Oleh: Nirwan, S.Pd *)
BANGSA yang tidak sanggup merumuskan Ideologi Nasional, tidak mampu merumuskan dasar-dasar geopolitik dan geostrategic/Poltranas, apalagi tidak mampu menjabarkannya dalam tataran kebijakan tekis-operasional dari “atas kebawah” dan sebaliknya. Bangsa yang demikian itu lambat atau cepat “soonen or later” akan disapu bersih oleh taupan sejarah dunia ini.
Bangsa yang demikian itu akan lenyap dan di hempas oleh ombak-ganasnya pergerakan sejarah umat manusia, tidak peduli bangsa apapun juga, tidak peduli setinggi apapun juga peradaban yang dimilikinya, tidak peduli dipagari sejuta serdadu ditambah seribu setan dan seribu dukun, tidak juga oleh seribu dewa dari kayangan.
Demikian pula NKRI yang kita cintai dan banggakan ini mau atau tidak mau, kalau terus menerus tidak sungguh-sungguh memahami dan menerapkan ideologi Nasional, tidak merumuskan Geopolitik dan Geostrategi tidak mempunyai Poltranas, maka kitapun akan digiling-di gilas oleh roda perkembangan sejarah mondial di masa ini dan utamanya maka akan datang tidak satupun negara-negara yang lahir sepanjang abad ke-20 yang hanya mengandalkan “kemanisan budi pekerti” dalam tata pergaulan Internasional. Semuanya lahir dari “Moncong sejarah” baik senjata Ideologis maupun Ideologi Nasional, dan kita tidak memiliki itu, ya, pancasila yang telah ditulis dan amalkan selama ini.
Pancasila itu seperti yang di tulis dalam kitab-kitab standar adalah Ideologi yang di gali dari “Bumi” kebudayaan kita dan juga dihikmahi-di ilhami oleh ide-ide besar dunia yang mengendalikan sejarah dunia. Bahkan menurut Bung Karno menyebutkan sebagai “Opstrecking” atau “Sublimasi” dari “Declaration of Independence AS.
Dan Manifesto Communisif Russia. Jelasnya kalau kita cermati sejarah kebangkitan bangsa-bangsa di dunia ke 3 sepanjang abad ke-20 ide-ide besar yang menggerakkan sejarah itu adalah Nationalsme-Patrionisme, demokrasi dan sosialisme.
Dus, betapa tinggi dan mahalnya ideologi Pancasila itu dalam perspektif membangun ideology besar dunia. Tapi betapa rendahnya dan murahnya perlakuan pancasila terhadap “barang” yang luhur seperti itu. Pancasila itu “ditelan mentah-mentah” tanpa “dicerna” oleh “alat-alat pencernaan” sehingga keluruhan pancasila tidak menyebar-bersinan di sekujur tubuh “Nation” Indonesia ini.
Baca Juga: Lewat Jalur Kebun Kopi? Waspadai Titik Longsor di KM 8
Ambilah contoh sila ke-4 Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dahulu sila ini sering diangkat kurangnya dalam konteks Ideologi dunia, dinamakan “demokrasi” sekali lagi demokrasi.
Perhatikan dengan cermat ! Demokrasi itu sudah di gagas oleh Plato & Aristoteles pemikiran dunia di abad ke 3 sebelum Masehi, dimatangkan oleh sejarah umat manusia dalam segala pasang surutnya selanjutnya dirumuskan kembali pada abad ke 19 oleh J.J Rousseau dan Montesgue dengan “Trias Politicanya”
Ide cemerlang demokrasi selanjutnya mencetuskan Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika, dibela mati-matian oleh umat manusia, sampai meletusnya perang dunia ke 2 (1941-1945) 60 juta nyawa melayang untuk menebus keluhuran demokrasi itu. Demikian “keramatnya” demokrasi itu, tapi perlakuan kita kepada demokrasi itu belakangan ini melahan kontra-produktif dengan makna andalan dari demokrasi “Sanggah atas” tindas-bawah.
Sikut kiri-sikut kanan jadi, bagaimana toh”
Baca Juga: Anwar Hafid Ajak CPM dan Donggi Senoro Bangun Infrastruktur Sulteng Lewat CSR
Ya, Pancasila itu harus di kembalikan lagi pada kursi “kursi kehormatannya” “Mahligai Singgasananya” yang asli sebagai pusat dan sumbu segala ide dan konsepsi nasional. Jangan lagi Pancasila diturunkan martabatnya dan kehormatannya. Hanya menjadi ideology Kelompok, di tafsirkan seenaknya sendiri. Sesuai kehendak kelompok atau golongan sebab selalulah kita ingat sampai liang kubur. Bahwa otoritas tertinggi di Negara ini bukan lembaga dan bukan orang. Bukan DPR, bukan presiden bukan MPR, tetapi adalah ideologi serta konsepsi Nasional, ulangi (K O N S E P S I N A S I O N A L).
