Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Dollar AS Menguat Harga Udang Malah  Merosot,  Ini Alarm Serius   yang  Mesti Disikapi dan Dicari Solusinya

Muchsin Siradjudin • Selasa, 9 Juni 2026 | 14:49 WIB
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh: Hasanuddin Atjo *)  

BERDASAR pendekatan ekonomi makro , ketika Dolar AS (USD) menguat terhadap Rupiah (IDR), harga komoditas ekspor seperti udang seharusnya lebih mahal, dan berdampak menyenangkan  petambak, sebagaimana yang biasa mereka alami. 

Kejadian penguatan dollar pada saat ini lain dan berbeda, karena  membebani  petambak.  Selain  harga pembelian udang  dalam Negeri menurun  tajam.  Harga  Pokok Produksi (HPP)  melonjak,   karena sebahagian besar input produksi (sekitar 60 persen) mesti  diimpor (tepung ikan, peralatan, bahan kemasan dan lainnya).

Ditengerai rencana Pemerintah AS meningkatkan bea masuk udang karena isu tenaga kerja  (Forced Labor) sebesar 10 -12,5 persen menjadi satu diantara pemicu turunnya  harga. Kebijakan baru ini diprediksi akan menambah bea masuk menjadi 32  hingga 35 persen. Rencana  diberlakukan pada Juni 2026.

Baca Juga: Berhasrat Menjadi Raja Udang Global 2045, Modelling dan Peta Jalan Tambak Rakyat Menjadi Salah Satu Prioritas 

Sebelumnya bea masuk udang Indonesia ke pasar AS (2025)  sebesar 22,9 persen terdiri dari  bea (Resiprokal 19 persen, Anti Dumping 3,9 persen). Sementara itu India pada saat yang sama  dikenakan bea masuk sebesar 50 persen, membuat mereka  sempat kelimpungan.

Harusnya  kesenpatan berharga itu  bisa dimanfaatkan Indonesia memperbesar volume ekspornya Sayang ini tidak bisa dilakukan karena Indonesia belum mampu memperbesar produksi karena tekanan penyakit udang  yang berkepanjangan.

Diplomasi yang dilakukan India menyebabkan Pemerintahan AS  pada Februari 2026 mereduksi bea masuk udang India dari 50 persen  menjadi  18 persen. Kebijakan ini memberi  tekanan pada harga udang asal Indonesia . Apalagi HPP mereka lebih rendah.

Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi 

India dan Indonesia mengekspor udang mereka  dominan mengisi pasar AS. Pada ahun 2025 India mengekspor hampir 80 persen udang mereka sebesar 301.000 metrik ton (MT). Sementara  Indonesia ditahun yang sama mengekspor sekitar 150.000 metrik ton atau hampir 70 persen.

Penurunan harga pada saat ini juga disebabkan oleh faktor lain. Diantaranya Over Suply produksi karena keberhasilan budidaya terutama Equador dan hadirnya pendatang baru. Turunnya daya beli sejumlah  Negara, terutama AS , melengkapi faktor penyebab turunnya harga.

Setidaknya empat  faktor utama   yang semestinya dibenahi agar Industri udang Indonesia mampu bersaing dipasar global dengan para kompetitor seperti Equador, India, Vietnam serta Thailand. Mereka pada  saat ini juga terus menbenahi  daya sainngnya.

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif, dan Tambak Tradisional ke "New Shrimp"

Pertama, melakukan perluasan pasar dan upaya  memperkecil  ketergantungan mengisi pasar AS.   Strategi ni bukan perkara mudah karena sejak lama upaya ini disuarakan namun masih sulit direalisasikan.

Mutu dan keamanan pangan jadi akar masalah memperluas pasar ke Uni Eropa, Jepang dan China. Temuan FDA (Food and Drugs Administration) AS bahwa udang asal Indonesia terbukti tercemar antibiotik memperburuk citranya dipasar  global.

Lebih fatall lagi pada Juni 2025 ditemukan lagi udang Indonesia   tercemar  zat radioaktif Cesium  (Cs-137).  Kasus ini  memukul industri udang didalam Negeri  karena Pemerintah AS menutup ekspor udang Indonesia ke AS selama 3 bulan (Agustus hingga Oktober). 

