Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ironi Eksploitasi Nikel di Era Transisi Energi

Muchsin Siradjudin • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:26 WIB
Meity Ferdiana Paskual (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Meity Ferdiana Paskual (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Meity Ferdiana Paskual *)

NIKEL, tanpa kita sadari telah menjadi satu dari beberapa logam yang paling dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak barang yang kita gunakan mulai dari barang dapur, bahan bangunan, peralatan kantor, kendaraan hingga kesehatan dan industri lainnya menggunakan bahan dasar nikel.

Nikel digunakan pada barang seperti pisau dan sendok stainless-steel di dapur, gagang pintu dan peralatan rumah tangga, hingga baterai ponsel dan laptop.

Nikel juga menjadi strategis di era transisi energi baru dan kendaraan listrik, sebagai bahan baku baterai dan baja tahan karat. Namun di balik kemegahan “kemajuan teknologi” itu, terselip pertanyaan besar: apa harga yang harus dibayar oleh lingkungan dan generasi mendatang?

Dominasi Indonesia dalam catatan sumber daya nikel sangat besar. Indonesia terdaftar sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.

Menurut laporan Tahun 2023, Indonesia memiliki total cadangan logam nikel sekitar 55 juta metrik ton (USGS, 2024). Angka tersebut setara dengan 42,3 persen dari cadangan nikel dunia.

Tak hanya memiliki Cadangan terbesar di dunia, Indonesia juga menduduki posisi pertama sebagai produsen nikel terbesar di dunia. USGS (2024) mencatat produksi nikel Indonesia Tahun 2023 sebesar 1.800.000 metrik ton atau setara 50 persen dari total produksi nikel dunia.

Volume ini jauh melampaui produksi negara lain, dan menunjukkan dominasi Indonesia dalam suplai nikel global.

Dominasi ini datang dengan konsekuensi serius. Pada satu sisi, Media online Top Metro News (Edisi 17 Juni 2025) mencatat pada 2024 produksi nikel Indonesia mencapai ? 2,2 juta metrik ton (Top Metro News+2GoodStats Data+2).

Bila dihitung rerata pertumbuhan produksi setiap tahunnya sebesar 18 persen, maka cadangan nikel Indonesia diperkirakan habis pada tahun 2034.

Pada saat yang bersamaan, di sisi lain produksi nikel melahirkan masalah serius bagi dampak kerusakan lingkungan dan sosial.

Sejumlah studi dan laporan lapangan menunjukkan bahwa pertambangan dan pengolahan nikel di Indonesia telah menyebabkan kerusakan ekologis dan krisis bagi masyarakat lokal.

Pertama, Deforestasi dan kerusakan habitat — Peningkatan produksi nikel berbanding lurus dengan degradasi hutan, hilangnya habitat, dan kontaminasi tanah serta udara (ResearchGate+2IUCN+2).

Kedua, bahaya untuk masyarakat lokal — Aktivitas pertambangan mengancam hak atas air bersih, memicu polusi air dan udara, serta berdampak negatif terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir dan adat (Climate Rights International+2Climate Rights International+2).

Ketiga, bencana lingkungan & risiko keselamatan — Ada catatan longsor limbah tambang, pencemaran laut, serta pencemaran tailings (limbah industri) yang mengancam ekosistem laut, termasuk koral dan biota laut di kawasan pesisir (Mongabay+2Mongabay+2).

Keempat, ancaman terhadap kawasan keanekaragaman hayati — Bahkan kawasan konservasi dan laut bernilai ekologis tinggi, seperti di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, ikut terancam oleh ekspansi tambang nikel (Mongabay+1).

Berbagai riset dan catatan kritis di atas menunjukan bukti bahwa “kemajuan” industri nikel bagi beberapa pihak sering dibayar mahal oleh lingkungan, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat lokal, terutama mereka yang bergantung pada alam untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dari seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga pelaksanaan tatakelola sumberdaya dengan arif dan bijaksana. Sumber daya alam bukan hanya memiliki nilai ekonomis, melainkan juga memiliki nilai warisan bagi generasi.

Masa depan ekonomi hijau Indonesia sangat bergantung pada bagaimana nikel dikelola hari ini.

Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci agar sumber daya strategis ini tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga pendorong kesejahteraan dan keberlanjutan bagi generasi mendatang demi tercapainya ekonomi berkeadilan.

Semoga generasi saat ini sadar dan berhenti menjadi generasi yang tamak nikel. Manusia tidak pernah akan dapat memulihkan ekosistem seperti semula seperti yang dilakukan oleh alam.


*) Penulis adalah akademisi Prodi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunn FEB-Untad.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Era transisi energi #Dibayar mahal oleh lingkungan #Kehidupan masyarakat lokal #Ironi eksploitasi nikel