Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Malam Buol di Jalan Masjid Raya

Muchsin Siradjudin • Minggu, 10 Mei 2026 | 10:59 WIB
BERSAMA: Warga Buol, saat bersama di Kota Palu.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
BERSAMA: Warga Buol, saat bersama di Kota Palu.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Salihudin *)

Di sebuah kafe di Jalan Mesjid Raya Palu, musik mengalun manja. Nadanya tidak tergesa.

Namun seperti berjalan pelan di antara meja, kursi, lampu-lampu gantung, dan percakapan yang mulai tumbuh di awal malam. 

Malam minggu baru saja dibuka, tetapi suasananya sudah terasa hangat. Belum terlalu ramai, namun cukup hidup untuk membuat siapa pun betah duduk lebih lama.

Baca Juga: Ribuan Massa Ikuti Jalan Santai Penuh Makna Silaturahmi PW-IKIB, Bersama Pemerintah Kota Palu, OJK, BI, dan Perbankan

Di panggung kecil, para pemain musik memainkan lagu-lagu yang akrab di telinga. Cahaya ungu, biru, dan merah muda jatuh ke lantai, memantul di wajah para pengunjung.

Ada yang datang berpasangan, ada yang bersama keluarga, ada pula yang memilih duduk sendiri, menikmati malam dengan diam.

Kafe ini seperti memberi tempat bagi semua jenis perasaan: lelah, rindu, bahagia, bahkan sekadar ingin rehat dari riuh hari.

Baca Juga: Silaturahmi PW-IKIB Sulteng Bersama Ketua DPRD Sulteng Moh. Arus Abdul Karim Menghasilkan Beberapa Komitmen

Di balik bilik kaca kafe, sebuah suasana lain baru saja selesai. Sebuah organisasi daerah yang menghimpun warga Buol di Kota Palu baru saja merampungkan makan malam bersama.

Mereka duduk dalam keakraban yang sederhana, tetapi penuh makna. Malam itu bukan sekadar makan bersama. Ada agenda yang lebih dalam: membubarkan panitia yang telah sukses melaksanakan beberapa kegiatan organisasi.

Pembubaran panitia sering terdengar seperti akhir. Namun malam itu, terasa seperti penutup yang manis. Sebuah tanda bahwa kerja telah selesai, amanah telah ditunaikan, dan kebersamaan telah meninggalkan jejak.

Baca Juga: Pengurus dan Anggota PW-IKIB Sulawesi Tengah Ikuti Literasi Keuangan di BRI Palu

Mereka yang duduk di bilik kaca itu bukan hanya sekumpulan orang dari daerah yang sama. Mereka adalah potongan-potongan rindu pada kampung halaman, yang bertemu kembali di tanah rantau bernama Palu.

Buol hadir di ruangan itu melalui wajah-wajah yang akrab, cerita yang bersambung, dan tawa yang mudah pecah.

Mungkin ada yang mengingat kampung, laut, sawah, kebun,  keluarga, atau masa kecil. Di Kota Palu, mereka berkumpul bukan semata karena alamat asal, tetapi karena ikatan batin.

Baca Juga: PW-IKIB Silaturahmi Anggota DPRD Sulteng Henri Muhidin

Organisasi daerah semacam ini selalu punya arti penting. Ini menjadi rumah kedua. Tempat orang saling mengenal, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Ketika makan malam usai, panitia dibubarkan dengan rasa syukur. Di sana ada kerja keras yang tidak selalu terlihat. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang diberikan, dan pikiran yang dicurahkan.

Kegiatan yang sukses jarang lahir dari satu dua orang saja. Tapi lahir dari gotong royong, dari komunikasi, dari kesediaan untuk repot demi kepentingan bersama.

Baca Juga: PW-IKIB Sulteng Berani Mendukung Program Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng

Sementara itu, dari luar bilik kaca, musik terus mengalun. Seolah ikut memberi penghormatan kecil kepada mereka yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Lagu-lagu dari panggung menyatu dengan percakapan yang tersisa.

Di luar, kursi-kursi masih menunggu pengunjung. Di dalam, sebagian orang mulai berdiri, bersalaman, dan bersiap pulang.

Malam di Jalan Mesjid Raya itu kemudian menjadi lebih dari sekadar malam minggu. Tapi bahkan menjadi pertemuan antara hiburan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Baca Juga: IKIB Gandeng Wagub Reny Jadi Pembina, Sinergi Baru Bangun Solidaritas Buol di Sulteng

Kafe itu menjadi saksi kecil bagaimana warga Buol di Palu merawat kebersamaan. Mereka datang, makan bersama, menutup satu episode kerja, lalu pulang membawa perasaan lega.

Begitulah indahnya sebuah perkumpulan daerah.  Tidak selalu berbicara tentang acara besar atau panggung yang megah.

Kadang hanya hadir dalam makan malam sederhana, dalam ucapan terima kasih kepada panitia, dalam senyum setelah tugas selesai, dan dalam kesediaan untuk kembali bekerja bila organisasi memanggil lagi.

Baca Juga: Demokrasi di Jalan Senyap, Wahid Tarim Pimpin PW-IKIB Sulawesi Tengah, 100 Hari Hadirkan Ambulans Kerukunan Buol

Di bawah langit Palu yang mulai rintik hujan, musik terus mengalun manja. Malam belum selesai.

Tetapi bagi warga Buol yang malam itu berkumpul di bilik kaca, ada satu pekerjaan yang telah ditutup dengan baik. Panitia telah dibubarkan, tetapi persaudaraan tetap dilanjutkan. 

Sebab organisasi boleh berganti kepanitiaan, kegiatan boleh selesai, tetapi ikatan kampung halaman akan selalu menemukan jalan untuk pulang—bahkan di tengah gemerlap kecil sebuah kafe di Jalan Mesjid Raya.(***)

 

*) Penulis adalah Pengamat Sosial, dan penulis buku.

Editor : Muchsin Siradjudin
#di Kota Palu #Betah duduk lama #silaturahmi #Warga Buol