RADAR PALU – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi anak-anak Indonesia yang masih menghadapi berbagai persoalan serius. Di balik perayaan tahunan tersebut, jutaan anak masih mengalami ketertinggalan belajar, sementara ribuan lainnya menjadi korban kekerasan, bahkan di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman.
Melansir dari Save the Children Indonesia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan hak anak belum sepenuhnya tercapai. Karena itu, perlindungan anak tidak cukup diwujudkan melalui kebijakan pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat luas.
Data Profil Anak Indonesia 2025 yang diterbitkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan sekitar 29,8 juta anak masih mengalami ketertinggalan pembelajaran.
Baca Juga: Rakhmat Renaldy Dukung Perda P4GN Hadapi Darurat Narkoba Sulawesi Tengah
Persoalan lainnya juga belum terselesaikan. Angka prevalensi stunting masih berada di 19,8 persen, sementara sepanjang 2025 tercatat 4.727 kejadian bencana yang meningkatkan kerentanan anak terhadap berbagai risiko, mulai dari terganggunya pendidikan hingga persoalan kesehatan.
Di sisi lain, data SIMFONI-PPA mencatat lebih dari 15.300 kasus kekerasan seksual terhadap anak dan 12.160 kasus kekerasan fisik. Sebanyak 60,1 persen kasus justru terjadi di lingkungan rumah.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa tantangan perlindungan anak tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari lingkungan terdekat mereka.
Baca Juga: Biosolar B50 Kini Hadir di 590 SPBU Sulawesi, Sulteng Kebagian 76 SPBU
CEO sekaligus Chairperson Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, mengatakan Hari Anak Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan setiap hari.
Menurutnya, pengalaman Save the Children Indonesia selama lebih dari 50 tahun mendampingi anak-anak membuktikan bahwa perubahan hanya bisa terjadi melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Karena itu, keberpihakan terhadap anak perlu diwujudkan melalui langkah nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas. Pemerintah, keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta dinilai memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Festival Pahlawan Anak Jadi Wadah Kolaborasi
Sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan anak, Save the Children Indonesia akan menggelar Festival Pahlawan Anak 2026 pada 13–16 Agustus 2026 di Gandaria City, Jakarta.
Festival tersebut dirancang sebagai ruang edukasi dan kolaborasi bagi orang tua, anak, serta masyarakat. Berbagai kegiatan akan digelar, mulai dari pameran imersif, educational fun games, hingga bincang inspiratif yang mengangkat isu kesehatan, pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan anak.
Baca Juga: IMIP Percepat Transformasi Hijau Lewat ESG dan Energi Rendah Karbon
Kegiatan ini juga akan menghadirkan tokoh publik seperti Najwa Shihab, Maudy Ayunda, dan Putri Ariani sebagai pendukung Save the Children Indonesia untuk mengajak masyarakat semakin peduli terhadap pemenuhan hak anak.
Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan mereka.
Save the Children Indonesia berharap Festival Pahlawan Anak dapat menjadi titik temu berbagai pihak untuk memperkuat gerakan perlindungan anak. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, berbagai persoalan seperti kekerasan, ketertinggalan belajar, hingga dampak bencana terhadap anak diharapkan dapat ditekan sehingga hak-hak anak Indonesia dapat terpenuhi secara lebih optimal.***
Editor : Muhammad Awaludin