BI Hadirkan Gerai Cerdas Peka di Universitas Airlangga, Perkuat Literasi Generasi Muda

Rina Abd Halik • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 13:15 WIB
Filianingsih saat meresmikan Gerai CERDAS PeKA di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, 2 Oktober 2026.(DOK: Bank Indonesia).
Filianingsih saat meresmikan Gerai CERDAS PeKA di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, 2 Oktober 2026.(DOK: Bank Indonesia).

RADAR PALU – Kecakapan mahasiswa dalam menggunakan teknologi perlu diikuti kemampuan mengenali dan mengelola risiko. Mahasiswa didorong tidak hanya menjadi digital savvy, tetapi juga risk savvy dalam memanfaatkan layanan keuangan digital.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengatakan, penipuan digital kerap memanfaatkan kepanikan, kepercayaan, dan desakan untuk bertindak cepat. Kondisi itu dapat membuat konsumen mengambil keputusan tanpa melakukan verifikasi.

Karena itu, mahasiswa diajak membiasakan diri berhenti sejenak sebelum bertransaksi, memeriksa sumber informasi melalui kanal resmi, melindungi data pribadi, serta berani mengadukan permasalahan yang dihadapi.

Baca Juga: Perkuat Layanan Peserta, BPJS Ketenagakerjaan Temu Teknis PLKK se-Sulteng

Hal tersebut disampaikan Filianingsih saat meresmikan Gerai CERDAS PeKA di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, 2 Oktober. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang SDM UNAIR Ardianto, Direktur Commercial Banking PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Alexander Dippo Paris Y.S, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim, serta perwakilan Perbanas, industri perbankan, akademisi dan mahasiswa.

Gerai CERDAS PeKA hadir sebagai ruang edukasi dan diskusi untuk mendorong mahasiswa tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga tangguh mengenali dan mengelola risiko, termasuk memahami kanal pengaduan dan berani melaporkan permasalahan.

“Mengetahui kanal pengaduan dan berani melapor bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk keberdayaan konsumen,” ujar Filianingsih.

Baca Juga: BNI Perkuat Pelestarian Batik, Dorong Perajin dan UMKM Naik Kelas

Menurut dia, mahasiswa juga didorong menjadi agen edukasi dengan membagikan pengetahuan kepada lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, kampus dapat menjadi penggerak budaya kritis dan bertanggung jawab dalam penggunaan layanan keuangan digital.

BI terus memperkuat literasi dan keberdayaan konsumen, khususnya generasi muda, agar semakin cakap mengenali dan mengelola risiko di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan.

Filianingsih menegaskan, perluasan akses terhadap layanan keuangan harus diimbangi dengan peningkatan literasi dan kemampuan konsumen dalam mengelola risiko.

Baca Juga: Menguji Konsistensi Dilingkar Kekuasaan

“Kecepatan transaksi harus diimbangi dengan kecepatan literasi. Karena akses tanpa pemahaman dapat menciptakan kerentanan, sementara inovasi tanpa kepercayaan tidak akan berkelanjutan,” tegas Filianingsih.

Pesan tersebut semakin relevan seiring pesatnya digitalisasi pembayaran dan tingginya pemanfaatan layanan keuangan oleh generasi muda.

Hingga Agustus 2026, transaksi QRIS secara kumulatif sejak awal tahun mencapai 17,45 miliar transaksi, dengan 69,32 juta pengguna dan 47,11 juta merchant.

Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun sebesar 95,69 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan indeks literasi yang berada di level 73,32 persen.

Baca Juga: HUT PT IMIP Dirangkai Umumkan Pemenang Karya Jurnalistik 2026. Berikut Juaranya..

Kesenjangan tersebut menunjukkan pentingnya memastikan perluasan akses layanan keuangan diikuti peningkatan pemahaman agar layanan dapat dimanfaatkan secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Filianingsih juga menekankan pentingnya aksi bersama dalam menghadapi maraknya rekayasa sosial dan penipuan digital lintas platform.

Regulator berperan memperkuat kebijakan dan pengamanan. Industri memastikan keamanan produk dan layanan serta perlakuan yang bertanggung jawab terhadap konsumen. Perguruan tinggi memperluas edukasi, sementara masyarakat membangun kewaspadaan.

Baca Juga: Anwar Hafid Ingatkan Ilmu Pemerintahan Tak Boleh Berhenti di Kampus

Kolaborasi tersebut mendukung pelindungan sejak perancangan produk dan layanan, sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pelindungan Konsumen.

“Digitalisasi membuka kesempatan, literasi membangun keberdayaan, dan kolaborasi menjaga kepercayaan,” ujarnya.

Gerai CERDAS PeKA merupakan singkatan dari Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan. Gerai tersebut merupakan hasil kolaborasi BI, UNAIR, dan PERBANAS sebagai ruang edukasi dan diskusi yang mendekatkan pelindungan konsumen dengan lingkungan kampus.

Baca Juga: 13 Tahun IMIP dan Cerita Hilirisasi di Bahodopi

Melalui gerai ini, mahasiswa dapat memperkuat pemahaman mengenai produk dan layanan keuangan, mengenali risiko transaksi digital, serta memperoleh informasi mengenai mekanisme dan kanal pengaduan ketika menghadapi permasalahan.

Mahasiswa juga dapat memperoleh edukasi sekaligus berdiskusi dan berkonsultasi mengenai produk dan layanan keuangan, risiko transaksi digital, serta mekanisme pelindungan konsumen.

Edukasi dirancang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik generasi muda serta diperluas melalui jejaring kampus dan komunitas secara berkelanjutan untuk membangun kebiasaan bertransaksi yang aman dan bertanggung jawab sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem ekonomi dan keuangan digital.

Inisiatif tersebut merupakan bagian dari Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK).

Baca Juga: Survei LKPI: Tren Elektabilitas Partai Demokrat Menurun, Perlu Penguatan Kelembagaan Serius dan Teru

Pelindungan konsumen hadir dengan tiga pendekatan, yakni Peduli, Kenali, dan Adukan. Peduli berarti membangun kesadaran bahwa keamanan transaksi merupakan tanggung jawab bersama.

Kenali berarti membiasakan konsumen memeriksa informasi, memahami produk, dan mengenali risiko. Sedangkan Adukan artinya mendorong konsumen mengetahui dan memanfaatkan kanal pengaduan yang tepat ketika menghadapi permasalahan.

“Literasi yang paling kuat bukan literasi yang hanya diketahui, tetapi literasi yang menjadi kebiasaan dalam mengambil keputusan sehari-hari,” ungkap Filianingsih.

Baca Juga: Anwar Hafid Ingatkan Ilmu Pemerintahan Tak Boleh Berhenti di Kampus

Kehadiran Gerai CERDAS PeKA di lingkungan kampus diharapkan menjadi momentum untuk mengembangkan inisiatif serupa secara berkelanjutan guna mewujudkan ekosistem ekonomi dan keuangan digital Indonesia yang aman, inklusif, berintegritas, dan terpercaya.

Ke depan, BI akan terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, asosiasi dan industri sistem pembayaran untuk memperluas edukasi dan pelindungan konsumen, terutama bagi generasi muda.***

Editor : Rina Abd Halik
Sumber : https://www.bi.go.id/id/default.aspx
Perlindungsan Konsumen Gerai Cerdas PeKa Literasi Keuangan bank indonesia QRIS