RADAR PALU – Keputusan Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memantik perhatian publik. Bukan hanya karena pergantian pimpinan lembaga, tetapi juga alasan di balik pengunduran dirinya yang akan menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
Melansir JawaPos.com, peristiwa tersebut kembali mengangkat persoalan yang selama ini dihadapi Indonesia, yakni masih terbatasnya jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.
Pengobatan Nanik Buka Diskusi Soal Layanan Jantung
Baca Juga: Viral Pintu Toilet Masjid SMKN 2 Palu Dicuri, Kini Kembali Terpasang
Keputusan Nanik menjalani pengobatan di luar negeri memunculkan diskusi mengenai kesiapan layanan kesehatan jantung di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah dokter spesialis jantung hingga 2026 baru mencapai 1.639 orang.
Jumlah itu masih jauh dari kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 6.801 dokter spesialis jantung. Dengan kata lain, Indonesia masih kekurangan sekitar 5.162 dokter untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi daerah yang masih minim tenaga spesialis sehingga masyarakat harus dirujuk ke kota besar untuk mendapatkan penanganan.
Baca Juga: Prabowo ke 1.177 Perwira TNI-Polri: Mulai Hari Ini Kalian Milik Bangsa
Pemerintah Percepat Penambahan Dokter
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah tengah mempercepat peningkatan jumlah dokter spesialis jantung. Langkah itu berjalan beriringan dengan distribusi alat laboratorium kateterisasi (cath lab) ke berbagai rumah sakit di daerah.
Menurut Budi, investasi alat kesehatan modern tidak akan memberikan manfaat maksimal jika tidak dibarengi dengan ketersediaan tenaga ahli.
"Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya," kata Budi saat Konvokasi dan Inaugurasi PERKI 2026 di Jakarta, Sabtu (18/7), seperti dilansir JawaPos.com.
Kemenkes mencatat perkembangan positif pada dokter spesialis jantung yang memiliki kompetensi kardiologi intervensi. Pada 2020 jumlahnya baru 99 orang, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi 414 orang.
Meski mengalami kenaikan signifikan, angka tersebut belum mampu menutup kebutuhan layanan jantung secara nasional. Dengan populasi Indonesia yang besar dan meningkatnya kasus penyakit kardiovaskular, pemerintah masih dihadapkan pada pekerjaan besar untuk memperbanyak lulusan dokter spesialis sekaligus memastikan pemerataan penempatannya di seluruh wilayah Indonesia.***
Editor : Muhammad Awaludin