Oleh: Hasanuddin Atjo *)
DAERAH yang persis terletak di tengah jazirah Pulau Sulawesi dan dllintasi garis khatulistiwa atau equator line, tidak lagi berusia mudah. Tahun 2026, tanggal 13 April merayakan hari jadi ke 62.
Daerah ini tercatat sebagai wilayah paling luas di Sulawesi (sekitar 35 persen). Tahun 2025 memiliki penduduk mencapai 3,15 juta jiwa , peringkat ke 23 dari 38 Provinsi, dan ke 2 di Sulawesi, setelah Sulawesi Selatan (9,6 juta jiwa)
Terkenal karena pernah mengalami bencana 3 dimensi di tahun 2018 yaitu gempa bumi, tsunami dan liquifaksi. Selain pengaruh itu, pertumbuhan ekonomi 2 digit dalam 10 tahun terakhir dampak investasi nikel, gas alam, dan PLTA, melambungkan nama daerah ini pada level nasional dan global.
Baca Juga: HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Dorong Ekonomi lewat Expo
Dilain sisi,. aspek sosial masih menjadi masalah yang cukup serius. Antara lain IMM (indeks modal manusia), kemiskinan, stunting serta kesejahteraan petani nelayan yang relatif rendah dan perlu strategi yang terukur.
Daerah ini menyimpan potensi Agromaritim, yang hingga saat ini belum dikelola berorientasi industri. Memiliki 4 kawasan pengenbangan, yaitu Selat Mskassar, Laut Sulawesi. Teluk Tomini, dan Teluk Tolo yang diapit ALKI II dan ALKI III.
Kaya sumberdaya dan posisi strategis menjadi modal dasar mengembangkan Agromaritim sebagai salah satu lokomotif ekonomi masyarakat Sulawesi Tengah, yang mendekati 65 persen bekerja pada sektor ini.
Baca Juga: Pameran UMKM Ramaikan HUT Sulteng, Dongkrak Perputaran Ekonomi
Harus dipahami Agromaritim adalah konsep terintegrasi antara sektor Pertanian (Agro) dan sektor Kelautan/Perikanan (Maritim) yang selama ini telah dikembangkan tetapi parsial belum berbasis kawasan. Baik di pusat apalagi di daerah.
Pendekatan ini, memandang daratan dan lautan merupalan satu kesatuan dalam produksi, distribusi, dan konservasi yang berkelanjutan. Tidak saling mematikan. Pola ruang dan tataruang jangan dilanggar.
Dari 4 Kawasan, seyogianya dipilih salah satunya menjadi role model. Kawasan Teluk Tomini dipandang paling ideal, karena sumberdayanya yag lengkap baik agro dan maritim
serta perikanan.
Baca Juga: Dukung UMKM dan Ekonomi Lokal, PSMTI Sulteng Bagikan Ribuan Konsumsi di Haul Guru Tua
Kawasan ini juga menjadi lebih strategis oleh hadirnya Proyek Strategis Nasional (PSN) lain seperti PLTA Poso, Neo Energi Parimo Industrial Estate, atau NEPIE Siniu, destinasi Togean, kawasan perkebunan durian, padi, jalan bebas hambatan Tambu - Kasimbar dan usaha tambak udang modern.
Syarat menjadi kawasan industri agromaritim telah dipenuhi dan didukung oleh ketersediaan listrik ( PLTA Poso dan Sigi) untuk produks dan hilirisasi.
Demikian pula halnya dengan konektivitas dan logistik yang selama menjadi salah satu Soal.
Baca Juga: Angka Kemiskinan Turun, Morut Catat Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Sulteng
Bandara Mutiara SIS Al-Jufri yang naik status jadi Bandara Internasional, pengembangan pelabuhan laut Pantiloan dan Donggala dinilai mendukung berkembangnya industri agromaritim dengan prinsip blue dan green economy agar berkelanjutan.
Keberhasilan dari Role Model ini ditentukan kualitas sinergi internal dan eksternal. Secara internal bsgaimana prpgram 9 Berani (Cerdas, Sehat, Lancar, Terang dan Berani Melayani ) mendukung program Berani Makmur
Secara eksternal masyarakat, pelaku usaha, Perbankan dan akademisi berada dalam satu koridor pemikiran dan tindak mendorong lahirnya industri agromaritim berdaya saing dan berkelanjutan.
Baca Juga: Ekonomi Sulteng 2026 Diproyeksi Melambat, Inflasi Desember Terendah dalam 15 Tahun
Terakhir, diyakini "ditangan dingin" Gubernur Anwar Hafid dan wakilnya Reny Lamadjido bahwa harapan tersebut bisa terwujud. Karena peta jalan sudah tepat diawali perbaikan SDM dan diikuti infrastruktur dasar.(***)
*) Penulis adalah mantan Kepala Bappeda Sulteng, pakar udang vaname, analis serta pemerhati ekonomi pembangunan global.
Editor : Muchsin Siradjudin