Wamenpar: Perempuan Jadi Penggerak Utama Ekosistem Pariwisata Indonesia

Rina Khalik • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:13 WIB
Foto bersama Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa dalam kegiatan Women
Foto bersama Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa dalam kegiatan Women's Leadership Forum 2026. (DOK: KEMENTERIAN PARIWISATA)

RADAR PALU – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan perempuan memiliki peran besar sebagai penggerak utama ekosistem pariwisata Indonesia. Tidak hanya menjadi tenaga kerja, perempuan juga berkontribusi sebagai pelaku UMKM, penjaga budaya, hingga pemimpin komunitas yang memperkuat daya saing destinasi wisata.

Hal tersebut disampaikan Ni Luh Puspa saat membuka Women's Leadership Forum 2026 dengan tema "Women Leading Tourism: Membangun Destinasi yang Berkelas Dunia melalui Kepemimpinan, Inovasi, dan Kolaborasi" di Kantor Lembaga Administrasi Negara Jakarta, Senin (27/7/2026).

"Penggerak utama sektor pariwisata itu adalah perempuan. Data UN Tourism juga menunjukkan bahwa 54 persen pekerja di sektor pariwisata adalah perempuan," kata Ni Luh Puspa.

Baca Juga: BRI KCP Kota Raya Serahkan Klaim Penyakit Kritis kepada Nasabah Prioritas, Wujud Komitmen Perlindungan Finansial

Menurutnya, perempuan hadir hampir di seluruh rantai nilai industri pariwisata. Mulai dari pengelola desa wisata, pemilik homestay, pelaku UMKM kuliner dan kriya, penenun, perajin, pemandu wisata, hingga pelestari seni dan tradisi yang menjadi identitas destinasi Indonesia.

Ia menjelaskan, kekuatan utama pariwisata Indonesia bertumpu pada kekayaan alam dan budaya. Dalam kedua aspek tersebut, perempuan memiliki kontribusi besar sebagai pelaku usaha, pemimpin komunitas, penggerak UMKM, sekaligus penjaga nilai-nilai budaya.

"Perempuan di sektor pariwisata memiliki peran yang sangat besar dalam memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat internasional," ujarnya.

Baca Juga: Kemenperin Dorong Wirausaha Baru Industri Pangan Olahan Ikan di Kawasan Transmigrasi

Ni Luh mengatakan, di berbagai desa wisata, perempuan menjadi motor penggerak dalam mengelola homestay, mengembangkan kuliner lokal, membuat kerajinan, menenun kain tradisional, menjadi pemandu wisata, hingga menjaga tradisi budaya yang menjadi daya tarik wisata.

Namun, ia menyebut besarnya kontribusi perempuan di sektor pariwisata masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kesempatan perempuan untuk menduduki posisi kepemimpinan dan memperoleh penghasilan yang setara.

Ia mencontohkan, dalam industri perhotelan perempuan masih banyak menempati posisi tertentu seperti bidang pemasaran, sementara kesempatan untuk berada di posisi pimpinan utama masih belum merata.

Baca Juga: Fraksi PKS DPRD Sulteng Ditekankan Jadi Etalase Partai, Perkuat Sinergi dan Pelayanan Publik

"Masih ada anggapan perempuan hanya menjadi pelengkap. Padahal tanpa perempuan, ekosistem pariwisata tidak akan bergerak," katanya.

Karena itu, Wamenpar menilai diperlukan langkah afirmatif untuk membuka akses lebih luas bagi perempuan agar dapat menempati posisi strategis di sektor pariwisata. Dukungan tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui kebijakan dan aksi nyata yang memberikan kesempatan setara dalam kepemimpinan.

Ia juga menyampaikan komitmen Kementerian Pariwisata terhadap kesetaraan gender. Saat ini, posisi Menteri Pariwisata dan Wakil Menteri Pariwisata sama-sama dijabat oleh perempuan.

Baca Juga: Polisi Kantongi Identitas Pelaku Penganiayaan di Bahodopi 

Menurut Ni Luh, kepemimpinan di sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga membangun kolaborasi, mengorkestrasi berbagai pemangku kepentingan, serta menjadi katalisator kemajuan sektor pariwisata.

"Menterinya perempuan dan wakil menterinya juga perempuan. Jadi, kami di sana sangat menjunjung tinggi kolaborasi. Pemimpin pariwisata adalah pemimpin yang menjadi kolaborator, orkestrator, dan juga katalisator," ujarnya.

Menutup pemaparannya, Ni Luh mengajak perempuan yang hadir dalam forum tersebut untuk terus memperkuat jejaring kepemimpinan, saling mendukung, serta membuka ruang lebih luas bagi perempuan dalam pembangunan pariwisata nasional.

Baca Juga: Rustia Tompo Soroti Minimnya Armada Operasional RSUD Anutapura dalam Rapat Banggar

"Memberikan akses kepada perempuan dan memberikan kepercayaan kepada perempuan bukan hanya soal menjadikan seorang perempuan sebagai pemimpin. Lebih dari itu, kita sedang menciptakan masa depan, membuka peluang, dan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik," pungkasnya.***

Editor : Rina Khalik
Sumber : kemenpar.go.id
pariwisata Indonesia Kementerian Pariwisata Women’s Leadership Forum 2026 Desa Wisata perempuan