Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Sapu-Sapu Jangan Mati Sia Sia, Peluang  Menjadi Sumber Protein, Namun Perlu Kajian

Muchsin Siradjudin • Minggu, 26 April 2026 | 19:57 WIB
Dr. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Dr. Hasanuddin Atjo (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

SAPU Sapu  (Pterygoplichthys pardalis)  jenis  ikan air tawar kini banyak diketemukan pada sungai besar di Indonesia. Habitat aslinya  jauh berada di Amerika Tengah dan Selatan.

Masuk ke Indonesia  sebagai ikan hias. Berperan  pembersih kaca akuarium dari  kotoran lumut, dan alga pada dinding kaca,  agar aquarium  selalu terlihat  bersih.

Ikan benthik feeder ini (makan di dasar), kini menjadi invasif, karena  sudah mendominasi biodeversity pada ekosistem sungai.  Dikuatirkan nantinya menekan spesies asli pada ekosistem tersebut.

Baca Juga: Pengguna Jasa Karantina Ikan Wajib Lampirkan Dokumen Lengkap untuk Ekspor Produk Perikanan

Bahkan Ikan ini  mampu hidup dan berkembang  di  perairan tercemar sekalipun, karena memiliki labirin sebagai  alat bantu pernapasan selain alat pernapasan utama, insang.

Dampak yang  timbul  bukan hanya  karena invasif.  Diduga bahwa yang hidup  di sungai  tercemar,  telah dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk jajanan seperti somay dan bakso.

Celakanya bahwa daging ikan tersebut diduga telah dicemari logam berat seperti Mercury (Hg), Cadmiun (Cd), timbal (Pb), dan Tembaga (Cu) yang datang dari buangan industri, limbah B3 dan rumah tangga.

Baca Juga: Optimalkan PAD Perikanan, DPK Pasang Target 1 Miliar 

Berbahaya bagi kesehatan, terutama pada otak, sistem saraf , ginjal dan tulang serta lebih berbahaya pada janin yang bisa menimbulkan cacat lahir. Dalam jangka panjang akibatnya menambah beban Negara.

Kondisi ini menjadi kekuatiran  Pemerintah Daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung. Mulai Bogor, Depok hingga Ibukota DKI Jakarta.  Pemprov  DKI  lebih awal nyatakan "perang" terhadap keberadaan ikan ini.

Ratusan ribu ikan Sapu-Sapu mati sia sia ,dan dikubur hidup hidup tanpa ada satu  solusi menjadi  produk apa yang bisa bermanfaat.  Alagkah baiknya  sebelum  kebijakan dieksekusi, terlebih dahulu disiapkan opsi pemanfaatan.

Baca Juga: Komoditas Ekspor Perikanan Jadi Penopang Bandara Internasional Palu

Pertanyaan kemudian, apakah ikan ini akan dihilangkan dari ekodistem perairan tawar di Indonesia.  Ini yang perlu jadi bahan kajian, mengingat ikan ini memiliki sejumlah kelebihan yang  positif.

Pertama, mampu hidup serta berkembang biak pada kondisi minim oksigen, sehingga bisa dibudidayakan dengan target priduktifitas yang tinggi tanpa harus menggunakan aerator sebagai sumber oksigen.

Kedua,  termasuk kelompok ikan omnivor (makan segala), kebutuhan protein tidak tinggi. Dampak blooning fitoplankton kecil kemungkinan timbulkan masalah karena mempunyai alat bantu pernapasan.

Baca Juga: KKP Wacanakan Pembangunan Kampung Nelayan Terintegrasi di Bolano Parimo, Bantuan Meliputi Infrastruktur dan Sarana Pendukung Perikanan

Ketiga, Harga Pokok Produksi (HPP) diperkirakan akan lebih murah. Karena mampu tumbuh dengan ketersediaan plankton yang lebih  melalui stimulant pupuk, sehingga bisa menjadi penyedia protein yang  murah. 

Bila ingin dijadikan salah satu sumber protein untuk tepung ikan dan bahan pangan, maka sangat diperlukan  pengkajian terkait dengan  produktifitas  budidaya, lama budidaya  dan HPP.

Lembaga riset  dan  Perguruan Tinggi diharap bisa melakukan Kolaborasi terhadap teknologi budidaya ikan Sapu-Sapu  berskala industri  mendukung suksesnya program ketahanan pangan.

Baca Juga: Bupati Donggala Resmikan Pasar Ikan Wani Dua dan Serahkan Bantuan Perikanan

Inovasi Teknologi pascapanen, terutama yang tercemar oleh logam berat seyogianya juga menjadi salah satu fokus riset, agar tersedia  solusi  terhadap ikan ikan yang berasal dari perairan tercemar.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
#Ikan sapu sapu #Ikan hidup di air tawar #Mampu hidup di air tercemar #Menambah beban negara