Oleh. Dedi Askary
(Ketua PABKI Parigi Moutong dan Dewan Pembina PABKI Sulteng)
ADA yang bilang, olahraga itu cuma soal keringat dan skor akhir. Tapi bagi kita, masyarakat yang tumbuh dalam denyut nadi tradisi, olahraga adalah seni, filosofi, sekaligus cara merawat ketepatan rasa.
Di awal Juni 2026 ini, sebuah riak segar hadir di Bumi Tadulako. Pimpinan Pusat Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia (PABKI) turun gelanggang membawa sebuah misi besar: menghidupkan kembali ruh ketangkasan lokal yang dikemas dalam bingkai prestasi modern.
Bukan di lapangan terbuka berdebu, melainkan berpusat di Hotel Santika Palu, mulai tanggal 1 hingga 5 Juni 2026, denyut nadi olahraga presisi ini resmi berdetak.
Menenun Struktur, Mencetak Guru
Langkah PABKI di Sulawesi Tengah tidak tanggung-tanggung. Ini bukan sekadar seremonial gunting pita lalu bubar. Di Hotel Santika, kerja-kerja nyata kerakyatan dimulai dengan konsolidasi organisasi. Struktur Pengurus Provinsi (Pengprov) hingga Pengurus Kabupaten dan Kota se-Sulteng dibentuk dan dirapikan.
Ini adalah fondasi penting, memastikan bahwa olahraga ini punya rumah yang kokoh di setiap sudut daerah, agar bakat-bakat terpendam di desa-desa punya jalur formal menuju panggung nasional.
Namun, organisasi tanpa isi adalah omong kosong. Sadar akan hal itu, agenda utama yang tak kalah sakral adalah Pelatihan untuk Pelatih Atlet PABKI Sulteng.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Palu Jadi Harapan Baru Anak Miskin dari Pelosok Sulawesi Tengah
Mengapa pelatih? Karena dalam seni olah rasa dan akurasi, pelatih adalah "empu". Merekalah yang akan menempa para atlet—anak-anak muda kita—bukan cuma agar mahir melempar kapak dan bilah dengan presisi mekanis, tapi juga menanamkan disiplin, ketenangan jiwa, dan sportivitas. Dari tangan dingin para pelatih yang digembleng selama lima hari ini, kita menitipkan masa depan prestasi olahraga Sulteng.
Merajut Silaturahmi hingga ke Jantung Parigi Moutong
Gerakan PABKI ini tidak egois dan mengurung diri di ibu kota provinsi. Esensi dari kunjungan Pengurus Pusat adalah bergerak, menyapa, dan menyentuh akar rumput.
Maka, di sela-sela agenda padat di Palu, Pengurus Pusat PABKI dijadwalkan mengayunkan langkah kaki ke timur, menuju Kabupaten Parigi Moutong, antara tanggal 2 Juni atau tanggal 4 Juni 2026. Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan dinas formal yang kaku. Ini adalah silaturahmi budaya.
Parigi Moutong, dengan bentangan garis pantainya yang panjang dan masyarakatnya yang agraris serta dinamis, adalah ladang subur bagi olahraga yang mengandalkan ketepatan dan konsentrasi seperti PABKI. Di sana, pengurus pusat akan bersosialisasi, menyapa tokoh masyarakat, dan membuka ruang dialog agar seni akurasi ini bisa diterima sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan prestasi masyarakat Parimo.
Lebih dari Sekadar Olahraga
Melihat Bilah melayang dengan presisi atau kapak yang menancap tepat di sasaran adalah sebuah keindahan tersendiri. Ada filosofi mendalam di sana: hidup adalah tentang fokus, kalkulasi yang matang, dan eksekusi yang tenang. Di tengah riuhnya modernitas, PABKI membawa angin segar yang mengingatkan kita pada ketangkasan leluhur.
Baca Juga: DPRD Minta Pemkot Palu Koordinasi soal RKAB Tambang Galian C, Pengawasan Diperketat
Selamat datang Pimpinan Pusat PABKI di Sulawesi Tengah. Selamat berproses bagi para calon pengurus dan pelatih di Hotel Santika Palu, dan selamat ber-silaturahmi di Parigi Moutong.
Semoga dari ketukan presisi bilah dan kapak ini, lahir atlet-atlet bermental baja yang kelak mengharumkan nama Sulteng di kancah tertinggi.
Dari rakyat, oleh pelatih tangguh, untuk prestasi Indonesia! (***)
Editor : Muchsin Siradjudin