Oleh: Dedi Askary *)
ADA satu momen yang selalu menegangkan sekaligus indah dalam olahraga lempar bilah dan kapak: detik ketika logam meninggalkan genggaman, berputar di udara, lalu menghunjam tepat di sasaran.
Momen itu menjadi metafora perjalanan Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia (PABKI) hari ini — organisasi yang tengah bertransformasi dari komunitas hobi menjadi federasi olahraga yang terstruktur, diakui, dan dihormati.
Seperti sebuah lemparan yang sempurna, keberhasilan itu ditentukan oleh persiapan. PABKI, kata Dedi, hanya akan menjadi besar jika dibangun di atas tiga pilar utama: tata kelola yang modern, citra publik yang dipercaya, dan keanggotaan yang berkualitas.
Tata kelola jadi fondasi utama.
PABKI di semua tingkatan, dari pusat hingga pengurus kabupaten/kota, didorong memiliki legalitas yang jelas — akta pendirian, AD/ART yang hidup, serta afiliasi resmi ke KONI. Tanpa itu, organisasi berisiko terjebak sebagai "komunitas hobi" yang sulit mendapat dukungan anggaran maupun kepercayaan sponsor. Digitalisasi administrasi dan sistem kepemimpinan yang terukur — bukan sekadar bertumpu pada figur karismatik — juga disebut sebagai kunci keberlanjutan organisasi.
Mengubah citra "olahraga berbahaya" jadi "olahraga presisi."
Lempar bilah dan kapak kerap dipandang identik dengan kekerasan, padahal esensinya adalah fokus mental dan pengendalian diri, setara panahan atau menembak target. PABKI didorong membangun narasi publik yang aktif lewat dokumentasi profesional, konten edukatif di media sosial, protokol keselamatan yang ketat, serta kemitraan dengan sekolah dan pemerintah daerah untuk memperluas basis anggota sekaligus legitimasi sosial.
Keanggotaan yang terpimpin, bukan sekadar ramai.
Rekrutmen yang selektif, jenjang pembinaan dari pemula hingga pelatih/wasit bersertifikat, serta koordinasi struktural antara pengurus kabupaten/kota — seperti Parigi Moutong — dengan tingkat provinsi dan pusat, dinilai penting agar arah pembinaan dan standar kompetisi tetap satu suara.
Tantangan nyata pun diakui: pendanaan yang belum mandiri, regenerasi kepengurusan yang belum terencana, standar keselamatan yang belum seragam, hingga proses panjang menuju pengakuan resmi sebagai cabang olahraga nasional.
"Sebagaimana sebuah lemparan bilah yang sempurna adalah hasil dari latihan ribuan kali, organisasi yang kuat pun lahir dari proses yang sama: konsisten, disiplin, dan berani mengevaluasi diri secara jujur," tulis Dedi.
Ia optimistis, jika proses ini dijalankan sungguh-sungguh dari tingkat Pengkab seperti Parigi Moutong hingga struktur pusat, olahraga lempar bilah dan kapak berpotensi menempati posisi terhormat di panggung olahraga nasional — dicintai bukan karena sensasinya, melainkan karena nilai disiplin, presisi, dan sportivitas yang diajarkannya.(***)
*) Penulis adalah Ketua Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Parigi Moutong-Dewan Pembina Pengurus Pusat PABKI.
Editor : Muchsin Siradjudin