Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Menhan Kumpulkan Jenderal Purnawirawan, Bahas Hormuz

Muhammad Awaludin • Jumat, 24 April 2026 | 18:11 WIB
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu puluhan purnawirawan TNI di Kantor Kemhan, bahas isu global hingga strategi pertahanan RI, Jumat (24/4). (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu puluhan purnawirawan TNI di Kantor Kemhan, bahas isu global hingga strategi pertahanan RI, Jumat (24/4). (Sahrul Yunizar/JawaPos.com)

RADAR PALU - Langkah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan puluhan jenderal purnawirawan TNI bukan sekadar temu kangen. Di balik pertemuan itu, ada kekhawatiran serius soal situasi global yang makin panas.

Dari Selat Hormuz hingga Lebanon, semua dibedah.

Pertemuan berlangsung di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jumat (24/4). Sejumlah nama besar hadir, mulai dari Wiranto, Gatot Nurmantyo, Andika Perkasa hingga Yudo Margono.

Suasananya serius. Topiknya berat. 

Baca Juga: Perang Opini Menguat, Menhan Ingatkan Risiko ke Kepercayaan Publik

Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menegaskan, forum ini bukan seremoni biasa. Pemerintah sengaja membuka ruang agar para senior TNI ikut memberi “warning” dan masukan.

“Ini bukan sekadar silaturahmi. Tapi forum strategis untuk membaca arah kebijakan pertahanan ke depan,” kata Rico.

Isu global jadi sorotan utama. 

Baca Juga: Pernyataan Menhan Soal Tambang Ilegal, Ini Sinyal ke Daerah

Ketegangan di Selat Hormuz disebut ikut memengaruhi stabilitas kawasan. Jalur ini dikenal sebagai urat nadi distribusi energi dunia. Sedikit saja konflik, dampaknya bisa merembet ke banyak negara, termasuk Indonesia. 

Tak hanya itu, kondisi pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon juga ikut dibahas. Situasi di wilayah tersebut disebut terus berkembang dan perlu diantisipasi.

Di forum itu, Menhan Sjafrie menegaskan arah kebijakan Indonesia tetap pada strategi defensif aktif. Artinya, Indonesia tidak mencari konflik, tapi tetap siap menjaga kedaulatan.

“Pertahanan kita berbasis kepentingan nasional, bukan agresi,” menjadi garis besar yang disampaikan.

Selain isu geopolitik, perhatian juga diarahkan ke dalam negeri.

Modernisasi alutsista, perbaikan struktur organisasi TNI, hingga peningkatan kualitas SDM jadi agenda penting. Pemerintah ingin memastikan kekuatan militer Indonesia tidak tertinggal di tengah dinamika global yang cepat berubah. 

Baca Juga: Pesan Menhan di Bogor: Pers Kunci Bela Negara, Ini Agendanya

Menariknya, Sjafrie juga membocorkan hasil komunikasi dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. Salah satunya terkait Letter of Intent (LoI) yang diajukan pihak AS ke Indonesia.

Meski detailnya belum dibuka, isu ini menandakan adanya potensi kerja sama strategis yang bisa berdampak pada penguatan pertahanan nasional.

Masukan dari para purnawirawan pun tidak dianggap angin lalu. 

Baca Juga: Menhan Bersama Panglima TNI, Tinjau Latihan Pesawat Sukhoi di Morowali

Menurut Rico, semua pandangan yang masuk akan dijadikan bahan evaluasi. Pemerintah ingin kebijakan yang diambil benar-benar matang, bukan sekadar respons sesaat.

“Semua input akan jadi bagian dari perbaikan ke depan,” tegasnya.

Pertemuan ini menunjukkan satu hal: di tengah dunia yang makin tidak pasti, Indonesia memilih waspada, bukan panik. Dan yang tak kalah penting, pengalaman para jenderal senior masih dianggap relevan untuk membaca arah ancaman ke depan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#purnawirawan tni #pertahanan indonesia #Menhan Sjafrie #lebanon #selat hormuz