Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Selamat Berpisah, Mekkah dan Madinah. Dua Kota Suci Tempat Umat Islam Berteduh Selama 41 Hari Disusuri Menuju Pengampunan

Muksin Sirajuddin • Rabu, 25 Juni 2025 | 18:21 WIB

Baca Juga: BP3MI Sulteng dan Pemkab Sigi Sosialisasikan Migrasi Aman, Cegah Pekerja Nonprosedural

BERPISAH :Saat-saat berpisah dengan tempat sucimu yaa Allah, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Madinah.(FOTO : ISTIMEWA/RADAR PALU)
BERPISAH :Saat-saat berpisah dengan tempat sucimu yaa Allah, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Madinah.(FOTO : ISTIMEWA/RADAR PALU)

Oleh : Salihudin M. Awal *)

HARI ini, 25 Juni 2025, kami galau di ambang perpisahan. Mekkah dan Madinah—dua kota suci yang selama 41 hari menjadi tempat kami berteduh, beribadah, dan menyusuri jalan sunyi menuju pengampunan.

Tiga puluh dua hari kami bermukim di Mekkah, dan sembilan hari di Madinah. Bersama rombongan kloter 7 Debarkasi BPN dan KBIHU Menara Babussalam dibawah pimpinan H. Mustamin Umar yg bijak bestari, waktu terasa seperti debu yang beterbangan—terlihat ringan, tapi sarat makna. Setiap detik di tanah suci menyimpan kisah, setiap langkah adalah pelajaran, setiap peluh adalah doa.

Haji bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah perjalanan ruhani yg menguji batas, menggugurkan gengsi, dan menyingkap siapa diri kita sebenarnya di hadapan Tuhan.

Ujian paling nyata dimulai ketika kami hendak berangkat ke Arafah. Kami diperintahkan agar bersiap sejak jam 7 pagi, tapi bis tak kunjung datang hingga malam menjelang. Kami duduk di lobi hotel selama sepuluh jam, tak berdaya. Letih menyerang, tapi kami bertahan. Kami tahu, haji bukan soal kenyamanan.Ia tentang sabar, dan sabar itu sering kali diuji dalam diam.

Ketika akhirnya kami tiba di Arafah, tenda kami sudah ditempati jamaah lain. Kami terdiam, lelah, bingung. Tak tahu di mana harus menaruh barang, tak tahu di mana harus rebah. Sebagian dari kami duduk di luar, mencari tempat di bawah langit. Tapi siapa pun yang pernah sampai di Arafah pasti tahu—ini bukan tempat untuk mencari kenyamanan. Ini tempat manusia menyuarakan tangis jiwanya di hadapan Sang Pencipta.

Akhirnya kami istirahat seadanya karena besok adalah wukuf yg menjadi puncak haji, puncak doa2 panjang akan dilangitkan.

Lalu kami bergerak ke Muzdalifah, mabit beberapa jam di atas karpet lusuh yg dibawahnya banyak kerikil yg menyembul Malam itu kami berpayung bintang. Tak banyak yang bisa kami lakukan selain berusaha tidur dan menyiapkan diri untuk Mina.

Perjalanan ke Mina menjadi babak berat berikutnya. Antrian bis tak kunjung selesai. Banyak dari kami yang akhirnya berjalan kaki di tengah malam, di bawah langit yang kering dan jalanan yang penuh sesak. Yang naik bis pun tak lepas dari ujian: perjalanan berjam-jam hanya untuk menempuh jarak beberapa kilometer. Udara pengap, waktu seakan berhenti, dan tubuh terasa luruh.

Tiba di Mina, kami disambut lagi oleh keterbatasan: toilet penuh, tempat tidur berdesakan, sempit, makanan tak sesuai selera, dan medan lontar jumrah yang menuntut langkah panjang dan sabar. Tapi justru di sanalah terasa indahnya haji: ketika kita lelah, tapi tetap memilih ikhlas. Ketika kita sakit, tapi masih bisa bersyukur. Ketika kita menangis, tapi karena haru, bukan keluhan.

***

Lalu kami tiba di Madinah. Kota Nabi yang menyambut dengan keramahan. Panasnya udara didinginkan oleh auranya yang sejuk.

Setiap sudut kota ini serasa mengundang kita untuk menenangkan diri, mengistirahatkan batin, dan menyelami keteladanan.

Di Masjid Nabawi, kami bersujud lebih lama. Ada rasa tenang yang tidak kami temukan di tempat lain. Di Raudhah, kami menangis tanpa suara. Rasa cinta kepada Rasulullah seperti mengalir dari dinding-dinding masjid ke dalam dada kami.

Di kota ini, kami tidak sekadar berjalan—kami menapak sejarah. Kami tidak sekadar bershalawat—kami merajut rindu. Kami merasa seolah Rasulullah sedang bersama kami, mengajar dengan kelembutan, memeluk kami dengan kasih yang tak berbatas.

Kami tahu, waktu pulang telah tiba. Koper sudah ditutup, pakaian sudah dilipat, namun hati belum rela. Kami akan terbang dari Bandara Madinah menuju Debarkasi Balikpapan, lalu pulang ke rumah: ke Palu, Morowali, Tojo Una-Una, Banggai, Bangkep. Tapi kami sadar, yang kembali bukanlah diri yang sama.
Kami datang sebagai hamba penuh luka dan dosa. Kami pulang sebagai jiwa yang mencoba menjadi bersih, walau tak sempurna. Kami membawa kenangan, membawa pelajaran, membawa perubahan. Dan yang paling berat: kami membawa rindu yang tak akan pernah padam.

Mekkah dan Madinah, terima kasih telah menerima kami yang penuh cacat ini. Terima kasih atas pelukan spiritual yang telah mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa.

Maafkan langkah-langkah kami yang tak selalu khusyuk. Doakan kami tetap istiqamah di tanah kelahiran kami.

Dan jika Allah mengizinkan, kami ingin kembali. Walau hanya untuk mencium tanahmu, sujud di Multazammu, mengulang dzikir di shaf-shaf panjangmu, dan menangis lagi dalam Raudhahmu.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

*) Penulis adalah jamaah Haji Kota Palu, Kloter 7 Debarkasi Balikpapan.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Ibadah Haji 2025 #Mekkah dan Madinah #Arafah Arab Saudi #sulawesi tengah #berpisah #tanah suci #pulang #Indonesia #mina #muzdalifah