Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidapastian, Potensi  Terabaikan,  Perlu Intervensi

Muchsin Siradjudin • Rabu, 15 April 2026 | 21:46 WIB
BERDISKUSI: Pakar udang vaname, Hasanuddin Atjo, sedang berdiskusi dengan pengusaha dan investor.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
BERDISKUSI: Pakar udang vaname, Hasanuddin Atjo, sedang berdiskusi dengan pengusaha dan investor.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Hasanuddin Atjo *)

HAMPIR  83 persen tambak udang vaname masih dikelola secara tradisional (247 ribu dari 300 ribu ha). Selebihnya dikelola menggunakan inovasi dan  teknologi  modern,  yaitu semi intensif, intensif hingga supra intensif.

Meskipun jumlahnya besar, kontribusi tambak tradisional terhadap produksi Nasional kian menurun. Diperkirakan saat ini  berkisar 30 persen atau 150 ribu ton  dari total produksi Nasional sebesar 500 ribu ton (Kompilasi data, 2025).

Tambak teknologi tradisional kebanyakan dikelola  rakyat di wilayah pesisir dan sejak lama menjadi penopang  Ekonomi Keluarga.  Produktifitas rendah antara 100 -300 kg/ha/ musim tabur (200 -  600 kg/tahun).  

Baca Juga: Pertanian Jadi Kunci Ekonomi Karbon, Ini Dampaknya ke Petani

TAMBAK UDANG: Salah satu tambak udang di Sulawesi Tengah.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
TAMBAK UDANG: Salah satu tambak udang di Sulawesi Tengah.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

Dalam 1 ha tambak ditabur benih udang vanane antara 10.000 hingga 30.000  ekor. Sumber benur umumnya dari hatchery dengan manajemen terbatas sehingga mutunya pas pasan.  Hatchery skala  besar  umumnya melayani  pembelian  jumlah besar.

Kini ketidakpastian panen jadi ancaman, karena serangan penyakit virus seperti APHND., White Spote dan AHP.  Rasa nyaman setelah tabur benih, kini tinggal kenangan karena adanya ancaman  itu yang  telah menjadi pandemi.

Dahulu dikala umur udang 2 bulan, para petambak udang dibuat "pusing", dikarenakan sebentar lagi panen raya dan mereka bingung apalagi yang akan dibeli.  Pada saat ini juga dibuat "pusing", karena barang apa lagi yang akan "dilego", untuk membiayai operasional musim tabur berikut.

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif, dan Tambak Tradisional ke "New Shrimp"

Sekedar  menjaga jaga agar usaha tambak tidak rugi total,  mereka saat ini menabur benih udang 

bersama benih ikan nila atau bandeng yang lebih tahan terhadap goncangan, 
namun harganya murah dan hasilnya sekedar bertahan

Potensi tambak tradisional di wilayah pesisir dan  sejumlah  permasalahan yang dihadapi,  tentunya  mendesak dicarikan solusi. Agar mereka kembali bisa  membangun ekonomi  keluarga sekaligus berperan meningkatkan produksi udang  dan penerimaan devisa.

Baca Juga: Hilirisasi Pertanian Digenjot, Andi Amran Sulaiman Ikuti Arahan Prabowo Subianto

Pemerintah perlu memetakan tambak tradisional yang bisa didorong  menerapkan inovasi dan teknologi tradisional plus (padat tebar 100 ribu ekor/Ha/ MT) dan semi intensif (padat tebar 300 ribu ekor/ha/MT).
Harapannya  produktifitas bisa mencapai 2 hingga 6 ton/ha/musim  tabur. 

Kebijakan  ini yang dilakukan oleh Equador, India, Vietnam dan Thailand.  Mendorong penerapan inovasi-teknologi tradisional  plus  serta semi intensif  pada tambak rakyat. Dengan skenario itu,  Equador, India dan Vietnam  menggeser posisi Indonesia sebagai  salah satu produsen utama. 

Inovasi dan teknologi berperan penting  dalam revitalisasi ini. Setidaknya sejumlah faktor yang mesti dipedomani  dan diimplementasikan  secara konsisten dengan komitmen yang tinggi.

Baca Juga: Menteri ATR Warning Daerah, Lahan Pertanian Tak Boleh Sembarangan Dialihfungsikan

Perubahan cara pandang atau mindset  para pembudidaya tradisional  terhadap inovasi dan teknologi  budidaya maju menjadi wajib. Proses edukasi dan transformasi menjadi salah satu bentuk intervensi yang mutlak dilakukan.

Tabur benur  sehat dengan   karakter genetik yang jelas jadi faktor krusial. Surveilance pada semua input produksi , terutama benur sudah harus  dibangun  agar jadi budaya yang mengakar, sekaligus koreksi kepada produsen input produksi.  

Sterilisasi air dengan biaya yang lebih murah dan ramah lingkungan tanpa bahan kimia harus ditumbuhkembabgkan. Karena mutu air merupakan "jantung kedua" keberhasilan budidaya. Tidak punya arti dan manfaat benur bagus tapi air tidak bermutu.

Baca Juga: Delis Resmi Jadi Waketum Aspeksindo, Perkuat Peran Morut di Sektor Kelautan Nasional

Sistem budidaya menerapkan  model dua step yaitu nursery dan tambak pembesaran atau growout.  Kemampuan mitigasi terhadap  kemungkinan resiko  perlu dibangun. Demikian pula penerapan biosecurity atau menutup pintu masuk penyakit menjadi bagian  dari SOP.

Dukungan investasi dan modal kerja menjadi pelengkap dari upaya revetalisasi tambak tradisional melalui sejumlah intervensi. Tanpa dukungan pembiayaan maka semua akan berakhir diwacana.

Perlu role model implementasi revitalisasi tambak udang tradisional  yang dirancang  secara terukur agar petambak memperoleh kepastian panen, sekaligus  menunjang program  ketahanan dan kemandirian  pangan.

 

*) Penulis pernah menjadi Kepala Bappeda Sulawesi Tengah, dewan pakar udang vaname nasional,     pengamat ekonomi dan pembangunan.

 

 

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Tambak udang vaname #Produksi nasional #Ketidakpastian panen #Karakter genetik