Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Menata Palu, Menyalakan Harapan

Muchsin Siradjudin • Senin, 20 April 2026 | 16:13 WIB
HARAPAN: Penulis buku Menata Kota, Menyusun Harapan, Salihudin bersama buah karyanya.(FOTO: DOK PRIBADI/RADAR PALU)
HARAPAN: Penulis buku Menata Kota, Menyusun Harapan, Salihudin bersama buah karyanya.(FOTO: DOK PRIBADI/RADAR PALU)

Resensi buku,  Oleh : Muchsin Sirajudin *)

BUKU Menata Kota, Menyusun Harapan: Kisah Inspiratif dari Palu karya Salihudin adalah sebuah ikhtiar intelektual sekaligus emosional untuk membaca kota bukan sekadar sebagai kumpulan jalan, gedung, taman, dan kebijakan, tetapi sebagai ruang hidup manusia yang memuat luka, harapan, ingatan, serta cita-cita peradaban.

Terbit pada cetakan pertama Januari 2026 oleh penerbit Adab dengan jumlah halaman 111, buku ini terasa ringkas, tetapi muatannya padat. 

Kehadiran sambutan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, pengantar Wakil Wali Kota Palu Hj. Imelda Liliana Muhidin, S.E., M.AP, serta pengantar akademik Prof. Dr. Muhd. Nursangadji, DEA memberi penegasan bahwa buku ini berdiri di persimpangan antara gagasan kebijakan, pengalaman pemerintahan, dan refleksi akademik.

Baca Juga: Jaksa Agung Warning Keras: Jangan Asal Tetapkan Kades Jadi Tersangka!

Sejak prolog, pembaca langsung diajak masuk ke jantung pemikiran penulis: bahwa menulis tentang kota pada dasarnya adalah menulis tentang manusia. 

Kalimat ini penting, sebab ia menjadi fondasi seluruh isi buku. Palu tidak diperlakukan sebagai objek pembangunan yang dingin dan teknokratis.

Sebaliknya, kota dibaca sebagai ruang yang bernapas, yang pernah terluka, bangkit, lalu perlahan menyusun kembali harapannya.

Baca Juga: Bansos Tak Lagi Sekadar Bantuan, Mensos: Harus Bikin Warga Mandiri

Di titik ini, kekuatan utama buku ini mulai tampak. Buku ini tidak terjebak pada bahasa birokrasi, tetapi juga tidak kehilangan kesadaran kebijakan.

Struktur buku tersusun rapi. Bab awal mengangkat hubungan antara kota dan harapan, lalu bergerak ke persoalan ruang, infrastruktur, manusia, pemerintahan kolaboratif, dan keberlanjutan lingkungan. 

Bagian-bagian ini menunjukkan bahwa penulis berusaha melihat kota secara utuh. Kota tidak hanya dibangun dari beton, tetapi juga dari pendidikan, kesehatan, budaya, rasa memiliki, transparansi, inovasi, hingga keadilan ekologis. 

Baca Juga: Indonesia Desak Gencatan Senjata Permanen di Lebanon, Korban Sipil Terus Berjatuhan

Di sini tampak bahwa buku ini punya horizon yang luas. Ia berbicara tentang kota sebagai cermin peradaban, bukan sekadar arena proyek pembangunan.

Salah satu bagian yang menarik adalah saat penulis membahas kota kolaboratif dan pemerintahan terbuka. Tema ini relevan dengan kebutuhan banyak daerah saat ini.

Pembangunan kota tidak bisa lagi hanya bergantung pada pemerintah sebagai aktor tunggal. Kota modern memerlukan partisipasi warga, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan generasi muda. 

Baca Juga: Nus Kei Tewas Ditikam di Bandara Langgur, Pelaku Ditangkap 2 Jam Usai Kejadian

Buku ini memberi kesan bahwa masa depan Palu tidak diletakkan pada kekuasaan yang sentralistis, melainkan pada kemampuan membangun percakapan warganya dan kerja bersama.

Gagasan ini penting karena kota yang sehat memang lahir dari relasi yang sehat antara pemerintah dan masyarakatnya.

Kekuatan lain buku ini terletak pada upayanya menjahit gagasan besar dengan pengalaman lokal.

