Oleh: Hasanuddin Atjo *)
INDONESIA salah satu produsen utama udang vaname, setelah Equador, China, India serta Vietnam. Saatnya tambak udang intensif dan tradisional segera direvitalisasi agar bisa menberi manfaat yang lebih mensejahterahkan
Kinerja industri udang nasional tahun 2025 biasa biasa saja. Produksinya mendekati 500 ribu ton, dan volume ekspor sekitar 200 ribu ton. Kinerja ini terus menurun sejak 2021, dan pada saat itu tercatat sebagai ekspor tertinggi sepanjang sejarah, sebesar 242 ribu ton.
Sangat beda dengan Equador, ditahun yang sama, volume ekspor meningkat menjadi 1,2 juta ton, dari sebelumnya 1, 0 juta ton. Bahkan diproyeksi pada tahun 2026 menembus angka fantastis menjadi 1,5 juta ton.
Padahal gatis pantai mereka hanya 3.200 km dibanding Indohesia hampir 100.000 km. Indiia yang peringkat 3, kurang lebih 8.000 km dan Vietnam sebagai peringkat 4 sekitar 4.000 an km.
Equador juga pernah diterpa masa suram karena serangan penyakit antara tahun 2000 hingga 2010. Produksi mereka kurang dari 100 ribu ton/tahun. Melalui kalibrasi SOP budidaya diikuti ketatnya survelance, mereka bangkit dan menjadi raja udang dunia.
Sekitar 80 persen produksi udang vaname Indonesia adalah kontribusi tambak tebaran tinggi ( 80 - 400 ekor) per meter persegi, atau tambak dengan teknologi intensif dan sedikit teknologi supra intensif.
Sementara itu luas tambak intensif ditambah sedikit supra intensif tidak lebih dari 40 ribu ha, dan sekitar 360 ribu ha merupakan tambak tradisional dan tersebar di wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi serta Nusatenggara.
Kekuatan equador ditopang oleh tambak tebaran rendah (8 - 20 ekor) per meter persegi atau teknokogi tradisional dan semi intensif dengan total areal sekitar 400 ribu ha.
Tingkat keberhasilan tambak di Equador berada diatas 90 persen. Berbeda dengan Indonesia keberhasilan tambak tebaran tinggi sekitar 35 persen. Tambak tebaran rendahpun bernasib sama bahkan lebih parah lagi.
Baca Juga: Anwar Hafid Ajak Pelajar Sulteng Kejar Pendidikan, Siapkan Generasi Menuju Indonesia Emas 2045
Persoalan dari tambak udang dua teknologi itu dikarenakan serangan penyakit yang tidak pernah usai. Datang silih berganti. Mulai virus WSSV (White Spot Syndrome Virus), IMNV (Infectious Myonecrosis Virus), hingga WFD (White Feces Desease).
Penyakit teranyer adalah dari kelompok bakteri vibrio, dan disebut AHPND / EMS (Early Mortality Syndrome), terakhir adalah EHP Enterocytozoon hepatopenaeid. Dua penyakit terakhir cukup ganas terutama AHPND.
Indonesia pernah berkeinginan memproduksi udang sebesar 2 juta pada akhir tahun 2024. Semangat itu lebih kepada pertimbangan memiliki potensi sumberdaya besar antara lain garis pantai 100.000 km dan luas areal existing 400.000 ha dan potensi areal yang belum digarap.
Sebaiknya produksi Vaname difokuskan pada kontribusi dari tambak tambak tebaran tinggi. Karenanya perlu upaya revitalisasi terhadap tambak tersebut yang pada saat ini banyak tidak beroperasi lagi, karena merugi diakibatkan penyakit dan tingginya HPP.
Harapannya bila revitalisasi dapat dijalankan secara baik, (pendekatan sustainibiliti), maka paling tidak produksi udang nasional meningkat dua kali lipat menjadi 1 juta ton dan ekspornya diharapkan bisa mencapai. angka 400 ribu ton per tahun.
Revitalisasi dimulai konstruksi tambak, diikuti kalibrasii SOP budidaya meliputi : sterilisasi air, sistem budidaya dua step (Nursery dan Growout), dan penerapan biosecurity, serta penanganan buangan melalui IPAL agar sumber air terjaga.
Dukungan ketersediaan benih urang (benur) yang berkualitas jadi salah satu faktor kunci yang mesti dibenahi. Terbatas hatchery (pabrik benur) yang sanggup memproduksi benur sehat dengan karakteristik genetik ysng jelas.
Boleh dikata sebagian besar benur telah bersoal sebelum ditabur. Karena itu tiga poin penting yqng mesti dibenahi yaitu pengembangan genetik , mutu nutrisi dan penerapan secara utuh biosecurity pada fase ini.
Tambak tambak tradisional yang saat ini arealnya sekitar 360 ribu ha, dinilai kurang layak lagi untuk menproduksi udang Vaname. Jikalau ada umumnya dilakukan secara tumpangsari dengan bandeng atau ikan nila.
Sangat realistis bila tambak tanbak tradisional dialihkan dan fokus memproduksi nila salin yang juga disebut "New Shrimp", dikarenakan menjadi komoditi ekspor, dibudidaya
hingga salinitas 25 - 30 Permil serta memiliki pertumbuhan yang cepat mencapai 800 gr kurun waktu lima bulan. Selain itu rasanya lebih gurih karena kandungan mineral.
Saat ini permintaan ikan Nila untuk pasar ekspor ke AS, UE, Rusia, Meksiko, Timur Tengah dan Kanada sangat tinggi. Hanya saja Indonesia belum belum berperan signifikan mengisi permintaan, karena terkendala ukuran ikan yang umumnya belum memenuhi standar.
Ukuran ikan Nila untuk ekspor minimum 600 gr karena akan di ekspor dalam bentuk fillet. Hilirisasi dari Nila (dipelihara di tambak payau dan tawar) mesti diranczng terijtegrasi hulu dan hilir.
Kunci keberhasilan ini sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam genetic improvement agar memiliki parents stock yang unggul antara lain laju pertumbuhan yang tinggi dan tahan penyakit.
Terakhir tercapainya tujuan ini sangat dioengaruhi peran regulator antara lain dukungan lembaga keuangan agar bisa memberi dukungan rencana revitslisasi sektor hulu dan hilir dari industri Udang maupun Nila Nasional.
*) Penulis Adalah Dewan Pakar Udang Nasional, dan pengamat Ekonomi Pembangunan Sulawesi Tengah.
Editor : Muchsin Siradjudin