Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kesiapsiagaan Menghadapi Banjir dan Leptospirosis di Kelurahan Tuweley Kecamatan Baolan Kabupaten Toli-toli

Wahono. • Senin, 9 Maret 2026 | 12:24 WIB

Megawati dan Nur Rismawati
Megawati dan Nur Rismawati

Oleh : Megawati dan Nur Rismawati


Fenomena perubahan iklim telah nyata mempengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data prakiraan dan monitoring cuaca dari BMKG, sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Kabupaten Toli-Toli, diprediksi mengalami peningkatan curah hujan sepanjang musim hujan periode 2025–2026, dengan fase puncak hujan berlangsung hingga April 2026.

 

Curah hujan yang konsisten tinggi, dengan intensitas hujan harian mencapai puluhan milimeter di beberapa wilayah, menunjukkan kondisi atmosfer yang mendukung terbentuknya hujan lebat dan kejadian cuaca ekstrem lain seperti banjir lokal.

 

Kondisi ini menuntut kewaspadaan kolektif karena hujan dengan curah tinggi cenderung memicu akumulasi genangan air yang menjadi pemicu utama terjadinya banjir di dataran rendah atau daerah aliran sungai.

 

 

Banjir merupakan salah satu bentuk fenomena alam yang terjadi akibat intensitas curah hujan yang tinggi di mana terjadi kelebihan air yang tidak tertampung oleh jaringan pemutusan suatu wilayah. Kondisi tersebut berdampak pada timbulnya genangan di wilayah tersebut yang dapat merugikan masyarakat (Harjadi, dkk, 2007).

 

Di wilayah Kabupaten Toli-Toli, kejadian banjir berulang kali dilaporkan pada tahun 2025, misalnya di Kelurahan Tuweley pada 26 oktober 2025 terjadi banjir besar setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari, sehingga debit air meningkat drastis hingga mencapai sekitar 1,5 meter dan merendam 328 rumah warga.

 

Tim SAR dan Basarnas dilaporkan dikerahkan untuk evakuasi warga terdampak, sementara sejumlah keluarga harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

 

Bahaya banjir tidak hanya berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian ekonomi masyarakat. Ketika permukaan air meningkat dan menggenangi wilayah pemukiman, terdapat peningkatan risiko kesehatan yang signifikan.

 

Genangan air yang bercampur dengan limbah, sampah, dan kotoran hewan menjadi media ideal berkembangnya berbagai patogen. Salah satu risiko serius yang sering muncul pasca-banjir adalah wabah penyakit leptospirosis, yang terjadi ketika manusia bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi urin hewan yang membawa bakteri penyebab penyakit ini, terutama tikus.

 

Pada wilayah tropis dan subtropis dunia, penyakit ini meningkat setelah banjir karena bakteri dapat bertahan lama di lingkungan basah dan kontak manusia dengan air banjir menjadi lebih intens.

 

 

Sekilas gejala leptospirosis dapat mirip dengan penyakit umum lain, seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala, tetapi tanpa penanganan tepat dapat berkembang menjadi komplikasi berat seperti gagal ginjal, meningitis, hingga kematian.

 

Tantangan besar menghadapi hujan ekstrem, banjir, dan risiko leptospirosis adalah perlunya langkah-langkah pencegahan terpadu. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur drainase, membersihkan saluran air secara berkala, serta mengintegrasikan mitigasi bencana ke dalam perencanaan tata ruang dan penanggulangan bencana lokal.

 

Upaya kesehatan masyarakat juga harus ditingkatkan dengan kampanye edukasi tentang perilaku aman saat banjir, seperti penggunaan pelindung diri (sepatu boot dan sarung tangan), menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi populasi tikus, serta menyediakan layanan kesehatan dan pengobatan cepat bagi mereka yang menunjukkan gejala infeksi setelah banjir.

 

Pemberdayaan masyarakat melalui latihan kesiapsiagaan banjir, pembentukan relawan kesehatan, serta kolaborasi lintas sektor antara dinas kesehatan, BPBD, dan komunitas lokal akan memperkuat ketahanan wilayah terhadap dampak hidrometeorologi dan penyakit menular.

 

Dengan demikian, kesiapsiagaan komprehensif tidak hanya meminimalkan dampak banjir secara fisik tetapi juga mencegah terjadinya kejadian luar biasa seperti leptospirosis, sehingga Kelurahan Tuweley dan wilayah sekitarnya dapat lebih tangguh dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin meningkat.

 

Penulis, Mahasiswa Prodi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Muammadiyah Palu

Editor : Wahono.
#universitas muhammadiyah palu #Bencana Alam #Tolitoli #opini #Mitigasi