Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kenapa Hujan Ekstrem Masih Terjadi Saat Sinyal El Niño Sudah Datang?

Mugni Supardi • Jumat, 22 Mei 2026 | 19:49 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Oleh : Asep Firman Ilahi

Hilal El Niño sudah nampak terlihat sangat jelas, di dasarian II Mei indeks ini terpantau +0.97 (menjelang El Niño Moderat). Namun hujan ekstrem masih kerap mengguyur sebagian wilayah Indonesia bahkan di Sulawesi Tengah sendiri tercatat beberapa kali kejadian cuaca ekstrim menerpa di beberapa wilayah. Hal ini bukan kontradiksi, melainkan dinamika iklim tropis yang kompleks.  

Fenomena El Niño bukan tombol on/off yang jika ditekan seketika mematikan hujan. Dampaknya bertahap, dan hujan ekstrem di fase awal adalah bagian dari transisi. Faktanya, iklim dan cuaca di wilayah seperti Sulawesi Tengah ini sangat kompleks. El Niño memengaruhi curah hujan secara musiman dan jangka panjang, namun hujan ekstrem harian dikendalikan oleh dinamika atmosfer jangka pendek dan lokal.

Indeks Niño 3.4 mengukur anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ketika laut memanas (Indeks Positif), atmosfer tidak langsung merespons di detik yang sama. Proses interaksi antara lautan dan atmosfer (ocean-atmosphere coupling) membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga beberapa bulan untuk mengubah sirkulasi angin global (Sirkulasi Walker) secara signifikan hingga dampaknya mengeringkan Indonesia.

Cuaca sangat bergantung pada suplai uap air lokal. Jika perairan di sekitar Sulawesi Tengah seperti Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Laut Maluku masih hangat, laju penguapan lokal akan tetap tinggi. Penguapan inilah yang menjadi "bahan bakar" utama terbentuknya awan awan konvektif yang tebal (Kumulonimbus) penghasil hujan ekstrem dan badai petir, tidak peduli seberapa hangat Pasifik Tengah saat ini. Inilah sebabnya hujan ekstrem masih muncul di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Fenomena ini terasa nyata, meski sinyal El Niño sudah datang, hujan deras masih terjadi di beberapa kabupaten.  

Di bulan Mei ini, wilayah Donggala dan Sigi masih dilanda hujan lebat akibat pengaruh lokal Teluk Palu dan konveksi pegunungan. Namun, tren defisit hujan diprediksi mulai kuat sejak Juni. Hujan ekstrem sesekali muncul di Parigi Moutong dan Banggai, tapi pola kering sudah mulai terasa. Risiko gagal panen meningkat bila tanam mundur. Sementara Poso dan Tojo Una‑Una dengan topografi pegunungan membuat hujan lokal masih bertahan, namun debit sungai diperkirakan menurun drastis pada Agustus–September. Lain halnya Tolitoli dan Buol relatif lebih basah karena pengaruh monsun barat. Meski begitu, ancaman kekeringan tetap ada bila El Niño berlanjut hingga akhir tahun.  

Kewaspadaan Ganda

Menghadapi fase transisi iklim ini memang menuntut kita untuk memiliki kewaspadaan ganda. Sangat bisa dipahami jika masyarakat merasa kebingungan, di satu sisi harus waspada banjir, namun di sisi lain harus menabung air untuk kekeringan. 

Mengingat saat ini kita sudah berada di penghujung bulan Mei 2026 yang merupakan masa yang sangat krusial menjelang memasuki fase El Niño, strategi mitigasi yang diterapkan harus bersifat adaptif dan memanfaatkan hujan ekstrem saat ini sebagai modal menghadapi kemarau panjang.

 

Dalam jangka pendek, masyarakat dituntut untuk waspada hujan ekstrim. Fokus utama pada fase ini adalah meminimalkan kerugian dan kerusakan infrastruktur akibat anomali hidrometeorologi basah, sekaligus menabung air. Jadikan hujan ekstrem saat ini sebagai berkah dengan memaksimalkan pengisian embung, waduk, dan danau (seperti Danau Poso dan Danau Lindu). Air yang tertampung ini akan menjadi nyawa saat kekeringan melanda beberapa bulan ke depan. Selain itu, jalur vital Trans Sulawesi, terutama jalur Kebun Kopi yang menghubungkan Palu dengan Parigi Moutong, sangat rentan longsor saat diguyur hujan lebat. Penyiapan alat berat di titik-titik rawan harus disiagakan agar distribusi logistik (termasuk hasil laut) tidak terputus. 

Dalam jangka panjangnya adalah bagaimana kita mengantisipasi saat curah hujan tiba-tiba berhenti dan El Niño mengambil alih sepenuhnya secara ekstrem, krisis air dan suhu panas akan menjadi musuh utama. Wilayah lumbung pangan seperti Kabupaten Sigi (terutama area Irigasi Gumbasa) dan Parigi Moutong perlu segera diarahkan untuk menanam palawija (jagung, kedelai, umbi-umbian) yang lebih tahan kering dan hemat air, menggantikan penanaman padi pada musim tanam berikutnya. Karakteristik iklim mikro Lembah Palu yang memiliki curah hujan tahunan terendah di Indonesia menjadikannya sangat kering dan rawan terbakar saat El Niño. Edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar harus ditegakkan dengan ketat. Memetakan desa-desa pesisir (seperti di Donggala, Banggai Laut, Banggai Kepulauan) dan dataran tinggi yang sering menjadi langganan krisis air bersih, serta menyiapkan skema distribusi air melalui truk tangki.

Terakhir, indeks Niño 3.4 yang positif saat ini adalah alarm bahwa akumulasi total hujan bulanan kita ke depannya akan berada di bawah batas normal. Namun, hal itu sama sekali tidak menghilangkan potensi munculnya cuaca ekstrem harian. Badai lokal, hujan lebat berdurasi singkat, dan potensi banjir bandang tetap merupakan realitas bencana hidrometeorologis yang bisa terjadi kapan saja. Sinergi yang kuat antara teknologi cuaca, kesiapsiagaan pemerintah, dan kewaspadaan masyarakat yang terukur adalah fondasi utama dalam menghadapi ketidakpastian iklim. Mari jadikan kewaspadaan ganda dan adaptasi iklim berbasis sains sebagai kompas utama agar masyarakat tidak hanya sekadar bertahan, tetapi mampu berdaulat dan sejahtera di tengah dinamika cuaca yang ekstrem.

)* Penulis adalah Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri-BMKG

Editor : Mugni Supardi
#El Nino #hujan ekstrem #BMKG #Cuaca Ekstrem #sulawesi tengah