Oleh: Hasanuddin Atjo *)
VISI dua tokoh Sulteng saling beririsan serta menguatkan. Gubernur Anwar Hafid dikenal dengan gagasan program Sembilan Berani. Sedangkan Gubernur sebelumnya, Rusdy Mastura mengusung program Sulteng Nambaso.
Secara harfiah arti Nambaso (bahasa daerah Kaili) adalah kuat, hebat atau besar. Boleh dikatakan berdasarkan visi, misi dan rencana strategis (renstra), program Sembilan Berani merupakan roadmap (peta jalan) menuju Sulteng Nambaso.
Dalam konteks Pemerintahan dan sosial, Nanbaso tersebut berkaitan dengan kemajuan infrastruktur, ekonomi maupun kesejahteraan berkelanjutan warga Sulteng yang menjadi target untuk dicapai.
Ketauladanan diperlihatkan pasangan Anwar Hafid - Reny Lamadjido. Pasangan ini tidak "alergi" menuntaskan program pendahulunya, Rusdy Mastura Sulteng Nambaso, yang sering menjadi tagline pembangkit motivasi dan semangat.
Anwar - Reny berpandangan dan sepakat bahwa tujuan akhir dari kepemimpinannya mempercepat terwujudnya masyarakat Sulawesi Tengah yang Makmur dan Sejahtera serta Berkeadilan.
Sembilan Berani merupakan cara-cara merealisasikan tujuan akhir itu. Basisnya adalah bagaimana melahirkam SDM yang sehat, cerdas, kreatif, dan inovatif. Muaranya pada produktifitas, dengan indikator Indeks Modal Manusia (IMM) atau Human Capital Index (HCI) yang harus dipenuhi.
Tahun 2025, pada level Asia Tenggara, Singapura memiliki nilai HCI tertinggi sebesar 0,88 poin. Maknanya seorang anak yang lahir di Singapura pada hari ini diprediksi pada saat dewasa produktifitas kerjanya akan mencapai 88 persen dari potensi maksimalnya.
Peringkat dua adalah Vietnam, dengan HCI 0,68 disusul oleh Brunei 0,63, Malaysia 0,615, Thailand 0,605, dan Indonesia sebesar 0,54, serta Philipina sekitar 0,53. Sementara Kamboja, Laos, dan Myanmar berada di antara 0,45 hingga 0,49.
Baca Juga: Penemuan Spesies Ngengat Baru Jadi Pengingat Jaga Hutan Sulteng
Dalam konteks pembangunan global dan regional, capaian IMM dikatakan sangat tinggi bila mencapai angka (> 0,80), dan berlaku bagi negara maju. Kategori tinggi (0,70 - 0,80), diperuntukkan bagi negara maju menengah.
Kategori menengah (0,50 - 0,69) ideal bagi kategori negara yang berkembang seperti halnya Indonesia. Terakhir adalah kategori rendah dengan nilai (< 50).
Saat Indonesia emas di tahun 2045, proyeksi nilai IMM Nasional mencapai 0 73, naik sebesar 0,19 poin. Capaian ini setara dengan predikat negara maju kategori menengah. Kontribusi daerah tentunya menjadi kunci, dan sangat strategis.
Sulawesi Tengah tahun 2025 nilai IMM mencapai 0,61. Dan diakhir 2030 diproyeksikan menjadi 0,65, berada pada kategori menengah. Upaya meningkatkan IMM berproses dan memerlukan waktu yang panjang. Diprediksi setelah tahun 2030 nilai IMM Sulteng meningkat signifikan, dampak dari Berani Cerdas dan Sehat.
Setidaknya ada tiga variabel pembentuk IMM yang menjadi tugas bersama antara Provinsi dan Kabupaten Kota. Format untuk hal itu harus dibuat, disepakati dan berkomitmen dalam implementasi.
Ketiga variabel itu adalah, pertama, kelangsungan hidup (survival) seseorang hingga usia lima tahun yang mesti ditingkatkan. Kesehatan dan gizi para ibu hamill dan bayi menjadi perhatian agar tingkat kematian fase itu bisa ditekan.
Kedua, ? pendidikan mencakup harapan lama sekolah dan disesuaikan dengan kualitas pembelajaran. Tidak hanya sekadar hadir di kelas, tetapi benar-benar menyerap ilmu, sehingga memiliki knowledge, skill, dan attitude yang sesuai standar kebutuhan.
Ketiga derajat ?kesehatan yang lebih fokus menekan stunting (pertumbuhan fisik-kognitif), serta angka bertahan hidup hingga dewasa (usia harapan hidup) yang mesti meningkat.
Sejumlah faktor jadi tantangan merealisasikan ketiga variabel tersebut. Mulai infrastruktur kesehatan dan pendidikan, ketersediaan SDM seperti dokter, tenaga medis, guru dan dosen hingga persoalan kemiskinan dan keterisolosian wilayah serta anggaran yang terbatas.
Kualitas integrasi, koordinasi antara Pemerintah Provinsi dengan Kabupaten/Kota, serta antarOPD di Provinsi maupun di Kabupaten/Kota dinilai jadi "penyakit lama" yang mesti dibenahi.
Terakhir, dengan keterbatasan sebaiknya dibuat role model (pilot projek) implementasi upaya meningkatkan IMM di Sulawesi Tengah, agar terukur. Role model ini dapat menjadi bancmarking (projek contoh) untuk ditiru.
*) Penulis adalah Dewan Pakar Udang Indonesia, pengamat ekonomi dan pembangunan.
Editor : Muchsin Siradjudin