Baca Juga: Berani Sejahtera dan Makmur Dua Program Sepintas Mirip,  Namun Target dan Cara Beda, Perlu Model Sebagai Ukuran

Judul-judul esai pada bagian tengah hingga akhir buku memperlihatkan kedekatan penulis dengan denyut sehari-hari Palu: dari tragedi 28 September 2018, Taman Vatulemo, Surabe Kaili, layanan publik, perpustakaan, hingga laut dan kuliner.

Ini membuat buku tidak melayang terlalu tinggi. Tapi tetap membumi. Pembaca merasakan bahwa Palu hadir bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai kota yang nyata, dengan aroma, rasa, memori, dan wajah manusianya sendiri.

Bab tentang Happy City Index dan Global Flourishing Study juga memberi warna menarik. Penulis tampaknya ingin menggeser ukuran kemajuan kota dari semata-mata pertumbuhan fisik menuju kebahagiaan, kebermaknaan hidup, dan kesejahteraan yang lebih utuh. Ini adalah tawaran yang segar. 

Baca Juga: Ditolak Sekolah Lain, Anak Difabel Diterima di GKST Imanuel Palu: Tanpa Syarat Rumit

Dalam banyak diskusi pembangunan, kota sering diukur dari angka investasi, panjang jalan, atau tinggi bangunan. 

Buku ini mengingatkan bahwa tujuan akhir pembangunan kota adalah manusia yang bertumbuh, merasa aman, sehat, terhubung, dan bahagia.

Meski demikian, sebagai sebuah resensi, buku ini juga dapat dibaca secara kritis. Karena gaya penulisannya cenderung reflektif dan inspiratif, beberapa pembaca mungkin akan berharap adanya data yang lebih banyak, perbandingan dengan kota lain, atau pijakan empiris yang lebih rinci pada beberapa bagian. Hal ini memang tidak banyak ditemui. 

Baca Juga: Sidak Prabowo: Gudang Bulog Penuh, Stok Beras RI Melimpah

Namun justru di situlah identitas buku ini. Bukan laporan penelitian teknis, melainkan esai-esai pemikiran yang mencoba menjembatani data, kebijakan, dan pengalaman manusia.

Dengan kata lain, nilai buku ini bukan terutama pada detail statistik, tetapi pada kemampuannya membangun kesadaran dan imajinasi tentang seperti apa kota seharusnya diarahkan.

Secara keseluruhan, Menata Kota, Menyusun Harapan, Kisah Inspiratif dari Palu adalah buku yang layak dibaca oleh siapa saja yang peduli pada masa depan Palu. Mulai pejabat publik, akademisi, mahasiswa, aktivis, pegiat komunitas, dan sampai warga biasa.

Baca Juga: Edukasi Sertifikasi Halal hingga Klinik Ekspor Jadi Fokus Disperindag di Semarak Sulteng

Buku ini tidak menawarkan kesempurnaan, tetapi mungkin menawarkan sesuatu yang lebih penting yakni arah moral.

Buku  mengajak pembaca melihat bahwa pembangunan yang baik harus berpihak pada manusia, menghormati ruang, merawat lingkungan, dan memelihara ingatan kolektif.

Pada akhirnya, buku ini seperti sebuah ajakan halus namun tegas. Bahwa menata kota bukan hanya urusan membangun yang tampak, tetapi juga merawat yang tak selalu terlihat. Ini tentang merwat kepercayaan, kebersamaan, martabat, dan harapan. 

Baca Juga: Abrasi Terjang Banggai Kepulauan, Tanggul 100 Meter Ambruk, Rumah Warga Terendam

Di tengah tantangan Palu sebagai kota yang terus bertumbuh menjadi metropolitan moderen, kota ini terus belajar dari pengalaman pahitnya. Karya ini hadir sebagai cermin sekaligus pengingat bahwa kota yang maju adalah kota yang tetap manusiawi. 

Dari situlah buku ini menemukan relevansinya, bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan.(*)

*) Peresensi adalah wartawan Radar Palu, Jawa Pos group.

Editor : Muchsin Siradjudin
#Buku menyalakan harapan #Gagasan diapungkan warga kota #Menjahit gagasan lokal #Menuju kota bahagia