RADAR PALU — Aksi seorang siswa di Papua Tengah mendadak viral saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.
Ia berdiri selama 40 menit hanya dengan satu kaki saat memimpin upacara. Sosok itu adalah Deki Degei, siswa kelas XI SMA Mepa Boarding School, Nabire.
Dalam video yang beredar di media sosial, Deki terlihat memimpin jalannya upacara tanpa menggunakan alat bantu. Ia berdiri tegak di lapangan, menyampaikan komando dengan suara lantang.
Baca Juga: NTP Sulteng di Bawah 100 Sejak Februari, Data BPS Tunjukkan Tekanan
Tak ada tanda goyah. Padahal, kondisi fisiknya memiliki keterbatasan.
Aksi tersebut langsung menyita perhatian publik. Banyak warganet mengaku tersentuh melihat keteguhan Deki yang tetap menjalankan tugasnya hingga upacara selesai.
Momen itu terjadi saat upacara Hardiknas pada 2 Mei 2026.
Upacara tersebut dipimpin oleh Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa yang bertindak selaku inspektur upacara. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif.
Baca Juga: Ngaku Debt Collector, Tiga Pelaku Curanmor Ditangkap Polresta Palu
Menurutnya, pendidikan inklusi harus menjadi landasan utama dalam pembangunan sumber daya manusia di Papua Tengah.
Ia menegaskan, setiap anak, tanpa terkecuali, harus mendapatkan ruang yang sama untuk belajar, berkembang, dan memimpin.
Pesan itu seolah tergambar langsung dari sosok Deki di lapangan.
Alih-alih menggunakan alat bantu, ia memilih berdiri dengan satu kaki selama kurang lebih 40 menit. Keputusan itu menjadi simbol kuat tentang keberanian dan keteguhan.
Akun resmi Pemerintah Provinsi Papua Tengah turut membagikan momen tersebut.
Dalam unggahannya, Deki disebut sebagai contoh nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi dan memimpin.
“Daya juang tidak butuh kesempurnaan fisik. Mandiri di asrama, tegas di lapangan. Suaranya yang lantang saat memimpin upacara adalah bukti bahwa mimpi tak punya batas,” tulis akun tersebut.
Kisah ini bukan sekadar viral.
Lebih dari itu, menjadi pengingat tentang pentingnya pendidikan inklusif, bukan hanya sebagai wacana, tetapi praktik nyata di lapangan.
Deki menunjukkan satu hal sederhana. Kekuatan bukan tentang apa yang hilang. Tetapi tentang apa yang tetap diperjuangkan.***
Editor : Muhammad Awaludin