Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Breeding dan Produksi Cacing Laut Mesti Jadi Prioritas, Agar Produksi  Vaname Meningkat  dan Investasi Tidak Mubazir.

Muchsin Siradjudin • Minggu, 10 Mei 2026 | 15:07 WIB
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

INDONESIA memiliki garis pantai terpanjang diantara Negara produsen udang dunia  yaitu mendekati angka 100.000 km. Sementara itu  Equador, India dan Vietnam serta Thailand berada jauh dibawah, kurang dari 10.000 km. Sayang kalau potensi yang besar ini  tidak dimaksimalkan.

Dari sisi produksi, mereka jauh lebih unggul.  Equador pada tahun 2025, pecah rekor yaitu tembus pada angka 1,5 juta ton, disusul India mendekati 0,8  juta ton dan Vietnam pada angka 0,6 juta ton.  Sementara Indonesia mendekati 0 5 juta ton (Atjo 2026, kompilasi data)

Data menunjukkan pada satu sisi investasi bangun tambak baru dengan teknologi modern  terus bertambah. Demikian halnya pembangunan  pabrik pakan udang terus tumbuh. 

Baca Juga: Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi

Ironinya produksi udang tidak mau bertambah, cenderung stagnarn. Artinya telah terjadi  inefisiensi investasi. Tidak ada korelasi antara investasi dan produksi.

Penyakit udang disebabkan  bakteri dan virus menjadi penyebab  utama sejumlah tambak modern (utamanya yang berumur lama) tidak lagi berproduksi.  Kehilangan produksi tesebut digantikan tambak baru, sehingga dalam data tidak terjadi penurunan produksi.

Selain itu, keamanan pangan juga  menjadi hambatan yang perlu diseriusi. Penolakan udang asal Indonesia di Pasar Internasionsl karena terdeteksi zat radioaktif Cesium-137 dan residu antibiotik  berpengaruh terhadap animo masyarakat menabur benur.  Menambah sebab produksi tidak bisa naik.

Baca Juga: Residu Antibiotik Alarm Serius bagi Ekspor udang, Hatchery, Sistem Budidaya dan Surveilans Prioritas untuk Dibenahi

Equador yang beriklim tropis dan didukung dengan tambak tebaran rendah kini memimpin produksi dunia.  Namun tahun 2000 - 2010 tambak udang mereka  dihantam penyakit bakteri dan virus. Berdampak pada  produksi udang mereka anjlok hingga dibawah angka 100 ribu ton. 

Observasi, riset  breeding, dan penyakit  jadi perhatian serius Pemerintahnya. Setelah tahun 2010, produksi udang  mereka kembali meninglat signifikan karena sukses kembangkan industri  breeding mandiri dan pengembangan inovasi dan teknologi nursery (karantina benur) sebelum dibesarkan di tambak.

Straregi yang  dilakukan oleh Equador  mengembangkan inovasi dan teknologi breeding secara mandiri  menjadi salah satu faktor dan  kunci sukses. 

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif, dan Tambak Tradisional ke "New Shrimp"

Kini  mereka memiliki indukan unggul  yang bebas penyakit melalui  cara expose phatogen  dengan tiga pilihan.

Pertama. tumbuh cepat meski daya tahan relatif kurang  (fast growth). Kedua memiliki daya tahan terhadap penyakit tapi tumbuh lambat (resistent). Dan terakhir, adalah  adaptif akan perubahan lingkungan disebut  (tolerant). 

Regulasi Negeri mereka dinilai mendukung sehingga penyakit tidak  mudah berkembang. Tidak diperbolehkan  impor induk  udang dari luar karena dikuatirkan menjadi sumber penyebaran penyakit.  Namun ekspor induk diperkenankan dalam upaya mendorong majunya bisnis breeding.

Baca Juga: Percepatan Industrialisasi Udang Parimo Mendesak, Bupati Parigi Moutong Erwin Burase Gelar Diskusi Bersama Pelaku Usaha

Tidak berhenti disitu. Mereka juga mengembangkan sistem budidaya  dua dan tiga step.
Step pertama adalah  benur dari hatchery di karantinakan  di kolam nursery di sekitar kawasan tambak , kemudian dipindahkan ke Pembesaran 1 (disebut Growt Out 1) dan seterusnya bila tiga step.

Mitigasi resiko akan masuknya  penyakit (biosecurity) menjadi salah satu  SOP yang mesti  diterapkan dan dipatuhi oleh pembudidaya. Selanjutnya  teknologi budidaya dibatasi maksimal semi intensif. Hal yang sama juga dilakukan oleh India.

Baca Juga: Vera Mastura Wakili Komisi II DPRD Sulteng Konsultasi ke Kementan RI Bahas Pertanian Berkelanjutan

Pembelajaran terakhir dari Equador  bahwa manajemen budidaya mereka berbasis kawasan.  Dikelola  hanya oleh tidak lebih dari 10  perusahaan   swasta integrasi hulu dan hilir terhadap ratusan ribu hektar tambak rakyat. Kondisi ini bisa berjalan dan langgeng karena tercipta trust (saling percaya satu sama lain). 