Baca Juga: Percepatan Industrialisasi Udang Parimo Mendesak, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase Gelar Diskusi Bersama Pelaku Usaha

Dampaknya harga udang  terjun bebas hingga  pada titik nadir. Selanjutnya  penjualah benih udang, pakan udang  maupun input produksi lainnya menurun drastis.  Bahkan banyak tambak dan hatchery  untuk senentara waktu tidak beroperasi.

Konsistensi  memberlakukan izin  berdasarkan pola dan tataruang menjadi penting. Demikian pula halnya edukasi dan pengawasan larangan penggunaan antibiotik dan zat kimia berbahaya lainnya mesti ditingkatkan. Kolaborasi pemangku kepentingan menjadi kunci.    

Kedua, Pola tataniaga bertujuan memperoleh keuntungam dari rendemen air (6 - 8 persen) karena  perendaman selama beberapa hari , menjadi salah satu sebab udang  Indonesia lebih dominan dipasarkan ke AS dalam bentuk produk udang kupas beku. Dan  produk nilai tambah lainnya sulit dilakukan dengan mutu seperti itu. 

Baca Juga: Residu Antibiotik Alarm Serius bagi Ekspor udang, Hatchery, Sistem Budidaya dan Surveilans Prioritas untuk Dibenahi

Pola ini sebenarnya merugikan, karena mutu udang pada saat panen karegori baik , menurun  karena perlakuan perendaman. 
Memutus rantai pasok dengan pola ini bukan perkara mudah.. Selain jarak  sentra produksi dan industri prosesing terbilang jauh, kebiasaan perendaman juga telah menjadi satu budaya.

Karena itu dipadang penting dan strategis apabila industrialisasi udang dikembangkan dengan pendekatan  kluster pulau besar. Tujuannya mengurai persoalan mutu, sekaligus menekan biaya  logistik ysng terbilang mahal. 

Di wilayah Barat biaya logistik hanya sebesar 8,9 persen dari harga komoditi yang akan diangkut. Sementara itu  pada wilayah Timur angkanya cukup jomplang  sebesar 20 -:27 pewrsen. Kondisi yang seperti Ini tentu kurang menarik terhadap percepatan investasi.  

Ketiga, Kelembagaan petambak idealnya dikelompokkan menjafi tiga kluster, terdiri dari kluster tambak brakyat, klustet tambak pengusaha dan kluster tambak milenial.  Dengan  klustetisasi seperti ini akan mempermudah dalam menerapkaan teknologi, akses pembiayaan,  pasar dan intervensi serta pengendalian.

Tambak rakyat menjafi kluster yang sangat perlu intervensi Pemerintsh.  Mulai infrastruktur, akses teknologi, pembiayaan dan pasar.  Agar kelompok ini bisa berdaya dan betkontribusi terhadap produksi dan devisa.

Kluster tambak pengusaha dan milenial, kebutuhannya lebih kepada kemudahan perizinan dan keamanan investasi, akses pembiayaan mengembangkan teknologi memenuhi tren global  agar mamou bersaing secara berkelanjutan.

Ke depan  kluster mikenial mesti lebih dipersiapkan agar menjadi  tulang punggung produksi dan devisa. Kluster ini dinilai mampu mengembangkan udang sebagai industri yang kuat berkelanjutan. 

Keunggulan komparatif  maupun kompetitif yang dimiliki  mestinya dimanfaatkan, tidak terlewatkan begitu saja.  

Negara Kepulauan, garis pantai terpanjang kedua, dan beriklim tropis sesungguhnya merupakan modal dasar yang tidak ternilai dan menjamin Indonesia mampu menjadi salah satu kontributor udang terbesar dunia.

Keempat, Membangun diplomasi  dagang dan market Intelegent ysng  handal dinilai penting dan strategis.  Keberadaan segnent ini menjadi informan Pemerintah menyusun regulasi berkaitan kebutuhan buyer serta mitigasi tren perubahan yang nantinya terjadi.

Selain itu pelaku usaha tambak yang dibagi menjadi tiga kluster bisa  dengan cepat memperoleh  informasi terkait dengan tren  kebutuhan dan perubahan itu sehingga antisipasi yang mesti  dilskukan bisa segera disikapi.

Terakhir, ichtiar menjadi salah satu produsen udang  terbesar, diperhitungkan dan disegani memerlukan kerja kolaborasi antarstakehokders yang selama ini dinilai  sebagai sumbatan utama.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Ekonomi makro #Dollar AS menguat #Harga udang merosot #Faktor utama