Oleh: Dr. Stepanus Bo'do (Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Tadulako)
LANGKAH koran ini berganti nama dari Radar Sulteng menjadi Radar Palu tentu mengejutkan sebagian pembacanya, namun bagi saya, ini adalah keputusan strategis yang sarat makna.
Di satu sisi, perubahan ini mencerminkan upaya adaptasi terhadap tantangan industri media cetak yang makin tergerus oleh platform digital. Di sisi lain, rebranding ini punya resonansi kultural yang menarik jika kita lihat melalui lensa budaya lokal, khususnya praktik ganti nama dalam budaya masyarakat Indonesia.
Rebranding diumumkan secara resmi pada 23 Mei 2025 oleh PT Radar Sulteng Membangun, anak perusahaan dari Jawa Pos Group. Dalam penjelasannya melalui artikel khusus koran, redaksi menyampaikan bahwa penggantian nama ke Radar Palu diharapkan bisa menghadirkan semangat baru, memperkuat kualitas jurnalistik, dan mempertegas identitas lokal.
Kata “Palu” dipilih bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Kaili, “Palu” bermakna “tanah yang bangkit”—sebuah simbol kuat, terlebih dalam konteks Kota Palu yang pernah luluh lantak oleh bencana pada 2018 namun terus bangkit dengan semangat luar biasa.
Identitas Lokal, Fungsi Sosial
Rebranding ini tentunya bukan soal ganti nama, melainkan juga penegasan identitas dan reposisi koran ini dalam ekosistem media dan komunikasi lokal. Nama “Palu” membawa kedekatan emosional sekaligus tanggung jawab sosial yang lebih spesifik. Ia menandai pergeseran dari cakupan wilayah luas ke fokus yang lebih tajam, yakni menjadi suara dan cermin masyarakat Palu dan sekitarnya.
Menariknya, nama Radar tetap dipertahankan. Ini adalah pilihan yang cerdas dan strategis. Secara lokal, Radar telah lama menjadi identitas yang dikenali dan dipercaya. Secara struktural, Radar juga mencerminkan konektivitas dalam jejaring media Jawa Pos Group yang tersebar di berbagai daerah. Ini sejalan dengan semangat zaman kita hari ini—apa yang oleh Manuel Castells disebut sebagai network society atau masyarakat jejaring.
Dalam The Rise of the Network Society (1996), Castells menulis bahwa, "Our societies are increasingly structured around the bipolar opposition of the global and the local.” Dalam konteks ini, mempertahankan nama Radar sambil menambahkan identitas lokal “Palu” adalah wujud nyata dari dualitas tersebut: menjadi lokal secara substansi, tetapi tetap terhubung secara struktural.
Jaringan Radar dalam tubuh Jawa Pos tidak hanya memperkuat distribusi informasi, tetapi juga menciptakan solidaritas antarwilayah melalui narasi dan isu yang saling bersinggungan.
Dengan demikian, Radar Palu menyuarakan lokalitas dengan kekuatan jaringan. Di era digital ini, kekuatan media tidak lagi terletak hanya pada infrastruktur atau modal, melainkan pada kemampuannya menjalin dan memelihara koneksi sosial serta memperkuat ekosistem informasi yang demokratis.
Komitmen Keberlanjutan dan Refokus Strategis
Dalam konteks krisis kepercayaan terhadap media dan tantangan ekonomi yang dihadapi industri pers, langkah ini juga menunjukkan upaya membangun keberlanjutan. Radar Palu tidak hanya memperkuat kedekatan dengan pembaca akar rumput, tapi juga mulai mereposisi dirinya sebagai media yang relevan untuk khalayak pengambil keputusan. Peliputan yang berbasis data, investigasi lokal, dan jurnalisme solusi menjadi peluang agar media tidak sekadar hadir, tapi berdampak.
Lebih dari itu, keberlanjutan media lokal sangat bergantung pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara suara masyarakat dan kebutuhan informasi para pengambil kebijakan. Di sinilah Radar Palu dapat memainkan peran penting sebagai jembatan komunikasi—mengangkat isu-isu lokal ke tingkat wacana strategis, dan sebaliknya, menerjemahkan kebijakan ke dalam narasi yang mudah dipahami publik.
Selamat dan Semoga Sukses
Sebagai bagian dari masyarakat yang tumbuh bersama Radar Sulteng, saya menyambut baik transformasi ini. Nama boleh berubah, namun semangatnya harus tetap: menjadi media yang berpihak pada kebenaran, keberagaman suara, dan kepentingan publik.
Selamat kepada Radar Palu. Semoga nama baru ini membawa napas baru untuk terus mengetuk kesadaran, membentuk opini, dan membangkitkan harapan masyarakat Palu dan Sulawesi Tengah secara luas. Semoga sukses dan terus jadi palu yang membangun peradaban.
*)Penulis adalah pengajar jurnalisme dan meneliti perkembangan media dan masyarakat digital. Email:stepanusbodo@gmail.com
Editor : Agung Sumandjaya