Oleh: H. Hasanuddin Atjo *)
UDANG yang didominasi jenis vaname tetap jadi andalan sektor Kelautan dan Perikanan (KP) dalam hal penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja dan ketahanan pangan.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir produksi dan ekspor si Bangkok ini relatif stagnan, tidak bergerak. Produksinya berkisar antara 400 - 500 ribu ton. Selanjutnya total volume ekspornya antara 200 - 240 ribu ton ( tertinggi tahun 2021)
Sementara itu devisa ekspor Vanane berkontribusi sebesar 38 - 40 persen dari total devisa sektor KP dengan nilai devisa berada pada rentang angka 1,63 - 2,23 miliar $US. Nilai ini diharap bisa ditingkatkan melalui perbaikan sejumlah hambatan.
Baca Juga: Tiga Sapi Positif Brucellosis di Sulteng, Karantina Perketat Pengawasan
Kinerja Ini berbeda dengan capaian produsen udang dunia lainnya seperti Equador, India dan Vietnam. Mereka tidak pernah berhenti dan lelah berinovasi menemukan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.
Tren produksi maupun ekspor udang mereka terus bergerak positif. Satu diantaranya yang meningkat sangat signifikan dan mengcengangkan dunia adalah Equador. Negara tropis yang berada di Amerika Latin berhadapan dengan samudra Pasifik.
Negara ini, meskipun bergaris pantai hanya sekitar 2.237 km, dalam lima tahun terakhir mampu mengekspor udang yang terus meningkat. Tahun 2025 mencapai 1,4 juta ton dengan devisa sebesar US$ 7,47 mimyar dari sebelumnya tahun 2021 sebesar 1 juta ton.
Baca Juga: BYD M6 DM Resmi Mengaspal di Indonesia, Klaim Konsumsi Capai 65 Km/Liter
Indonesia yang notabenenya bergaris pantai hampir 100.00 km, terpanjang ke dua dunia, sama-sama beriklim tropis, semestinya percaya diri untuk bisa sejajar dengan Equador.
Kolaboratif secara lembaga antara Pemerintah, investasi swasta, petambak rakyat dan pakar /ahli dinilai masih lemah, sehingga perlu dibangun.
Kunci sukses Equador adalah pembenahan pada breeding dan hatchery, sistem pasok air laut, menggunakan sistem nursery, padat tebar rendah dan efisiensi menggunakan listrik dan pakan karena telah berbasis teknologi integrasi sensor- digital. Selanjutnya dukungan regulasi dan akses pembiayaan sangat berpihak.
Baca Juga: PNM Mengajar Siapkan Mental Wirausaha 2.700 Siswa SMK, Fokus pada Dunia Kerja Modern
Sedangkan Indonesia masih terperamgkap dengan kasus penyakit udang yang belum bisa reda.
Sejumlah penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan Jamur masih saja menghadang keberhasilan para pembudidaya.
Penyakit bisa hadir pada saat budidaya dikarenakan faktor transmisi vertikal - horisontal dan biasa disebut biosecurity.
Baca Juga: Pengakuan WNI Relawan Gaza Disiksa Saat Ditahan Israel
Penerapan prinsip biosecurity sering dianjurkan, dibahas, namun masih banyak hal yang belum dilakukan. Antara lain terkendala pendanaan.
Secara vertikal penyakit itu terbawah oleh benur yang terinfeksi penyakit, karena penerapan biosecurity yang kurang.
Breeding program menjadi salah satu subsistem yang sangat menentukan dan umumnya masih tergantung pada Negara lain.
Baca Juga: Pimpinan dan Anggota DPRD Sulteng Terima Kunjungan Anggota DPRD DKI Jakarta
Mutu induk (broodstock) dan lemahnya SOP memproduksi benur di hatchery dinilai jadi pintu masuk penyakit. Cacing Polychaeta sebagai pakan induk disinyalir kuat sebagai agen penyakit karena belum steril (masih tangkapan alam).