Dari ulasan tersebut, idealnya pengembangan breeding atau pemulian  spesies Vaname didalam Negeri  mesti menjadi salah satu prioritas.  Sektor swasta mestinya didorong dan difasiiitasi agar tertarik masuk pada bisnis industri ini.

Bisnis  ini membutuhkan waktu  relatif lama., padat teknologi dan  investasi lumayan tinggi namun memegang peranan yang  sangat strategis dalam mendorong kinerja produksi  dan ekspor udang.  Karena itu diperlukan regulasi khusus dan berpihak. 

Baca Juga: Mentan Amran Rangkul dan Siapkan Mahasiswa Jadi Penerus Arah Pertanian Nasional

Selain breeding, investasi memproduksi jenis cacing laut (Polychaeta) sebagai pakan induk melalui sistem budidaya terkontrol dan steril (bebas penyakit) sangat diperlukan. Dan berpeluang sebagai bisnis baru saling menguntungkan.

Saat ini, polychaeta sebagai   pakan induk udang terbaik,  pada sejumlah hatchery berasal dari tangkapan alam.  Dan terbukti terkontaminasi  oleh bakteri dan virus.  Melalui mekanisme ini menjadi pintu masuk penyakit melalui benur.

Beberapa hatchery ternama mampu  membudidayakan, namun  HPP masih tinggi dan vokume produksinya terbatas. Masih sering harus diimpor dengan harga mahal karena ketidakcukupan dan menjaga agar tidak terkontaminasi.

Baca Juga: FRESH 2026: Anwar Hafid Ungkap Kontraksi Fiskal Sulteng, Andalkan Pertanian dan Perikanan Dongkrak Ekonomi

Akan sia sia  apabila sukses dalam breeding,  tidak diikuti  oleh penyediaan pakan induk yang steril (bebas penyakit), karena tidak mampu membuat benur yang sehat  dan lebih lanjut membuat masalah saat dibudidayakan di tambak. 

Pada semua komoditi pangan kunci kesuksesan industrinya sangat ditentukan oleh maju dan berkembangnya industri breeding (pemulian). Salah satu contoh konkrit  adalah industri kelapa sawit yang membuat Infonesia menjadi produsen terbesar dunia.

Selanjutnya kondisi existing dalam Negeri yang  berkaitan dengan kemajuan pemuliaan dan usaha budidaya cacing laut (polyhaeta), dipandang perlu dukungan kuat, karena berjalan lamban dan masih terbatas.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% di Q1 2026, Pertanian Tetap Jadi Penopang

Pada industri breeding dikenal  tahapan  memproduksi induk unggul. Pertama adalah NBC 
(Nucleus Breeding Center). Fasilitas ini berperan sebagai tempat perekayasaan genetik. Dan ini merupakan tahapan yang tersulit. 

Kedua adalah BMC (Breeding Multification Center). Berperan sebagai perbanyakan calon calon induk yang berasal dari NBC, untuk selanjutnya dapat diperjualbelikan memenuhi kebutuhan hatchery. 

Baca Juga: Wabup Buol Buka Musrenbang 2027: Pertanian Jadi Tulang Punggung Entas Kemiskinan dan Stunting

Hingga  saat ini, di Indonesia telah terbangun  3 unit NBC. Satu milik Pemerintah  dan dua milik swasta Nasional. Dalam perjalanannya satu milik swasta harus tutup dan satunya terus berkembang dan maju. 

Mereka kini menjadi salah satu  hatchery vaname  terbesar,  di Indobesia. Memiliki konsistensi tinggi dalam hal mutu, antara lain dikarenakan sukses dalam pengembangan bisnis NBC dan memproduksi polychaeta yang steril.

NBC milik Pemerintah masih bertahan dan dipandang perlu dicarikan format agar fasilitas ini mampu memainkan peran sebsgaimana yang dicapai dan diperlihatkan  oleh NBC Swasta tersebut.

Baca Juga: Standarisasi Drone Pertanian Digenjot, Kemenperin Perkuat Daya Saing Industri Alsintan

Selanjutnya di Negeri ini hadir satu BMC swasta Nasional yang  berafiliasi dengan salah satu  NBC di Hawai. Perannya sangat strategis mensuplai kebutuhan induk sejumlah hatchery di Indonesia.

Namun dinilai perlu didorong menjadi NBC mandiri.

Terakhir semua berharap agar industri pemulian induk udang  vaname dalam Negeri mampu berkembang.

Baca Juga: Kementan Dorong Ekonomi Karbon, Pertanian Dibidik Jadi Sumber Cuan Baru

Demikian halnya industri budidaya cacing jenis polyhaeta. Peran semua pihak sangat diperlukan  terutama dalam dukungan regulasi dan permodalan.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Garis pantai #Yang panjang #Di seluruh dunia #Dibanding negara pengekspor udang