Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Memaknai Idul Adha Rabu, 27 Mei 2026 dari Prespektif Teologi, Sosial, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia

Muchsin Siradjudin • Minggu, 24 Mei 2026 | 18:14 WIB
Dedi Askary (FOTO: ISTIMEWA/RADAR  PALU).
Dedi Askary (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Dedi Askary, SH *)

IDUL ADHA selalu datang membawa aroma asap pembakaran, gema takbir yang bersahutan di pengeras suara masjid, dan antrean panjang warga yang memegang kupon daging. Namun, di balik ritualitas tahunan tersebut—terutama saat kita merayakannya di tahun 2026 ini—ada esensi teologis dan kemanusiaan yang sangat pekat.

Membaca Idul Adha dari kacamata rakyat kecil berarti menggeser fokus kita dari sekadar kesalehan ritual individu menuju “kesalehan sosial yang transformatif”.

Hari raya ini bukan sekadar tentang seberapa mahal hewan yang dikorbankan, melainkan tentang pembongkaran ego, perlawanan terhadap ketimpangan, dan penegasan kembali hak-hak kemanusiaan.

Baca Juga: Tak Hanya Siaga Bencana, Relawan Dompet Dhuafa Sulawesi Juga Dilatih Jurnalistik dan Administrasi

Berikut adalah sebuah refleksi mendalam untuk memaknai Idul Adha dari empat dimensi krusial:

1. Perspektif Teologi: Mengorbankan "Ego Firaun" untuk Keberpihakan

Secara teologis, kisah Ibrahim dan Ismail sering kali diromantisasi sebagai ujian kepatuhan mutlak. Namun jika dibedah lebih dalam, teologi Idul Adha adalah “teologi pembebasan”.

Baca Juga: JATAM Desak Moratorium Tambang, ESDM Perketat Masa Berlaku RKAB Jadi 1 Tahun

Dekonstruksi Berhala Modern:
Perintah menyembelih Ismail bukan sekadar uji nyali keimanan, melainkan simbolisasi untuk menyembelih apa yang paling kita cintai secara destruktif—kekuasaan, harta, jabatan, atau ego kelompok. 

Dalam konteks kerakyatan, "Ismail" hari ini bisa berwujud keserakahan elit yang tega mengorbankan ruang hidup rakyat demi akumulasi kapital.

Tuhan yang Membela Manusia:
Ketika Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba, teologi Islam sedang menegaskan sebuah revolusi kesadaran: “Tuhan tidak butuh darah manusia”. Nyawa dan martabat manusia adalah sakral. Teologi Idul Adha menolak segala bentuk penindasan yang mengatasnamakan otoritas tinggi.

Baca Juga: TNI Kerahkan Batalyon Tempur Bantu Berantas Begal di Jakarta

1. Perspektif Sosial: Kedaulatan Pangan dan Solidaritas Akar Rumput
Dalam dimensi sosial, daging kurban adalah sebuah instrumen redistribusi ekonomi yang sangat radikal pada masanya, dan tetap relevan hingga kini.

Demokratisasi Protein:
Bagi sebagian besar masyarakat kelas pekerja atau kelompok prasejahtera, daging adalah kemewahan yang jarang tersentuh di hari biasa. Idul Adha meruntuhkan sekat kelas tersebut. Hari itu, semua orang dari berbagai strata sosial memakan hidangan yang sama.

Solidaritas Organik:
Dalam pembagian daging kurban pada setiap Idul Adha mestinya dilihat bukan sebagai aksi filantropi karitatif (sekadar belas kasihan atas-bawah), melainkan sebagai pengakuan bahwa “setiap warga negara berhak atas kedaulatan pangan”. Ini adalah momen di mana masyarakat akar rumput saling menopang di tengah jaring pengaman sosial negara yang mungkin masih bolong-bolong.

Baca Juga: Cara Mengolah Daging Kurban Agar Empuk dan Tidak Bau Prengus, Ternyata Ada Trik Sederhana yang Sering Terlewat

1. Perspektif Demokrasi: Egalitarianisme dan Kritik terhadap Otoritarianisme

Demokrasi yang sehat mensyaratkan adanya kesetaraan warga negara (egalitarianisme) dan penolakan terhadap pemutlakan kekuasaan manusia atas manusia lainnya. Idul Adha menyediakan fondasi moral yang kuat untuk hal ini.
 
