Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kesejahteraan Petani - Nelayan  Wilayah Timur Masih Tertinggal, Produktiftas, Rantai Pasok dan Nilai  Mesti Diperkuat

Muchsin Siradjudin • Minggu, 5 Juli 2026 | 09:09 WIB
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

JUMLAH Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) berdasarkan sensus Pertanian tahun 2023 (dirilis BPS) sebanyak 27.368.114 rumah tangga. Sekitar 75 - 80 persen RTUP tersebut berada di wilayah Barat.

Senentara itu Rumlah Tangga  Usaha Perikanan  (termasuk pembudidaya ikan) sebesar 2,1 hingga 2,5  juta rumah tangga, dan 65 - 70 persen berada di wilayah Timur. Fluktuasi angka ini karena  adanya Nelayan musiman.

Apabila dikonversi ke jumlah jiwa  maka total penduduk Indonesia yang bergantung pada kedua subsektor ini diperkirakan dapat mencapai 120 juta jiwa. Sekitar 41,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Baca Juga: Rembuk Tani di Palu, Zulhas Sebut Pasokan Pupuk Indonesia Lebih dari Cukup

Merupakan potensi yang sangat menjanjikan, namun sekaligus  sebagai tantangan mewujudkan Indonesia Emas tahun  2045. Perlu kesiapan tatakelola agar Pendapatan per kapita  minimal  US$ 23.000 dapat dicapai  (naik dari $US 5.500  tahun 2025).

Nilai Tukar Petani (NTP) maupun Nilai Tukar Nelayan (MTN) salah satu indikator  menggambarkan daya beli atau kesejahteraan Petani  dan  Nelayan Indonesia di Perdesaan. 

Secara sederhana formula untuk mengukur nilai tukar itu adalah rasio indeks yang diterima oleh Petani atau  Nelayan (it) dengan indeks yang dibayarkan (ib). Idealnya (it) bisa ditingkatkan dan (ib) dapat ditekan.

Baca Juga: Bapenda Sulteng Kantongi Pajak Daerah Rp922 Miliar, BBM Jadi Penyumbang Terbesar

Semester satu  tahun 2026, nilai tukar petani- nelayan terutama di wilayah Timur tergolong masih rendah. Kondisi ini antara lain disebabkan tingkat produktifitas rendah, rantai pasok panjang serta rantai nilai yang lemah. 

Nilai tukar gabungan (NTP dan NTN)  di wilayah Barat berada   Pada kisaran 126,50 - 129,90. Nilai ini lebih baik dibandingkan dengan wilayah Timur, berada pada  kisaran  114,10 - 121,80.

Khusus NTP Tanaman Pangan di wilayah Barat  pada angka  118 - 122 dan di wilayah Timur 104 - 108. Sementara NTP Hortikultura di wilayah Barat berada di atas 130., dan wilayah Timur  berada dikisaran yabg berfluktuatif 110 - 115 .

Baca Juga: Morowali, Palu, dan Donggala Jadi Tiga Besar Penyumbang Pajak Alat Berat

NTN (khusus perikanan tangkap) di wilayah Barat cenderung stabil pada angka 104 - 106, dan di wilayah Timur berada pada angka  lebih rendah 99 - 102. Padahal wilayah Timur sebagai lumbung ikan nasional.

Sebagai gambaran bahwa NTP gabungan  (Tanaman Pangan, Hortikultura., Peternakan dan Perkebunan rakyat) di Sulawesi Tengah pada smester satu 2026 berada pada kisaran 94,10 - 101, 30. Tanaman Pangan pada nilai  terendah yaitu 90,64 - 91,29.

Sementara  itu NTN (Perikanan Tangkap) relatif lebih stabil dan berada pada kisaran 101,42 - 101,82. Sedangkan Perikanan Budidaya antara 103 - 107 yang ditopang olrh berkembangnya  budidaya Perikanan air payau.

Baca Juga: OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Lewat Regulasi Adaptif

Meningkatnya harga BBM non-subsidi, tarif tol darat dan laut serta "waiting time" memperoleh 
BBM subsidi  pada tahun 2026 menyebabkan ongkos  logistik di wilayah Timur meningkat tajam  sebesar 20 - 27 persen.  

Sementara itu, di wilayah Barat relatif stabil  8,5- 8,9 persen terhadap nilai barang yang alan diangkut. Kualitas konektifitas, diltambah ketersedian armada  angkutan  menjadi salah satu pembeda.

Selain itu rasio volume barang yang  diangkut  tidak berimbang. Pada saat  kapal  akan kembali  ke wilayah  Barat, hanya terisi 20 - 30 persen dari kapasitas muat, sehingga ongkos logistik lebih mahal.

Baca Juga: Studi SSI Ungkap Citra Prabowo di Media Sosial, Komunikasi Pemerintah Dinilai Masih Terpusat

Karakter Negara yang berbasis Kepulauan dan dominan berada di wilayah Timur  memberi andil terhadap panjangnya rantai pasok pada input produksi dan pemasaran hasil produksi yang dominan dipasarkan  ke  wilayah Barat.

Peningkatan produktifitas, dan memperpendek rantai pasok serta memperkuat rantai nilai menjadi kebutuhan, mengejar ketertinggalan kesejahteraan Petani dan Nelayan wilayah Timur. 

Membagi habis wilayah Timur jadi beberapa cluster ekonomi dalam peningkatan daya saing dan efisiensi tentunya menjadi strategis.  Dukungan regulasi dan mendorong  investasi pada sektor Agromaritim di wilayah Timur sangat diperlukan.

Baca Juga: Belarus Siap Dukung Ketahanan Pangan Indonesia Lewat Transfer Teknologi dan Modernisasi Pertanian

Wilayah Barat  diperhadapkan pada  persoalan  keberadaan petani gurem  (lahan usaha tani kurang dari 0-5 ha). Kelompok ini  berjumlah (65 persen terhadap  27 juta RTUP;), tentu  memerlukan skenario  tersendiri.

Meningkatkan kesejahteraan Petani dan Nelayan wilayah Barat dan Timur secara bersama - sama merupakan salah satu strategi meraih kesejahteraan sebagaimana target Indonesia Emas  tahun 2045.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Produktifitas #Kesejahteraan petani #Indonesia #Wilayah timur Indonesia