PABKI Gelar Turnamen Nasional Lempar Bilah dan Kapak, Klaim Rekor MURI Pertama di Dunia

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:04 WIB
MEMBUKA: Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia (PABKI) resmi membuka gelaran Open Tournament Nasional Lempar Bilah dan Kapak 2026 di Kiara Artha Park, Bandung, Sabtu (29/8/2026).(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
MEMBUKA: Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia (PABKI) resmi membuka gelaran Open Tournament Nasional Lempar Bilah dan Kapak 2026 di Kiara Artha Park, Bandung, Sabtu (29/8/2026).(FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

RADAR PALU — Persatuan Akurasi Bilah dan Kapak Indonesia (PABKI) resmi membuka gelaran Open Tournament Nasional Lempar Bilah dan Kapak 2026 di Kiara Artha Park, Bandung, Sabtu (29/8/2026).

Ajang yang berlangsung dua hari hingga Minggu (30/8/2026) ini tak hanya mempertandingkan ketangkasan atlet, tetapi juga dirangkaikan dengan aksi pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang disebut-sebut sebagai yang pertama di dunia.

Atraksi utama yang menjadi sorotan adalah target 600 lemparan bilah menancap serentak di papan sasaran — sebuah angka ambisius yang, jika tercapai, akan mencatatkan nama PABKI bukan hanya dalam rekor nasional, melainkan juga sebagai pencapaian global dalam olahraga lempar bilah.

Baca Juga: Bandung, Titik Nol Lempar Bilah dan Kapak Indonesia 

Dewan Pembina Pengurus Pusat PABKI, Dedi askary, menjelaskan bahwa aksi ini melibatkan lebih dari 300 atlet yang datang dari 15 provinsi di seluruh Indonesia.

Skala partisipasi ini menunjukkan bahwa olahraga lempar bilah dan kapak, yang selama ini masih tergolong niche di Indonesia, mulai menemukan basis massanya secara nasional.

"Kegiatan MURI yang kita laksanakan ini bisa dikatakan pertama kali di dunia, bukan cuma di Indonesia. Kita memaksimalkan target 600 lemparan menancap di papan sasaran. Setiap peserta dibekali satu set berisi empat bilah pisau sesuai standar regulasi organisasi," ujar Dedi  saat ditemui di lokasi acara.

Baca Juga: Membangun PABKI: Dari Komunitas Ketangkasan Menuju Organisasi Olahraga Modern

Klaim "pertama di dunia" ini tentu menarik untuk dicermati lebih jauh. Sejauh ini belum ada rujukan independen yang membandingkan rekor ini dengan capaian serupa di kancah internasional, mengingat olahraga lempar bilah dan kapak sendiri memiliki federasi-federasi global seperti IKTHOF (International Knife Throwing Hall of Fame) yang telah lama mencatatkan berbagai rekor ketangkasan.

Publik tentu berhak menanti verifikasi resmi dari pihak MURI maupun perbandingan dengan basis data internasional, agar klaim ini tidak sekadar menjadi narasi promosi semata, melainkan benar-benar teruji.

Soal keabsahan penilaian, Dedi menegaskan bahwa proses berjalan ketat dan sportif di bawah pengawasan langsung tim asisten dan penilai MURI.

Baca Juga: Atlet Lempar Bilah dan Kapak Parigi Moutong Matangkan Mental di Mako Brimob Demi Juara Open Tournament Nasional PABKI 2026

Salah satu poin teknis yang menarik: poin tetap dihitung presisi meski ada bilah yang sempat menancap namun kemudian terjatuh akibat tertimpa lemparan pisau berikutnya.

Aturan ini penting digarisbawahi karena berpotensi menjadi celah interpretasi — bagaimana verifikator memastikan momen "menancap" benar-benar tertangkap secara objektif, terlebih dengan skala 300 atlet dan 600 target lemparan yang berlangsung nyaris bersamaan, bukan perkara sederhana untuk diawasi satu per satu secara akurat.

Terlepas dari sejumlah pertanyaan yang wajar muncul seputar metodologi verifikasi rekor, gelaran ini setidaknya menjadi penanda penting bagi eksistensi olahraga lempar bilah dan kapak di Indonesia — sekaligus ajang pembuktian bagi PABKI untuk menunjukkan bahwa cabang olahraga yang masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat ini punya potensi berkembang, baik dari sisi jumlah atlet, sebaran wilayah, maupun standar kompetisi yang terus dibenahi.(***)

 

Editor : Muchsin Siradjudin
Lempar bilah Atraksi Sasaran lemparan Rekor dunia