Kesetaraan di Hadapan Hukum dan Tuhan:
Saat ibadah haji (yang beriringan dengan Idul Adha), jutaan manusia berkumpul dengan pakaian ihram yang sama—tanpa tanda pangkat, tanpa jas mahal, tanpa simbol kemewahan. Ini adalah visualisasi terbaik dari prinsip demokrasi: “one man, one vote”, satu manusia, satu nilai martabat.

Baca Juga: Hasil Seleksi JPT Pratama Kota Palu 2026 Resmi Diumumkan Panitia

Anti-Monarki Ego:
Kisah Ibrahim adalah kisah melawan tirani Namrud. Dalam narasi demokrasi modern, Idul Adha mengajarkan publik untuk tidak "menuhankan" pemimpin atau sistem yang korup. Rakyat diajak untuk kritis: jika Ibrahim rela mengorbankan kepentingannya demi perintah keadilan universal, maka para pemimpin politik hari ini harus rela mengorbankan ego kekuasaannya demi kemaslahatan publik, bukan justru memaksakan kehendak melalui hukum yang dimanipulasi.

1. Perspektif Hak Asasi Manusia: 
Hak atas Hidup dan Martabat yang Tak Boleh Dikurbankan

Hubungan antara Idul Adha dan Hak Asasi Manusia (HAM) berakar pada prinsip perlindungan hak hidup (right to life) dan hak atas rasa aman.

"Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah suci atas kamu sekalian..."

Kutipan Khotbah Wada' (Haji Perpisahan) Nabi Muhammad SAW, sebuah deklarasi HAM universal yang mendahului Piagam PBB.

Perlindungan Kelompok Rentan:
Narasi kerakyatan dalam Hak Asasi Manusia (HAM) menegaskan bahwa pembangunan, kebijakan ekonomi, atau stabilitas politik tidak boleh mengorbankan (menjadikan tumbal/kurban) hak-hak rakyat kecil. 

Penggusuran sewenang-wenang, perampasan tanah adat, atau kriminalisasi aktivis lingkungan adalah bentuk "pengorbanan manusia modern" yang justru dikutuk oleh substansi Idul Adha.

Kurban sebagai Simbol Pemuliaan Manusia:

Esensi sejati dari perayaan Idul Adha adalah memuliakan manusia. Ketika kita membagikan daging kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang menunaikan hak hakiki mereka sebagai manusia untuk hidup layak secara bermartabat.

Kesimpulan
Pencerahan Publik Tahun 2026

Memaknai Idul Adha pada 27 Mei 2026 ini menuntut publik untuk melangkah keluar dari sekadar kesalehan artifisial. Pencerahan publik terjadi ketika kita menyadari bahwa:

 1. Hewan kurban adalah simbol, namun tujuannya adalah kemanusiaan;

 2. Takbir yang kita kumandangkan adalah proklamasi pembebasan dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia atau penguasa yang zalim.

Idul Adha tahun ini harus menjadi momentum bagi gerakan kerakyatan untuk memperkuat solidaritas, menolak dijadikan tumbal kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan, dan terus merawat nalar kritis demi tegaknya demokrasi serta Hak Asasi Manusia di tanah air. Selamat Idul Adha, mari hancurkan ego tirani, mari rawat kebersamaan akar rumput.(***)

 

*)Jejak penulis, pernah sebagai Business and Human Rights Consulting, Dewan Pendiri sekaligus Direktur LPS-HAM Sulteng pertama, anggota Dewan Pendiri LBH. Sulteng, Ketua Komnas HAM Sulteng 2006-Juli 2025. Pernah menjabat Deputy Direktur Walhi Sulteng dan Ketua Dewan Daerah Walhi Sulteng, Konsultan Riset Ketahanan Pangan di Lembah Baliem Wamena, Pegunungan Tengah Papua thn 2004, Sekarang tinggal di Mbaliara, Parigi Barat.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Perlawanan fisik #Terhadap ketimpangan #Menurunkan ego #idul adha