Hannah Asa Indonesia Perkuat Literasi Keuangan Perempuan Adat di Kalimantan Barat, Dorong Ketahanan

Talib • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:32 WIB
Hannah Asa Indonesia bersama Forest Programme V dan BPSKL Banjarbaru memperkuat kapasitas perempuan adat di Kalimantan Barat melalui pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan.
Hannah Asa Indonesia bersama Forest Programme V dan BPSKL Banjarbaru memperkuat kapasitas perempuan adat di Kalimantan Barat melalui pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman lapangan.

RADAR PALU – Penguatan ekonomi masyarakat tidak hanya ditentukan oleh peningkatan pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan keluarga mengelola keuangan secara bijak. 

 

Berangkat dari pemahaman tersebut, Hannah Asa Indonesia memperkuat literasi keuangan perempuan adat di Kalimantan Barat melalui pendekatan pembelajaran yang menempatkan praktik dan pengalaman lapangan sebagai bagian penting dari proses pengembangan kapasitas masyarakat.

 

Kegiatan Penguatan Literasi Keuangan Keluarga bagi Perempuan Adat yang berlangsung pada 3–6 Agustus 2026 diikuti oleh 23 perempuan adat. 

Baca Juga: KUPS Sanggau Belajar Hitung Bisnis, Hannah Asa Indonesia Perkuat Literasi Keuangan Usaha Perhutanan

Program ini diselenggarakan Forest Programme V bersama Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Banjarbaru dengan fokus pada peningkatan kemampuan mengelola keuangan keluarga, menyusun perencanaan keuangan, menentukan prioritas kebutuhan, serta membangun ketahanan finansial.

 

Dalam kegiatan tersebut, Hannah Asa Indonesia berperan sebagai Research, Learning & Capacity Development Partner yang tidak hanya mendampingi proses pembelajaran, tetapi juga melakukan pengamatan lapangan untuk memahami kebutuhan masyarakat secara lebih kontekstual.

 

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, ST., AWP., QWP., CFP., AEPP., QLP, mengatakan pelatihan menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan perilaku keuangan masyarakat.

Baca Juga: IPOT Sinergikan Esports dan Literasi Keuangan di Esports Kapolri Cup 2026

"Kami percaya bahwa literasi keuangan harus hadir di tempat masyarakat hidup, bekerja, dan membangun ekonominya.

 Pembelajaran tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus menjadi bagian dari keputusan sehari-hari," ujar Mardiyah.

 

Menurutnya, Kalimantan Barat menjadi pilot learning experience bagi Hannah Asa Indonesia dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat.

Baca Juga: LPS Gencarkan Literasi Keuangan di Palu, Edukasi Masyarakat hingga Pelajar Lewat Beragam Kegiatan

 Pengalaman tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan materi, perangkat pembelajaran, metode pendampingan, hingga sistem monitoring dan evaluasi pada program-program berikutnya.

 

Koordinator Nasional Forest Programme V: Social Forestry Support Programme, Dr. Desy Ekawati, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan keluarga memiliki keterkaitan erat dengan keberhasilan pengelolaan perhutanan sosial, khususnya pada skema hutan adat.

 

Menurutnya, perempuan memegang peran strategis sebagai pengelola keuangan keluarga sehingga peningkatan kapasitas mereka akan berdampak langsung terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan.

Baca Juga: LPS Gencarkan Literasi Keuangan di Palu, Edukasi Masyarakat hingga Pelajar Lewat Beragam Kegiatan

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai perencanaan keuangan keluarga, penyusunan anggaran, pencatatan keuangan, penentuan prioritas kebutuhan, dana darurat, tujuan keuangan keluarga, hingga penguatan ketahanan finansial. 

 

Seluruh materi disampaikan melalui diskusi, studi kasus, dan praktik menggunakan kondisi nyata yang dihadapi peserta.

Pendekatan tersebut berangkat dari prinsip "Training is Only the Beginning", di mana pembelajaran diarahkan agar tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: LPS Ajak Media Edukasi Masyarakat soal Jaminan Simpanan dan Literasi Keuangan

Salah satu peserta, Katarina, mengungkapkan bahwa sebagian besar pendapatan keluarganya masih bergantung pada hasil panen yang bersifat musiman.

Sementara itu, kebutuhan rumah tangga terus berjalan setiap hari.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan keluarga mengatur pengeluaran, menetapkan prioritas, dan mempersiapkan diri menghadapi kondisi yang tidak terduga.

Baca Juga: Pegadaian Dorong Literasi Keuangan Anak melalui Tabungan Emas

Kepala Seksi Wilayah III BPSKL Banjarbaru, Susanto, S.Hut., M.Hut., berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola keuangan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kelestarian hutan adat.

 

Bagi Hannah Asa Indonesia, pengalaman di Kalimantan Barat menjadi bagian penting dari pengembangan pendekatan ASSESS → LEARN → PRACTICE → COACH → IMPLEMENT → MONITOR → IMPACT, yang menempatkan pembelajaran sebagai proses berkelanjutan hingga menghasilkan perubahan perilaku dan dampak nyata bagi masyarakat.

 

Melalui pendekatan tersebut, Hannah Asa Indonesia tidak hanya mendorong peningkatan literasi keuangan, tetapi juga memperkuat financial wellbeing, economic resilience, dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. 

Baca Juga: Hannah Asa Indonesia Targetkan Palu Jadi Role Model Literasi Keuangan Indonesia Timur

Upaya ini diharapkan mampu membantu keluarga mengambil keputusan keuangan yang lebih baik, membangun ketahanan ekonomi, serta mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam di tingkat lokal. ***

Editor : Talib
Hannah Asa Indonesia perempuan adat kalimantan barat ketahanan ekonomi Literasi Keuangan