Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

IPB Dukung Swasembada Beras, Ingatkan Ancaman Kemarau

Talib • Jumat, 24 April 2026 | 18:35 WIB
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman memastikan kesiapan dengan swasembada pangan nasional. (Humas Kementan)
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman memastikan kesiapan dengan swasembada pangan nasional. (Humas Kementan)

RADAR PALU - Upaya swasembada beras nasional mendapat suntikan dukungan dari kalangan akademisi. Tapi ada alarm yang ikut dibunyikan: ancaman kemarau panjang bisa jadi batu sandungan.

Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menegaskan komitmennya membantu pemerintah menjaga ketahanan pangan. Fokusnya bukan hanya produksi hari ini, tapi keberlanjutan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Handian Purwawangsa saat meninjau Gudang Beras Bulog di Karawang, Kamis (23/4). 

Baca Juga: IPB Apresiasi Mentan Amran, Sorot Kolaborasi Kampus

Ia mengapresiasi capaian stok beras nasional yang saat ini dinilai cukup kuat. Kondisi ini dianggap sebagai fondasi penting untuk menjaga stabilitas pangan di tengah dinamika global.

“Stok beras yang besar ini jadi modal penting. Ini harus dijaga agar produksi tetap berlanjut,” ujarnya.

Namun, Handian mengingatkan, tantangan ke depan tidak ringan. Salah satu yang paling krusial adalah potensi kemarau panjang yang bisa mengganggu siklus tanam dan produksi. 

Baca Juga: Stok Beras RI Tembus 5 Juta Ton, Rekor Baru Cadangan Pangan Nasional April 2026

Menurutnya, keberhasilan saat ini tidak boleh membuat lengah. Justru, langkah antisipasi harus disiapkan sejak sekarang.

“Kita tidak bisa hanya puas dengan capaian tahun ini. Tahun depan harus tetap terjaga, apalagi ada potensi kemarau panjang,” tegasnya.

Dampaknya tidak main-main. Jika tidak diantisipasi, penurunan produksi bisa terjadi dan berimbas langsung pada ketersediaan beras di pasar.

Sebagai langkah konkret, IPB memperkuat peran dalam penyediaan benih unggul. Tahun lalu, produksi benih padi mencapai sekitar 4 ribu ton.

Tahun ini, angkanya ditargetkan melonjak signifikan. IPB membidik produksi hingga 12 ribu sampai 18 ribu ton, menyesuaikan kebutuhan nasional.

Langkah ini dinilai strategis. Benih unggul menjadi kunci untuk menjaga produktivitas, terutama di tengah kondisi iklim yang tidak menentu.

Tak berhenti di padi, IPB juga mendorong diversifikasi komoditas. Jagung, tanaman perkebunan, hingga hortikultura masuk dalam agenda pengembangan. 

Baca Juga: Sidak Prabowo: Gudang Bulog Penuh, Stok Beras RI Melimpah

Beberapa komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kopi, alpukat, dan durian bahkan disebut punya potensi besar untuk digenjot.

Pemanfaatan lahan kosong, termasuk kawasan perhutanan sosial, menjadi salah satu strategi yang didorong.

“Lahan yang masih tersedia harus dimaksimalkan. Tidak hanya padi, tapi juga komoditas lain yang punya nilai ekonomi tinggi,” jelas Handian. 

Baca Juga: Stok Beras 5 Juta Ton, Mentan Minta Kampus Bergerak

Langkah ini sekaligus membuka peluang baru bagi petani. Tidak hanya bergantung pada padi, tapi juga bisa meningkatkan pendapatan dari sektor lain.

Sinergi dengan Kementerian Pertanian pun menjadi kunci. IPB berharap kolaborasi ini terus diperkuat agar program swasembada tidak hanya tercapai, tapi juga berkelanjutan.

Dengan kombinasi inovasi, benih unggul, dan kerja sama lintas sektor, optimisme swasembada beras tetap terjaga.

Namun satu catatan penting: tanpa kesiapan menghadapi perubahan iklim, semua capaian bisa goyah.***

Editor : Muhammad Awaludin
#IPB #kementerian pertanian #swasembada beras #Ketahanan pangan #kemarau panjang