RADAR PALU– Ada kebanggaan sekaligus ironi yang menyelimuti perhelatan Piala Dunia 2026 bagi masyarakat Indonesia. Di satu sisi, identitas "Made in Indonesia" akan menghiasi partai puncak turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Di sisi lain, euforia itu sedikit terasa pahit karena Timnas Garuda masih harus berjuang dari jauh untuk sekadar menembus putaran final.
Namun, fakta tetaplah fakta. Untuk ketujuh kalinya sejak tahun 1998, karya anak bangsa kembali dipercaya menjadi jantung dari pertandingan final Piala Dunia. Adidas Trionda Final Match Ball, bola spesial yang akan digunakan eksklusif di laga final, ternyata diproduksi di Indonesia, tepatnya di sebuah pabrik di Madiun, Jawa Timur
Beda kelas dengan bola yang digunakan di fase grup, varian final ini tampil super premium dengan dominasi aksen warna emas mewah yang melambangkan trofi juara . Namun, kemewahan itu bukan sekadar desain. Ada alasan kuat mengapa Indonesia dipilih secara khusus.
Baca Juga: Morowali Dinilai Punya Masa Depan Cerah di Sektor Pariwisata
Menurut laporan yang melansir dari berbagai sumber, pabrik di Madiun dinilai memiliki akurasi paling tinggi dalam menjahit struktur empat panel bola final ini . Konstruksi empat panel ini merupakan yang paling sedikit dalam sejarah bola Piala Dunia, dirancang untuk menciptakan aerodinamika sempurna .
Lebih canggih lagi, di dalam bola ini tertanam sensor gerak IMU (Inertial Measurement Unit) 500Hz yang terhubung langsung ke sistem Video Assistant Referee (VAR) . Bayangkan, sensor seberat 14 gram ini mampu merekam dan mengirimkan data pergerakan, kecepatan, arah putaran, hingga titik sentuhan bola sebanyak 500 kali per detik ke ruang VAR . Data ini lalu dipadukan dengan 12 kamera stadion untuk menciptakan model visual 3D pertandingan, membantu wasit mengambil keputusan offside atau handball yang sangat tipis .
"Si Kulit Bundar" Harus Dicharge
Baca Juga: Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Pesisir Pantai Talise, Polisi Lakukan Penyelidikan
Karena dibekali teknologi mutakhir ini, ada satu hal unik yang mencuri perhatian: bola final Piala Dunia 2026 harus diisi daya (di-charge) terlebih dahulu sebelum kick-off . Baterai internal kecil yang menopang sensor canggih ini membutuhkan daya untuk bertahan sepanjang pertandingan. Proses pengisian dilakukan secara nirkabel dan diperkirakan memakan waktu sekitar 90 menit untuk penuh, dengan daya tahan hingga 6 jam penggunaan aktif . Cukup untuk mengakomodasi 90 menit waktu normal hingga kemungkinan adu penalti .
Ironi Manis untuk Sepak Bola Indonesia
Meski kebanggaan ini patut dirayakan, ada "tamparan halus" yang dirasakan oleh para pencinta sepak bola Tanah Air. Ini adalah kali ketujuh Indonesia dipercaya memproduksi bola resmi Piala Dunia, dimulai dari era Adidas Tricolore 1998 di Majalengka, hingga Fevernova (2002), Teamgeist (2006), Jabulani (2010), Brazuca (2014), dan Al Rihla (2022) . Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas industri manufaktur Indonesia, khususnya di bidang tekstil dan teknologi presisi, tidak diragukan lagi di level dunia.
Namun, ironisnya, kualitas di sektor industri ini berbanding terbalik dengan prestasi di lapangan hijau. Hingga saat ini, Timnas Indonesia masih belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di putaran final Piala Dunia. Bola buatan Indonesia justru "bermain" dan "menggelinding" di final lebih sering daripada tim kebanggaan kita sendiri.
Seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial, inilah perpaduan rasa bangga dan sedih yang sulit dijelaskan. Bangga karena pabrik lokal diakui memiliki standar tertinggi di dunia, namun sedih karena "Si Kulit Bundar" produksi anak bangsa itu harus ditendang oleh bintang-bintang dunia tanpa diiringi suara "Indonesia" dari tribun penonton.***
Editor : Muhammad Awaludin