Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ketika Vaname jadi Sumber Devisa, Mutu Benur, Sistem Pasok Air Laut dan Keamanan Pangan Mesti Dibenahi 

Muchsin Siradjudin • Jumat, 22 Mei 2026 | 17:20 WIB

 

H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
H. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: H. Hasanuddin Atjo *) 

UDANG yang didominasi jenis vaname  tetap  jadi andalan sektor Kelautan dan Perikanan (KP) dalam hal  penerimaan devisa,  penyerapan tenaga kerja  dan ketahanan pangan. 

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir  produksi dan ekspor si Bangkok ini  relatif stagnan, tidak bergerak.  Produksinya berkisar antara 400 - 500 ribu ton. Selanjutnya total volume ekspornya  antara 200 - 240 ribu ton ( tertinggi tahun 2021)

Sementara  itu devisa ekspor Vanane berkontribusi sebesar 38 - 40 persen dari total devisa sektor KP dengan nilai devisa berada pada rentang angka  1,63 - 2,23 miliar $US. Nilai ini diharap bisa ditingkatkan melalui perbaikan sejumlah hambatan.

Baca Juga: Tiga Sapi Positif Brucellosis di Sulteng, Karantina Perketat Pengawasan

Kinerja Ini berbeda dengan capaian produsen udang dunia lainnya seperti Equador, India dan Vietnam. Mereka tidak pernah berhenti dan lelah berinovasi menemukan  solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.

Tren produksi maupun ekspor udang mereka terus bergerak positif. Satu diantaranya yang meningkat sangat signifikan dan mengcengangkan dunia adalah Equador. Negara tropis yang berada di Amerika Latin berhadapan dengan samudra Pasifik.

Negara ini, meskipun bergaris pantai hanya sekitar  2.237 km, dalam lima tahun terakhir mampu mengekspor udang yang terus meningkat. Tahun 2025  mencapai 1,4 juta ton dengan devisa sebesar US$ 7,47 mimyar dari sebelumnya tahun 2021 sebesar 1 juta ton.

Baca Juga: BYD M6 DM Resmi Mengaspal di Indonesia, Klaim Konsumsi Capai 65 Km/Liter

Indonesia yang  notabenenya bergaris pantai hampir 100.00 km, terpanjang ke dua dunia, sama-sama beriklim tropis, semestinya percaya diri  untuk bisa sejajar dengan Equador.

Kolaboratif secara lembaga  antara Pemerintah, investasi swasta, petambak rakyat dan pakar /ahli dinilai masih lemah, sehingga perlu dibangun. 

Kunci sukses Equador adalah pembenahan pada  breeding dan hatchery, sistem pasok air laut, menggunakan sistem nursery, padat tebar rendah  dan efisiensi menggunakan listrik dan  pakan karena telah berbasis teknologi  integrasi sensor- digital. Selanjutnya dukungan regulasi dan akses pembiayaan sangat berpihak.

Baca Juga: PNM Mengajar Siapkan Mental Wirausaha 2.700 Siswa SMK, Fokus pada Dunia Kerja Modern

Sedangkan  Indonesia masih terperamgkap  dengan kasus  penyakit udang  yang  belum  bisa reda.

Sejumlah penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan Jamur masih saja menghadang keberhasilan para pembudidaya.

Penyakit bisa hadir  pada saat budidaya dikarenakan  faktor transmisi vertikal - horisontal dan biasa disebut biosecurity.  

Baca Juga: Pengakuan WNI Relawan Gaza Disiksa Saat Ditahan Israel

Penerapan prinsip biosecurity sering dianjurkan, dibahas, namun masih banyak hal yang belum dilakukan. Antara lain terkendala pendanaan.

Secara vertikal penyakit itu terbawah oleh benur yang  terinfeksi penyakit, karena  penerapan biosecurity yang kurang.

Breeding program menjadi salah satu subsistem yang sangat menentukan dan umumnya masih tergantung pada Negara lain.

Baca Juga: Pimpinan dan Anggota DPRD Sulteng Terima Kunjungan Anggota DPRD DKI Jakarta

Mutu induk (broodstock) dan lemahnya SOP memproduksi  benur di hatchery dinilai jadi  pintu masuk penyakit. Cacing Polychaeta  sebagai pakan induk disinyalir kuat sebagai agen penyakit karena belum steril (masih tangkapan alam).

Berdasarkan pengamatan dan dialog disimpulkan sangat terbatas hatchery yang miliki breeding.  SOP produksi benur  super ketat, termasuk wajib menggunakan Polychaeta yang  bebas penyakit (hasil budidaya) sebagai pakan induk.