Berdasarkan pengamatan dan dialog disimpulkan sangat terbatas hatchery yang miliki breeding. SOP produksi benur super ketat, termasuk wajib menggunakan Polychaeta yang bebas penyakit (hasil budidaya) sebagai pakan induk.
Selebihnya adalah hatchery yang sumber broodstocnya berafiliasi dengan Negara lain seperti Hawai dan Florida dan dinilai bahwa daya adaptasi terhadap kondisi iklim maupun ekosistem Indonesia kurang.
Tidak kalah pentingnya secara umum masih menggunakan polychaeta dari alam, karena industri khusus memproduksi polychaeta SPF(steril) belum ada dan harga polychaeta impor (beku) sangat mahal
Hatchery yang broodtoocknya berasal breeding sendiri, dan diikuti oleh SOP memproduksi benur super ketat, memiliki konsistensi mutu benur dan keberhasilan budidaya yang tinggi. Model hatchery seperti ini yang perlu dikembangkan.
Sistem pasok air laut yang lemah bisa jadi pintu masuk penyakit secara hirisontal. Pada umumnya sumber air laut telah terkontaminasi oleh virus, bakteri dan jamur yang asal muasalnya terbawa oleh benur yang tidak sehat.
Karena itu sistem pasok air laut harus direvitalisasi dan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Sterilisasi berbasis listrik (sinar UV dan elektrolisis) mesti didukung dan difasilitasi agar bisa masif penggunaannya.
Bagi petambak rakyat perlu diintervensi subsidi air laut. Pompa air laut nerkapasitas "Gajah" perlu di pasang di pesisir. Selanjutnya memasok air laut yang baik ke saluran pemasukan kumonal yang selama ini airnya bolak balik.
Saluran pembuangan kumonal dibuat terpisah dan dilengkapi IPAL kumonal. Model seperti ini perlu dibuat percontohan sebagai wujud "Negara Harus Hadir" membatu masyarakat menyelesaikan masalahnya.
Baca Juga: Pengguna Jasa Karantina Ikan Wajib Lampirkan Dokumen Lengkap untuk Ekspor Produk Perikanan
Selain persoalan mutu benur dan sistem pasok air laut, keamanan pangan juga jadi persoalan serius. Mau selamat dari ancaman penyakit, maka disinyalir antibiotik sengaja dicampurkan dalam pakan secara mandiri saat pakan akan diberikan.
Inilah penyebab udang asal Indonesia sering terdeteksi mengandung residu antibiotik oleh U.S FDA (Food and Drug Administration) sehingga ikut menurunkan daya saingnya, terutama untuk mengisi pasar Uni Eropa.
Pascapanen juga masih jadi soal serius. Budaya lama dalam tataniaga udang jadi buah simalakama. Awalnya memperpanjang rantai pasok ke industri prosesing untuk menciptakan lapangan kerja dan mempermudah kerja dari industri prosesing.
Baca Juga: Komoditas Ekspor Perikanan Jadi Penopang Bandara Internasional Palu
Lama kelamaan tataniaga ini menjadi bisnis melembaga dengan risiko menurunkan mutu udang yang sebenarnya baik.
Bisnis model ini dilatari target memperoleh tambahan bobot pada saat ditimbang di industri prosesing karena adanya resensi air sebesar 7 - 8 persen.
Praktiknya udang yang baru lepas dari pintu panen atau jaring panen ditiriskan terlebih dahulu dan mati dalam kondisi tersiksa (stress).
Selanjutnya sengaja direndam dalam air es selama 2 -3 hari hingga tiba di Industri prosesing.
Terakhir, membenahi masalah industri perudangan bukanlah perkara mudah. Diperlukan regulasi dan akses pendanaan yang berpiihak. Kolaborasi antara pemerintah, sejumlah asosiasi maupun pakar/ahli menjadi salah satu faktor yang dipandang penting rumuskan rekomendasi dan rencana aksi.
*) Penulis Dewan Pakar Udang Vaname Indonesia, pengamat ekonomi dan pembangunan.
Editor : Muchsin Siradjudin