Oleh: Nelly Muhriani *)
INTERVENSI langsung Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Dr. Anwar Hafid, kepada seluruh pejabat dan staf di jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng terbukti bukan sekadar imbauan normatif.
Kebijakan satu-satunya Gubernur di Indonesia terkait salat jamaah ini nampaknya mulai menjelma menjadi gerakan nyata, yang perlahan namun pasti mengubah wajah spiritual di pusat pemerintahan daerah ini.
Jika selama ini jamaah salat Subuh di Masjid Al-Mujahidin, yang terletak di kompleks Kantor Gubernur Sulteng, Jalan Samratulangi Palu, masih bisa dihitung dengan jari, maka pemandangan itu kini tinggal kenangan.
Sejak kepemimpinan duet BERANI mengambil kendali, masjid yang dulu lengang mulai kembali menemukan denyut kehidupannya.
Puncaknya terjadi pada Subuh Berkah, Jumat (9/1/2026). Jamaah, baik lakilaki maupun perempuan, tak lagi mampu ditampung oleh masjid tersebut.
Shap salat meluber hingga ke area luar masjid, menciptakan pemandangan yang selama bertahun-tahun nyaris tak pernah terlihat di jantung pemerintahan daerah dengan julukan daerah seribu megalith ini.
Fenomena ini tentunya bukan kebetulan. Langkah-langkah Gubernur asal Desa Wosu Morowali ini yang secara tegas mengintervensi dengan hukum “wajib” bahkan “mengegas” seluruh pejabat dan ASN agar tidak sekadar disiplin di meja kerja, tetapi juga di hadapan Sang Pencipta, menjadi lokomotif utama perubahan ini.
Di tengah rutinitas birokrasi yang selama ini dirasakan kerap kering dari sentuhan spiritual, Anwar Hafid seperti ingin menegaskan satu pesan sederhana namun kuat: kepemimpinan bukan hanya soal administrasi dan program, tetapi juga keteladanan moral.
Bahkan pada Subuh berkah Jumat kali ini, magnetnya sudah menembus Kapolda Sulteng Irjen Pol Endi Sutendi pun bersama jajarannya mulai ikut dalam subuh berkah.
Masjid yang ramai, terutama pada saat Subuh bukan sekadar soal angka jamaah. Ia adalah simbol hidupnya nurani birokrasi. Ketika pejabat dan staf pemerintah mulai membiasakan diri hadir di masjid sebelum matahari terbit.
Fenomena baru ini semoga membawa harapan bahwa semangat kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab akan ikut terbawa ke ruang-ruang pelayanan publik. Seperti apa yang diinginkan bersama.
Untuk sebuah gerakan Subuh berkah yang masuk dalam Sembilan Berani ini, tak hanya sekadar memantau dari jauh soal gerakan Subuh berjamaah ini, Gubernur Anwar Hafid bahkan lebih dulu memberi contoh langsung.
Masyarakat yang menyaksikan langsung mulai melubernya jamaah di Masjid Al-Mujahidin tentu berharap, semangat Subuh Berkah ini tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Konsistensi menjadi kunci.
Sebab, perubahan budaya—terlebih di lingkungan birokrasi—hanya akan bermakna jika dijaga secara berkelanjutan.
Kini, Masjid Al-Mujahidin bukan lagi sekadar bangunan pelengkap di kompleks perkantoran Gubernur.
Ia perlahan bertransformasi menjadi pusat spiritual pemerintahan, tempat nilai-nilai integritas dan keteladanan ditanamkan sejak dini, bahkan sebelum jam kerja dimulai.
Jika semangat ini terus dijaga, bukan mustahil “Subuh Meluber” akan menjadi tradisi baru di Sulawesi Tengah, tradisi yang menandai bahwa pemerintahan yang kuat selalu berangkat dari iman, disiplin, dan keteladanan pemimpin.
Kita berharap gerakan Subuh berkah tentunya akan menular hingga ke seantero daerah ini, amiin yaa Rabbal alaamiin.
*) Penulis adalah ASN yang sehari-hari bekerja di Sekretariat DPRD Sulteng.
Editor : Muchsin Siradjudin