Selebihnya adalah hatchery yang sumber broodstocnya berafiliasi dengan Negara lain seperti Hawai dan Florida dan dinilai bahwa daya adaptasi terhadap kondisi iklim maupun ekosistem Indonesia kurang.

Baca Juga: FRESH 2026: Anwar Hafid Ungkap Kontraksi Fiskal Sulteng, Andalkan Pertanian dan Perikanan Dongkrak Ekonomi

Tidak kalah pentingnya secara umum masih menggunakan polychaeta dari alam, karena industri  khusus memproduksi polychaeta  SPF(steril) belum ada  dan harga polychaeta  impor (beku) sangat mahal 

Hatchery yang broodtoocknya berasal  breeding sendiri, dan diikuti  oleh SOP memproduksi benur  super ketat, memiliki konsistensi mutu  benur dan keberhasilan  budidaya yang tinggi. Model hatchery seperti ini yang perlu dikembangkan.

Sistem pasok air laut  yang lemah  bisa jadi pintu masuk penyakit secara hirisontal. Pada umumnya sumber air laut telah terkontaminasi oleh virus, bakteri dan jamur yang asal muasalnya terbawa oleh benur yang tidak sehat.

Baca Juga: Gubernur Sulteng Anwar Hafid Akan ke China, Bidik Kerja Sama Pertanian, Perikanan hingga Ekspor Durian

Karena itu sistem pasok air laut harus direvitalisasi dan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Sterilisasi berbasis listrik (sinar UV dan elektrolisis) mesti didukung dan difasilitasi agar bisa masif penggunaannya.

Bagi petambak rakyat perlu diintervensi subsidi air laut.  Pompa air laut nerkapasitas "Gajah" perlu di pasang di pesisir. Selanjutnya memasok air laut yang baik ke saluran pemasukan  kumonal yang selama ini airnya bolak balik.

Saluran pembuangan kumonal dibuat terpisah dan dilengkapi IPAL kumonal.  Model seperti ini perlu dibuat percontohan sebagai wujud "Negara Harus Hadir" membatu masyarakat menyelesaikan masalahnya. 

Baca Juga: Pengguna Jasa Karantina Ikan Wajib Lampirkan Dokumen Lengkap untuk Ekspor Produk Perikanan

Selain persoalan mutu benur dan sistem pasok air laut, keamanan pangan juga jadi persoalan serius. Mau selamat dari ancaman penyakit, maka disinyalir antibiotik sengaja dicampurkan dalam pakan  secara mandiri saat pakan akan diberikan.

Inilah penyebab udang asal Indonesia sering terdeteksi mengandung residu antibiotik oleh U.S FDA (Food and Drug Administration) sehingga ikut menurunkan daya saingnya, terutama untuk mengisi pasar Uni Eropa.

Pascapanen juga masih jadi soal serius. Budaya lama dalam tataniaga udang  jadi buah simalakama. Awalnya memperpanjang rantai pasok ke industri prosesing  untuk menciptakan lapangan kerja dan mempermudah kerja dari industri prosesing.

Baca Juga: Komoditas Ekspor Perikanan Jadi Penopang Bandara Internasional Palu

Lama kelamaan tataniaga ini  menjadi bisnis  melembaga dengan risiko menurunkan mutu udang yang sebenarnya baik.

Bisnis model ini dilatari  target memperoleh tambahan bobot pada  saat ditimbang di industri prosesing karena adanya resensi air  sebesar 7 - 8 persen. 

Praktiknya  udang yang baru lepas dari pintu panen  atau jaring panen ditiriskan terlebih dahulu dan mati dalam kondisi tersiksa (stress).

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Sosialisasikan Program dan Manfaat Bagi Pelaku Usaha Perikanan di Tempat Pelelangan Ikan

Selanjutnya sengaja direndam dalam air es  selama 2 -3 hari hingga tiba di Industri  prosesing.

Terakhir, membenahi masalah industri perudangan bukanlah perkara mudah. Diperlukan regulasi dan akses pendanaan yang berpiihak.  Kolaborasi antara pemerintah, sejumlah asosiasi maupun pakar/ahli menjadi salah satu faktor yang dipandang penting rumuskan rekomendasi dan rencana aksi.

 

*) Penulis Dewan Pakar Udang Vaname Indonesia, pengamat ekonomi dan pembangunan.

Editor : Muchsin Siradjudin
#Potensi Indonesia #Pasok air laut #Buah simalakama #udang vaname