering kali membuat kita lupa betapa pentingnya waktu bersama orang-orang terdekat.
Agama harus jadi landasan utama sebagai pedoman hidup, menekankan betapa pentingnya memupuk hubungan yang baik antar sesama sebagai dasar utama dalam membentuk masyarakat yang kuat dan damai.
Tidak ada larangan orang untuk berpendapat, sebagai kaum terpelajar dengan fikiran yang energik dan dibaca narasi yang gurih dan renyah harusnya membawa energi spirit kebersamaan bukan menjadi ladang empuk perpecahan.
Hidup di era digital memberikan kita banyak akses informasi dan kemudahan berkomunikasi, kaum terpelajar bisa beropini di ruang mana saja secara terbuka, tetapi pada akhirnya bisa membuat kita merasa sendirian meskipun berada di tengah orang banyak. Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan gadget dan layar, Agama memberikan tugas untuk membawa kehangatan bersama dalam rutinitas kita.
Membangun kebersamaan di Universitas Tadulako adalah tentang membuka pintu hati dan melibatkan diri dengan tulus. Jangan hanya berkunjung ke pintu kepentingan, tetapi juga pintu hati.
Agama manapun mengajarkan bahwa dalam kebersamaan yang dibangun dengan cinta dan keikhlasan, terbentuklah komunitas yang kuat dan harmonis. Ayo, mari membangun Universitas Tadulako dengan senyum, mari kita berlomba dengan narasi penelitian dan pengabdian, mari kita berlomba bekarya dengan nama baik almamater
Dalam Al-Qur'an sebagai pembuka tulisan diawal, kebersamaan dimaknai sebagai ikatan persaudaraan, persatuan, dan tolong-menolong dalam kebajikan (ta'awun). Konsep ini tercermin dalam perintah berpegang teguh pada agama Allah secara bersama-sama tanpa terpecah belah, apapun jabatan fungsional kita, apapun tinggi jabatan struktural kita, apapun tinggi gelar akademik kita hanya senyum kebersamaan yang akan terukir dalam hati kita.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa jauh kita melangkah sendiri, tetapi seberapa erat kita melangkah bersama.
"Coming together is a beginning; keeping together is progress, working together is success." – Henry Ford (Bersatu adalah awal, menjaga kebersamaan adalah kemajuan, bekerja bersama adalah kesuksesan)
Pada usia ke-45, Untad tidak harus menunggu kado besar. Kado itu dapat dimulai dengan saling menyapa, mendengarkan, menghentikan prasangka, membantu mahasiswa yang kesulitan, menghargai prestasi unit lain, dan membuka ruang kerja sama. Percayalah Tuhan sudah mengatur posisi duduk, berdiri dan berbaring kita. (*)
Penulis : Pengurus Majelis Wilayah KAHMI Sulawsi Tengah dan Alumni Universitas Tadulako
Editor : Talib