Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Investasi dan Ancaman Pembangunan Terdidik di Sulteng, Pendidikan dan Kesehatan Merupakan Investasi Paling Lama Baru Dinikmati

Muchsin Siradjudin • Senin, 1 Desember 2025 | 13:41 WIB

 

Moh. Ahlis Djirimu (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Moh. Ahlis Djirimu (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

Oleh: Moh. Ahlis Djirimu *)

INVESTASI merupakan poin penting pada suatu negara dan daerah. Walaupun sifatnya time lag atau adanya grace period yakni modal kita tanam sekarang dapat menghasilkan setahun atau beberapa tahun ke depan, namun, tetap dibutuhkan.

Investasi ditentukan oleh suku bunga dan perubahan pendapatan nasional. Kenaikan suku bunga membuat investasi menurun dan sebaliknya. Kenaikan perubahan pendapatan dapat meningkatkan investasi.

Sebaliknya, investasi mempengaruhi pula pendapatan nasional. Investasi dapat menciptakan lapangan pekerjaan bila sifat investasi padat karya.


Satu dari berbagai Solusi Pembangunan di Sulteng adalah investasi.

Pendidikan dan Kesehatan merupakan investasi paling lama baru dinikmati.
Artikel ini lebih fokus pada investasi fisik. Pada periode 2022-2024, realisasi investasi meningkat dari Rp111,18,- triliun pada 2022 menjadi Rp139,88,- triliun pada 2024 atau meningkat 12,17 persen.

Di Tahun 2025, Pemerintah Provinsi Sulteng menargetkan investasi sebesar Rp162,57,- triliun yang, sedangkan realisasinya hingga November 2025 mencapai Rp97,61,- triliun.

Investasi tersebut berdampak pada penyerapan Tenaga Kerja. Penyerapan Tenaga Kerja meningkat dari 40.959 jiwa pada 2022 menjadi 50.773 jiwa pada 2024 atau meningkat 11,34 persen. Di Tahun 2025, serapan Tenaga Kerja atas terbukanya lapangan kerja tersebut mencapai 22.329 jiwa.

Namun demikian, terbukanya lapangan kerja tersebut patut dimaknai bahwa investasi berada pada sektor padat modal pada Kawasan Industri yakni PT. Indonesia Morowali Industrial Park (PT. IMIP), PT. Wanxian Nickle Industries, PT. Transon Bumindo Resource, serta terakhir pada PT. Indonesia Huabao Industrial Park (PT. IHIP).

Tentu saja Kawasan Industri Padat Modal membutuhkan Tenaga Kerja berketrampilan tinggi, sehingga lulusan sarjana baru atau fresh graduate wajib mengikuti program ketrampilan di Balai Latihan Kerja (BLK) industry dan memiliki masa probation period atau masa percobaan sebagai tenaga kerja alih daya.

Selain itu, korporasi lebih memilih tenaga kerja alih daya ketimbang pekerja tetap karena lebih mudah memberhentikan kontraknya tanpa pesangon.

Sulteng saat ini, masih menghadapi masalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yakni sebesar 49,70 ribu orang atau Sulteng. Proporsinya 2,92 persen dari jumlah penduduk Sulteng dengan persentase pengangguran tertinggi berada di Kota Palu yakni 5,59 persen dan Kabupaten Banggai laut mencapai 3,69 persen di posisi kedua.

Tingkat pengangguran terbuka lakilaki mencapai 2,69 persen lebih sedikit dibandingkan tingkat pengangguran terbuka Perempuan mencapai 3,29 persen.

Pengangguran di Sulteng didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menjadi ironi karena SMK disiapkan sebagai lifeskill memasuki lapangan kerja mencapai 5,48 persen.

Sedangkan Tingkat pengangguran terbuka tertinggi kedua adalah lulusan Diploma IV, lulusan S1, S2, S3 mencapai 4,11 persen.

Hingga periode Tahun 2022 sampai dengan September 2025, terdapat 5 besar sektor yang mempunyai realisasi akumulasi investasi dan penyerapan tenaga kerja.

Pertama, industri Logam Dasar, Barang Logam Bukan Mesin dan Peralatan dengan realisasi invetasi mencapai Rp330,35,- triliun dan penyerapan tenaga kerja mencapai 90.408 orang yang satu di antaranya adalah PT. Fajar Metal Industry.

Kedua, Industri Kimia dan Farmasi dengan realisasi investasi mencapai Rp73,89,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 8.948 orang yang satu di antaranya adalah PT. Kinxiang New Energy Technologies Indonesia.


Ketiga, Sektor Pertambangan yang realisasi investasi mencapai Rp19,31,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 13.263 orang yang satu di antaranya adalah PT. Vale Indonesia.

Keempat, Sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran yakni PT. IMIP yang realisasi investasi mencapai Rp11,22,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 5.017 orang.

Serta Kelima, Sektor Listrik, Gas dan Air Minum yang realisasi investasi mencapai Rp7,09,- triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2.803 orang yang didominasi oleh PT. PLN (Persero).

Namun, penyerapan tenaga kerja tersebut berbagi masing-masing separuh berasal dari Sulteng dan separuh dari luar Sulteng. Selain itu, setiap hari, ada 55 orang calon tenaga kerja masuk ke wilayah Kabupaten Morowali mencari peruntungan di Kawasan industry.

Berbeda dengan daerah lain, adanya ancaman menjadi peluang bagi Sulteng karena tenaga kerja di Sulteng masing-masing mempunyai proporsi yang sama bekerja berdasarkan daerah asal Sulteng dan Non Sulteng.

Ini berbeda dengan Kalimantan dan daerah di Pulau Sulawesi yang mempunyai proporsi lebih besar mencapai 70 persen asal daerah sendiri dan 30 persen daerah luar Sulteng. Lifeskill merupakan solusi.

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan pengusaha memberikan pelatihan di Balai Latihan Kerja Disnakertrans Sulteng.

Betapa kagetnya beliau ternyata dari 150 orang peserta, hanya enam orang lulusan SMK, selebihnya lulusan Strata 1 dan 2. Hal ini berarti, ada ancaman pada tenaga kerja terdidik dan semakin lama lulusan perguruan tinggi bekerja pada bidang yang tidak memerlukan ketrampilan tinggi.

Artinya, asal mendapat pekerjaan ketimbang menganggur. Magang berbayar setara Upah Minimum Provinsi (UMP) menyediakan 28 ribu pos magang merupakan kabar baik Kerjasama pemerintah dan Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Bila para lulusan perguruan tinggi ini ingin melanjutnya studi ke jenjang lebih tinggi, tidak ada salahnya memanfaatkan beasiswa Lembaga Penyelenggara Dana Pendidikan (LPDP) sesuai skema beasiswa yang dapat ditentir oleh “Mata Garuda”, sebutan bagi alumni LPDP agar dapat berhasil dalam persaingan.

*) Penulis adalah Guru Besar Bidang Ekonomi Internasional FEB-Universitas Tadulako.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#investasi #Di Sulteng #Investasi pendidikan dan kesehatan #Dan ancaman pembangunan terdidik