Torehkan Emas di Bandung, Atlet Muda Sulteng Justru Berjuang Tanpa Sokongan Penuh Daerah

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:32 WIB
SEBELUM BERTANDING: Nampak Berlian (sebelah kiri) foto bersama kembarannya, Permata (kanan) dengan Official Tim sesaat sebelum pertandingan.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
SEBELUM BERTANDING: Nampak Berlian (sebelah kiri) foto bersama kembarannya, Permata (kanan) dengan Official Tim sesaat sebelum pertandingan.(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

RADAR PALU — Nama Berlian Syafadinah Ali, mendadak jadi perbincangan di ajang Open Turnamen Nasional Lempar Bilah dan Kapak yang digelar Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia (PABKI) di Kiara Artha Park, Bandung, 29-30 Agustus 2026.

Atlet remaja asal Sulawesi Tengah ini tampil sebagai Juara 1 Kelompok Umur 1 (KU-1) Puteri, kategori usia 13-17 tahun, dan berhak membawa pulang hadiah utama berupa satu unit sepeda motor.

Prestasi ini lahir dari lintasan yang tidak mudah. Berlian dikabarkan berlaga di panggung nasional dengan dukungan seadanya, jauh dari sorotan dan fasilitas yang semestinya menjadi hak seorang atlet yang mengharumkan nama daerah.

Baca Juga: PABKI Gelar Turnamen Nasional Lempar Bilah dan Kapak, Klaim Rekor MURI Pertama di Dunia

Minimnya perhatian dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terhadap cabang olahraga lempar bilah dan kapak — sebuah disiplin yang justru sedang tumbuh pesat secara nasional — kembali menjadi sorotan publik olahraga tanah air.

Ironisnya, prestasi gemilang ini justru diraih di tengah keterbatasan itu, bukan karena adanya sistem pembinaan yang matang dari daerah asal.

Fakta ini menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan atlet-atlet berbakat dari Sulawesi Tengah harus berjuang sendirian, mengandalkan tekad pribadi dan dukungan komunitas, ketika daerah lain justru berlomba memberikan fasilitas terbaik bagi generasi muda mereka?

Baca Juga: Quo Vadis PABKI (2006–2030): Menakar Arah, Ketajaman, dan Titik Balik Olahraga Akurasi Bilah

Sejumlah pemerhati olahraga menilai, capaian Berlian semestinya menjadi momentum bagi Pemprov Sulteng untuk mengevaluasi kembali arah kebijakan pembinaan olahraga prestasi, khususnya pada cabang-cabang baru yang mulai diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional.

Dukungan yang konkret — mulai dari fasilitas latihan, pendampingan, hingga skema pembiayaan keikutsertaan turnamen — dinilai jauh lebih berarti ketimbang apresiasi yang datang setelah medali diraih.

Di sisi lain, capaian ini juga menjadi bukti nyata potensi besar yang dimiliki Sulawesi Tengah di cabang lempar bilah dan kapak.

Baca Juga: Membangun PABKI: Dari Komunitas Ketangkasan Menuju Organisasi Olahraga Modern

Dengan sedikit saja perhatian dan keberpihakan yang lebih serius, daerah ini punya peluang besar melahirkan lebih banyak atlet berprestasi ke depan.

PABKI sendiri menyambut baik capaian Berlian dan berharap kemenangan ini dapat membuka mata berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah, akan pentingnya investasi jangka panjang pada olahraga akurasi seperti lempar bilah dan kapak — cabang yang kini terus berkembang dan mulai mendapat tempat di kalender olahraga nasional.

Kemenangan Berlian Syafadinah Ali bukan sekadar catatan prestasi individu, melainkan juga cermin bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga di Sulawesi Tengah untuk berbenah dan hadir lebih nyata bagi atlet-atletnya.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
PABKI Sulteng juara Dapat motor atlet