Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

AI, Sensor Baru, dan Ketahanan Media untuk Arena Publik

Agung Sumandjaya • Selasa, 6 Mei 2025 | 08:18 WIB
Photo
Photo

 

Oleh: Stepanus Bo'do (Dosen Ilmu Komunikasi- Universitas Tadulako) 

"Kebebasan pers mungkin tidak lagi dibungkam dengan tangan besi, tapi dengan baris-baris kode Algoritma."

Dari Ancaman ke Ketahanan

Liputan dan pemberitaan media pada Diskusi Hari Kebebasan Pers Sedunia di Hotel Khas Palu, pada Sabtu 3 Mei 2025, banyak menyoroti ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap kebebasan pers: sensor algoritmik, dominasi platform digital, serta risiko disinformasi dan plagiasi. Di Sulawesi Tengah, tantangan ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur digital dan rendahnya literasi media.

Namun, penulis berpandangan fokus pada ancaman saja tidak cukup. Saatnya kita bergeser ke arah membangun ketahanan media lokal kita.

Ketahanan ini bisa tumbuh dari komitmen jurnalis sebagai pencerita budaya, serta dari kesadaran kritis publik terhadap berita. Berita adalah public goods—aset bersama yang menopang arena publik, tempat suara lokal didengar dan demokrasi dijaga. Dengan kesiapan menghadapi AI dan edukasi publik yang memadai, media lokal dapat menjadikan teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan alat pemberdaya.

Kegelisahan di Palu

Sabtu pagi itu, penulis duduk di ruang ber-AC Hotel Khas Palu, bersama jurnalis senior Yardin Hasan, Ketua AMSI Sulteng Muhammad Iqbal sebagai narasumber, dan  Yahya Moh Ilyas dari AJI Palu sebagai moderator. Meski Maleo room cukup dingin, diskusi berlangsung hangat, apalagi ada kegelisahan tentang masa depan jurnalisme lokal. Acara itu dibuka oleh ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Agung Sumanjaya.

Yahya memantik diskusi dengan pertanyaan: Apa dampak AI bagi jurnalisme lokal? Iqbal, yang mendapat giliran pertama, menjelaskan bahwa AI memang menghadirkan efisiensi dalam penulisan dan pencarian data. Di Indonesia penggunaan Ai dimulai dengan penggunaan robot. Seiring waktu, semakin banyak pekerjaan di ruang redaksi bisa dilakukan dengan teknologi AI. Perkembangan ini telah memicu gelombang PHK dan ketimpangan distribusi berita, terutama akibat dominasi platform global seperti Google. Selain itu, ada gejala korporasi maupun lembaga pemberintah menggunakan AI untuk mengendalikan konten-konten mengandung kata kunci  tertentu agar tidak mencapai pembaca di wilayah tertentu.  Ia juga menyoroti pentingnya regulasi seperti Publisher Rights yang tengah diperjuangkan agar media lokal mendapat hak atas distribusi dan monetisasi konten mereka.

Yardin Hasan menambahkan bahwa AI membawa risiko etis yang serius, termasuk potensi penyensoran halus dan plagiasi. Ia mencontohkan pelarangan peliputan acara Danantara oleh Presiden Prabowo sebagai bentuk kontrol terhadap media. Namun demikian AI juga dapat menjadi alat pendukung kerja-kerja jurnalis asal digunakan secara etis, bukan untuk merekayasa fakta. 

Seorang peserta, Firdaus, menyampaikan kekhawatirannya bahwa yang lebih menakutkan bukanlah AI itu sendiri, melainkan jika rezim pemerintah menggunakannya untuk mengawasi dan mengontrol konten media secara sistematis.

Tongsis Digital dan Pencerita Budaya

Pada diskusi tersebut, saya mencoba menjaga optimisme dengan mengutip ahli teori media, Marshall McLuhan yang melihat teknologi dan media sebagai 'the extensions of man', perpanjangan tangan manusia.  AI bisa dilihat sebagai tongsis digital—alat netral yang memperpanjang tangan manusia. Hukum Tetrad Media dari McLuhan membantu kita memahami bahwa setiap teknologi memperkuat sesuatu, sekaligus menyisihkan hal lain. AI mempercepat proses produksi berita, namun bisa melemahkan intuisi dan refleksi jurnalis.

Karena itu, jurnalis di Sulawesi Tengah harus memiliki kesadaran sebagai pencerita budaya, yang menjahit serpihan fakta menjadi konteks lokal yang bermakna, baik dalam isu konflik sumber daya, pembangunan, maupun kehidupan masyarakat adat. Ini bukan hal yang bisa digantikan oleh mesin.

Di sisi lain, literasi digital publik harus ditingkatkan. Tanpa publik yang kritis, berita sebagai public goods mudah dikooptasi oleh kepentingan politik atau korporasi. Edukasi masyarakat agar mampu membedakan fakta dari hoaks, serta memahami bagaimana algoritma bekerja, menjadi kunci ketahanan ekosistem informasi.

Menyiapkan Media Lokal untuk Era AI

Media lokal perlu mengambil langkah proaktif dalam menghadapi era AI. Jurnalis harus dilatih menggunakan alat bantu seperti transkripsi otomatis dan pengecekan data, sambil tetap menyadari bias yang terkandung dalam algoritma.

Kolaborasi lintas media seperti yang difasilitasi AMSI Sulteng dapat memperkuat posisi media lokal, termasuk dalam mengembangkan solusi teknologi yang terjangkau dan etis. Pedoman penggunaan AI dalam ruang redaksi pun perlu disusun secara partisipatif untuk menjaga otonomi editorial.

The Medium Is the Messenger

Di era AI, jurnalis bukan sekadar penyampai data, tetapi penjaga makna. Itulah esensi peran seorang pencerita budaya.  Seperti kata McLuhan, the medium is the message—identitas jurnalis tak terpisah dari cara dan isi pesannya. Transparansi menjadi nilai penting: siapa yang menulis, bagaimana proses peliputan dilakukan, dan dari mana datanya berasal, harus jelas.

Personal branding jurnalis sebagai orang yang nyata—bukan bot—menjadi penting untuk menjaga kepercayaan. Ini adalah bentuk komitmen pada otentisitas di tengah derasnya konten otomatis.

Penutup: Ketahanan untuk Arena Publik

Diskusi Interaktif bertajuk "Tantangan Kecerdasan Buatan Terhadap Kebebasan Pers" yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Palu menyadarkan kita bahwa tantangan kebebasan pers kini tersembunyi dalam baris-baris kode, bukan hanya dalam larangan terang-terangan. Namun, ini juga peluang untuk memperkuat ketahanan media lokal.

Ketahanan ini lahir dari kerja keras jurnalis sebagai pencerita budaya, dan dari keberanian publik bersikap kritis terhadap berita. Melalui pelatihan, regulasi etis, dan edukasi literasi digital, media di Sulawesi Tengah dapat menjadikan AI sebagai alat pemberdaya, bukan penjinak suara publik.

Kebebasan pers adalah tanggung jawab bersama—dan AI adalah ujian yang harus kita jawab bersama.

Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025

Tentang Penulis: Aktif meneliti isu-isu jurnalisme data, media lokal, dan transformasi teknologi dalam ekosistem pers.

Editor : Agung Sumandjaya