RADAR PALU - Lebih dari tiga dekade mengabdi di tubuh TNI Angkatan Darat, Letjen TNI Djon Afriandi menjelma sebagai salah satu perwira tinggi dengan rekam jejak yang terasah di medan operasi dan struktur strategis militer.
Lulusan terbaik Akademi Militer 1995, peraih Adhi Makayasa ini menapaki kariernya dari bawah, meniti jalur panjang yang nyaris tak terpisahkan dari Korps Baret Merah.
Sejak awal penugasan, Djon langsung bergabung dengan Kopassus, satuan elite yang dikenal dengan disiplin keras dan operasi berisiko tinggi. Di sinilah fondasi kepemimpinannya dibentuk.
Dari Komandan Peleton di Grup 1 pada 1997, ia terus bergerak naik menjadi komandan kompi, wakil komandan batalyon, hingga akhirnya memimpin batalyon pada 2010.
Hampir seluruh fase awal karier militernya ditempa di satuan ini, menjadikannya sosok yang matang secara taktik dan mental.
Kariernya kemudian meluas ke lingkar pengamanan VVIP saat dipercaya bertugas di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Baca Juga: 1.751 Jamaah Haji Sulteng Siap Berangkat, Lima Kloter via Balikpapan
Mulai dari Komandan Detasemen hingga Wakil Komandan Grup A, Djon menunjukkan kapasitasnya dalam menjaga stabilitas di jantung kekuasaan.
Namun, Kopassus tetap menjadi rumah utamanya. Ia kembali sebagai Asisten Operasi Danjen Kopassus sebelum dipercaya memimpin Grup 1 setelah menyandang pangkat kolonel.
Lintasan kariernya kian strategis saat dipercaya menjadi Koordinator Staf Pribadi KSAD, lalu Komandan Korem 012/Teuku Umar, hingga menjabat Komandan Resimen Taruna Akmil. Penugasan demi penugasan tersebut memperlihatkan keseimbangan antara pengalaman lapangan dan kapasitas manajerial.
Baca Juga: Pendaftar MTsN 2 Palu Tembus 700, Syarat Berat: Wajib Lancar Ngaji dan Hafal Juz 30
Puncaknya, Djon kini mengemban amanah sebagai Panglima Kopassus posisi prestisius yang hanya diisi oleh perwira-perwira terbaik Angkatan Darat. Kepemimpinannya menjadi simbol kesinambungan tradisi dan profesionalisme pasukan khusus Indonesia.
Namanya juga sempat menjadi sorotan publik saat dipercaya sebagai komandan upacara dalam peringatan HUT ke-79 TNI di Monas. Ia memimpin lebih dari 100 ribu prajurit lintas matra, sekaligus mengorkestrasi kekuatan alutsista dalam skala besar sebuah penugasan yang mencerminkan kepercayaan tinggi institusi terhadap kapasitasnya.
Dari seorang letnan dua hingga letnan jenderal, perjalanan Djon Afriandi adalah potret konsistensi, loyalitas, dan ketangguhan. Sebuah kisah tentang bagaimana disiplin dan dedikasi di satuan elite dapat mengantar seorang prajurit mencapai puncak komando. (*)
Editor : Agung Sumandjaya