RADAR PALU – Kasus dugaan keracunan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melibatkan korban dari berbagai kelompok usia. Bayi berusia 10 bulan disebut menjadi korban paling muda dalam insiden yang jumlah korbannya terus bertambah.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan korban tidak hanya berasal dari kalangan anak-anak. Bayi, balita, orang dewasa hingga warga lanjut usia dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang berkaitan dengan program MBG.
“Usianya variatif. Ada yang 10 bulan yang paling kecil, sampai dewasa, dan bahkan usia senja,” kata Faiz sebagaimana dilansir Metro Pekalongan (Jawa Pos Group).
Baca Juga: Rapat Evaluasi B09 Dorong Penguatan Kinerja Kanwil Kemenkum Sulteng
Keluhan yang banyak dialami korban berupa mual, muntah, diare dan lemas. Jumlah pasien yang membutuhkan penanganan medis juga meningkat dalam beberapa jam.
Data yang dihimpun menunjukkan pada Kamis (24/9) sekitar pukul 03.00 WIB, jumlah korban tercatat 276 orang. Pada pagi hari, jumlah tersebut diperkirakan telah mencapai sekitar 300 pasien.
Pasien tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan. Sebanyak 46 orang menjalani perawatan di RSUD Kalisari, 41 orang di RSUD Limpung, sedangkan korban lainnya mendapat penanganan di sejumlah puskesmas.
Baca Juga: Kemenkum Sulteng Matangkan Persiapan Kunjungan Menteri Hukum
Meningkatnya jumlah pasien membuat RSUD Kalisari mengalami keterbatasan ruang perawatan. Sebagian korban bahkan harus mendapat penanganan di lorong rumah sakit.
Faiz mengatakan pemerintah daerah tetap memastikan pasien memperoleh tempat untuk mendapatkan perawatan. Persediaan obat-obatan juga disebut masih tersedia, termasuk di fasilitas kesehatan tingkat puskesmas.
“Kita mengecek kesiapan fasilitas kesehatan. Memang ada keterbatasan kamar, tetapi alhamdulillah semuanya mendapatkan bed. Obat-obatan dalam kondisi yang cukup, termasuk di puskesmas-puskesmas,” ujarnya.
Tenaga medis kemudian disiagakan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien. Khusus Kamis, sistem pergantian sif perawat ditiadakan, sementara seluruh ambulans diminta berada dalam kondisi siap digunakan.
Tidak Ada Korban Meninggal
Di tengah bertambahnya jumlah pasien, muncul informasi mengenai dugaan adanya korban meninggal dunia. Informasi tersebut dibantah langsung oleh Bupati Batang.
“Tidak ada. Tidak ada yang meninggal dunia,” kata Faiz.
Baca Juga: Kemenkum Sulteng Perkuat Sinergi Kekayaan Intelektual di Banggai
Pemerintah Kabupaten Batang juga menyatakan biaya pengobatan korban akan ditanggung pemerintah daerah. Faiz menyebut kejadian tersebut sebagai keadaan di luar kendali atau force majeure.
Sementara itu, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium masih dilakukan untuk mengetahui sumber penyebabnya.
Investigasi juga diarahkan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan MBG. Sejumlah relawan SPPG dilaporkan turut mengalami keluhan setelah mencicipi makanan tersebut.
Baca Juga: IPOT X: Bawa Revolusi Investasi dengan AI-Native Intelligence, Ubah Kompleksitas Jadi Market Clarity
Makanan yang dikonsumsi siswa pada hari kejadian disebut mulai diproses sekitar pukul 02.00 WIB dan distribusinya dijadwalkan selesai sekitar pukul 12.00 WIB.
Faiz mengatakan dirinya telah menyampaikan perkembangan kasus tersebut kepada pihak terkait di tingkat pemerintah pusat. Ia menyebut ada arahan agar audit dan monitoring dilakukan secara menyeluruh terhadap SPPG.
Jika hasil pemeriksaan merekomendasikan penghentian operasional suatu SPPG, pemerintah daerah menyebut penutupan dapat dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Keluhan Muncul Beberapa Jam Setelah Makan
Dampak kejadian tersebut juga dirasakan keluarga yang mengonsumsi makanan MBG. Desi, 34, warga Desa Sokasari, misalnya, harus membawa dirinya bersama dua anak balitanya, Adam, 5, dan Neswa, 3, untuk mendapatkan perawatan.
Desi mengatakan keluarganya mengonsumsi makanan tersebut pada Selasa siang. Beberapa jam kemudian, mereka mulai merasakan gangguan kesehatan.
“Makannya Selasa siang, mulai enggak enak perut sore hari. Gejalanya sama semua, pusing, muntah, diare, sampai panas,” tutur Desi.
Ia mengaku sempat memakan sisa telur dari porsi anaknya. Saat itu, menurut Desi, tidak ada rasa makanan yang membuatnya curiga.
Kesadaran mengenai adanya kejadian yang lebih luas baru muncul setelah puskesmas dipenuhi warga dengan keluhan serupa. Informasi dari pihak sekolah juga membuat keluarga tersebut mengetahui adanya dugaan keracunan yang dialami banyak penerima MBG.
Pengalaman serupa dialami Siti Fatimah, ibu dari Roman Arfani, 5, siswa TK B Kuncup Mekar. Roman mulai mengalami mual dan muntah cukup berat pada Selasa malam setelah menyantap makanan MBG pada pagi harinya.
Menurut Siti, anaknya semula dibawa ke puskesmas dan dianggap mengalami sakit biasa. Setelah informasi mengenai banyaknya siswa yang mengalami keluhan serupa beredar, Roman kemudian dirujuk ke Puskesmas Bawang sebelum akhirnya mendapat perawatan lebih lanjut.
Penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Investigasi terhadap penyedia makanan dan proses distribusi MBG juga menjadi bagian dari penelusuran untuk mengetahui sumber masalah.***
Editor : Muhammad AwaludinSumber : jawapos.com