Setelah Pancasila itu dikembalikan lagi pada “titik orbitnya” atau letak orbitnya. Sebagai pusat tatasurya politik Nasional barulah kita bicara tentang Geopolitik, Geostrategi dan Poltranas. Bacalah secara cermat sejarah negeri kita bagaimana para pemimpin kita menyusun Poltranas dari masa ke masa.
Menurut hemat saya sampai saat ini (tahun 2023) baru dua (2) kepala Negara yang sanggup menyusun dasar-dasar Geopolitik, Geostrategi dan Poltranas secara gemilang ialah Bungkarno (dan MPRS kala itu) dan Bung Harto (dam MPR/DPR saat itu).
Baca Juga: BRI Luwuk dan Bapenda Banggai Terapkan Sistem Host to Host, Pembayaran Pajak Daerah Kini Real Time
Bung Karno memancangkan “fondasi-beton” poltranas dengan MANIPOL-USDEK nya. Bung Harto memancangkan “fondasi-beton” poltranas dengan GBHN nya. Oleh karena itu pula maka kedua kepada Negeri itulah yang mencatat Prestasi yang gemilang dalam sejarah Nasional kita.
Bahwa keduanya di masa akhir kepemimpinannya dispersalahkan oleh krisis Nasional (tragedi 30 September 1965 dan Reformasi 1998) “Ya” tetapi MANIPOL-USDEK dan GBHN nyata-nyata sanggup menciptakan kekuatan bangsa dan Negara stabilitas politik ekonomi relatif “yang amat tinggi dalam tata kelola kenegaraan dan kebangsaan, tidak saja yang telah teruji dan terbukti dalam negeri tetapi di hampir seluruh bagian belahan bumi manapun.
Tidak saja di era sekarang, ahkan telah di praktekkan ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Sejak zaman mesir kuno Persia kuno, Romawi kuno, Yunani kuno. Namun geopolitik sebagai dasar pertimbangan Poltranas baru mulai disadari dan di rumuskan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan modern nanti pada abad ke 19.
Baca Juga: Terminal Kilo 8 Banggai Terbengkalai, Aset Miliaran Rupiah Berubah Jadi Hunian Pendatang
Tokoh-tokoh termashur dan dijuluki sebagai bapak ilmu geopolitik dunia adalah Fridrick Ratzel (1877), Rindolf Kjellen, dan Karel Haus Hofer. Demikian pula tokoh filsafat eksistensialis Wilhem Nietz (1844-1906), nama pada tokoh tersebut sering disebut dalam pidato Bung Karno tanggal 01 Juni 1945 dalam rapat BPUPKI di Jakarta.
Jelasnya “pamor” dan reputasi para pakar tersebut dalam 2 of 3 ratus tahun rerakhir tidaklah redup, tidak tertandingi dan tersaingi karena geopolitik sebagai ilmu adalah pancaran sinar hukum alam yang abadi sebagai takdir oleh yang maha abadi (Tuhan yang maha bijaksana). Kini sudah jelas!
Poltranas (Politik Strategi Nasional) haruslah di susun dan rumuskan !
Poltranas akan memberi mukjizat kekuatan dan keutuhan setiap fikiran setiap tindakan dan harapan dari semua lembaga Negara, nafas lembaga pemerintah bahkan semua nafas lembaga Pemerintah bahkan semua nafas Indonesia sejak sekolah dasar pimpinan poltranas adalah “program revolusi nasional”.
Program pembangunan Nasional yang di setujui oleh tiap-tiap nafas makhluk hidup di Indonesia. Kereta Poltranas yang berisi politik Negara itulah yang harap berjalan tegak kuno kedepan dengan teguh-perkasa sampai ke pintu gerbang kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh Rakyat Indonesia. Kereta Poltranas “haram hukumnya” di belok belokan kekiri atau ke kanan.
Negara harus menjadi “subjek yang mengatur” bukannya objek rebutan politik ekonomi dalam dan luar negeri.
Di atas semua itu, diatas poltranas, diatas kesamaan platform perjuangan itulah kita kobar-kobarkan api perjuangan dalam tiap-tiap jiwa manusia yang berjumlah puluh juta jiwa itu yang mendiami ribuan pulau di Indonesia untuk meraih kesejahteraan bersama dalam rentang waktu bertahap, terukur dan pasti, baik kwalitatif maupun kwantitatif.
Gabungan antara Poltranas dan gelora perorangan Rakyat Indonesia untuk menimplementor amanat Poltranas itulah jaminan satu-satunya agar “wajah Indonesia” yang ia bawah ketika di lahirkan akan tetap sama dengan wajah Indonesia ketika menghadap Tuhan yang maha bijaksana.(***)
*) Penulis adalah tokoh masyarakat adat Banggai, pemerhati masalah ekonomi pembangunan, dan kesejahteraan rakyat.
|
|
Batui Selatan, 01 Oktober 2023 |
Editor : Muchsin Siradjudin