Oleh : Salihudin M. Awal *)
DELAPAN dekade bukan waktu yang singkat bagi TNI. Dari medan perjuangan kemerdekaan hingga menjadi kekuatan pertahanan modern, TNI telah melewati banyak babak sejarah, menjadi saksi, sekaligus aktor utama perjalanan bangsa.
Namun di usia matang ini, tantangan TNI bukan lagi sekadar menjaga perbatasan atau menumpas ancaman bersenjata. Dunia telah berubah. Politik global kini bekerja lewat jaringan diplomasi, ekonomi, dan teknologi.
Dalam lanskap seperti itu, militer tak bisa lagi hidup dalam sekat nasionalisme sempit. Ia harus menjadi bagian dari percakapan global, tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.
Sejak reformasi, TNI telah menegaskan profesionalismenya: keluar dari politik praktis dan fokus pada pertahanan negara. Namun, seperti diingatkan Marcus Mietzner (ANU, 2006), bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar hilang.
Tetapi modernisasi militer tidak boleh membuat kita lupa pada kemandirian. John Bradford (University of Hawaii, 2004) mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap alutsista asing adalah bentuk kolonialisme baru dalam politik pertahanan.
Karena itu, membangun industri pertahanan nasional menjadi keniscayaan agar TNI tidak hanya kuat, tetapi juga berdaulat.
Hari ulang tahun TNI ke delapan puluh seharusnya menjadi momentum refleksi. Pertama, memperkuat supremasi sipil agar kebijakan pertahanan tetap berada dalam kerangka konstitusi. Kedua, menjaga profesionalisme agar TNI tidak tergoda oleh politik kekuasaan. Ketiga, mempercepat kemandirian pertahanan nasional melalui inovasi teknologi dan riset anak bangsa.
TNI yang kita butuhkan hari ini bukan yang ditakuti, melainkan yang dicintai rakyatnya. Kekuatan sejati bukan pada senjata, tetapi pada moral dan kepercayaan publik.
Di tengah perubahan global yang cepat, semoga TNI tetap tegak sebagai benteng kedaulatan sekaligus penjaga martabat bangsa.
Selamat ulang tahun ke delapan puluh, TNI. Jayalah selalu untuk Indonesia.
*) Penulis adalah Pengamat Politik dan Ekonomi.
Editor : Muchsin Siradjudin