Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Survei Seismik Laut Dalam Dimulai di Perairan Sulawesi Barat, Pertamina Bidik Cadangan Migas Baru

Muhammad Awaludin • Rabu, 27 Mei 2026 | 07:55 WIB
Foto Ilustrasi Kapal seismik HYSY 721 digunakan dalam Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo di perairan Sulawesi Barat untuk memetakan potensi cadangan migas baru
Foto Ilustrasi Kapal seismik HYSY 721 digunakan dalam Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo di perairan Sulawesi Barat untuk memetakan potensi cadangan migas baru

 

RADAR PALU – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang resmi memulai proyek Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo di perairan Sulawesi Barat. Proyek eksplorasi laut dalam tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dan industri hulu migas untuk menemukan cadangan energi baru guna mendukung target produksi nasional pada 2030. 

Berdasarkan informasi yang dikutip dari ruangenergi.com, Kick Off Meeting proyek digelar di Balikpapan pada 22 Mei 2026. Kegiatan itu menandai dimulainya salah satu survei seismik laut dalam paling kompleks yang saat ini dikerjakan Pertamina di wilayah perairan terbuka Indonesia. 

Survei dilakukan di kawasan South Kutai Basin dengan cakupan area sekitar 2.500 kilometer persegi. Wilayah yang disurvei berada pada kedalaman laut antara 900 hingga 2.300 meter, sementara target bawah permukaan yang akan dipetakan berada pada kedalaman 2.000–3.500 milidetik. 

Baca Juga: Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Sulawesi Jelang Iduladha 2026, Distribusi Diperkuat

Dalam paparan proyek disebutkan, survei tersebut bertujuan memperoleh gambaran struktur geologi bawah permukaan secara lebih rinci guna meningkatkan peluang penemuan cadangan minyak dan gas bumi baru. 

"Tujuan utama survei ini adalah memperoleh gambaran struktur bawah permukaan yang lebih detail untuk meningkatkan peluang penemuan cadangan migas baru," demikian dijelaskan dalam dokumen presentasi proyek. 

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pertamina menggunakan kapal seismik HYSY 721 milik China Oilfield Services Limited (COSL) berbendera Panama. Kapal sepanjang lebih dari 107 meter itu dilengkapi teknologi broadband marine streamer dengan konfigurasi 10 streamer sepanjang masing-masing 10 kilometer. 

Baca Juga: LPG 3 Kg di Kota Palu Dipastikan Aman, Pertamina Salurkan 251 Ribu Tabung ke 948 Pangkalan

Dengan total bentangan kabel bawah laut mencapai sekitar 100 kilometer, kapal tersebut mampu melakukan pemetaan struktur geologi laut dalam dengan tingkat presisi tinggi. 

Aktivitas akuisisi data dijadwalkan dimulai pada 2 Juni 2026 dan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Sebelum memulai operasi, kapal HYSY 721 telah berlayar dari China dan tiba di Indonesia pada 20 Mei 2026. 

Proyek Kandawulo merupakan bagian dari rangkaian program Komitmen Kerja Pasti (KKP) Jambi Merang yang sebelumnya telah melaksanakan sejumlah survei seismik di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Bone-Tukang Besi, Buton, dan Bone-Seram. 

Pemerintah bersama SKK Migas terus mendorong eksplorasi di wilayah terbuka sebagai langkah strategis untuk menemukan sumber daya migas baru, khususnya di kawasan timur Indonesia yang masih memiliki keterbatasan data bawah permukaan. 

Dalam pelaksanaannya, proyek ini menghadapi sejumlah tantangan operasional di laut lepas. Dokumen HSSE proyek mencatat lima risiko utama yang menjadi perhatian, yakni kecelakaan personel di laut, aktivitas bunkering, tekanan tinggi peralatan, insiden orang jatuh ke laut (man overboard), hingga potensi tersangkutnya perangkat seismik pada rumpon nelayan. 

Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, pengamanan proyek melibatkan sejumlah instansi terkait, antara lain TNI Angkatan Laut, Polairud, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Barat, serta komunitas nelayan setempat. 

Pertamina juga telah melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan kelompok nelayan di Kabupaten Mamuju sejak April hingga Mei 2026 guna memastikan pelaksanaan survei berjalan aman dan lancar. 

Menariknya, dalam pelaksanaan survei ini tercatat sebanyak 124 rumpon di area operasi harus dipindahkan atau diputus demi menjaga keselamatan kegiatan akuisisi data. Seluruh proses pengawasan dilakukan menggunakan sistem digital berbasis Smart Monitoring. 

Di tengah tren penurunan produksi migas nasional dalam beberapa tahun terakhir, survei seismik 3D Kandawulo diharapkan dapat membuka peluang ditemukannya cadangan hidrokarbon baru yang berpotensi menjadi sumber pasokan energi nasional di masa mendatang. 

Data yang dihasilkan dari survei tersebut nantinya akan menjadi dasar penentuan lokasi pengeboran eksplorasi yang dinilai prospektif. Jika ditemukan cadangan migas dalam jumlah ekonomis, kawasan Kandawulo berpotensi menjadi salah satu penopang produksi minyak dan gas Indonesia pada masa depan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#SKK MIGAS #Survei Seismik #migas Indonesia #Sulawesi Barat #pertamina