RADARPALU – Keselamatan transportasi di Sulawesi Selatan terus didorong ke arah yang lebih sistematis dan preventif. Jasa Raharja menegaskan pentingnya pergeseran pendekatan dari responsif menjadi preventif berbasis data guna menekan angka kecelakaan dan fatalitas korban.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix di Makassar, Senin (13/04/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan itu menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Dirlantas Polda Sulsel Pria Budi, serta perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, BPTD Kelas II Provinsi Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga Provinsi Sulsel, DPD Organda Sulsel, PT Makassar Metro Network, RSUP Wahidin Sudirohusodo, RSUP Makassar, komunitas ojek online, hingga akademisi dari Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, Universitas Fajar, dan Universitas Handayani.
Baca Juga: Indonesia Punya 127 Gunung Api Aktif, 69 Dipantau Intensif 24 Jam
Forum ini menjadi wadah kolaborasi dalam memperkuat upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas secara terpadu di wilayah Sulawesi Selatan.
Dalam paparannya, Awaluddin mengungkapkan, berdasarkan data Triwulan I 2026, nilai santunan di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas juga naik sekitar 8 persen menjadi lebih dari 2.000 kasus.
Secara nasional, data IRSMS Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kejadian kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban per tahun, dengan tren yang terus meningkat.
Baca Juga: OJK Dukung Percepatan Program 3 Juta Rumah Lewat Penguatan SLIK
Ia menegaskan, peran Jasa Raharja tidak hanya terbatas pada penyaluran santunan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pencegahan kecelakaan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan titik rawan kecelakaan (blackspot), edukasi tersegmentasi, serta peningkatan kapasitas respons pertama di lapangan.
“Kecelakaan bukan persoalan kehilangan nyawa semata. Sebagian besar korban adalah usia produktif dan kepala keluarga, sehingga berdampak pada kondisi sosial-ekonomi keluarga. Kami mendorong pergeseran dari responsif menjadi preventif melalui kerja sistem yang terintegrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Pria Budi menyampaikan, meskipun jumlah kecelakaan meningkat 8 persen, angka fatalitas korban meninggal dunia justru berhasil ditekan sebesar 24 persen, dari 234 orang pada Triwulan I 2025 menjadi 179 orang pada periode yang sama tahun 2026.
Dari data tersebut, sebanyak 74 persen kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, dengan 78 persen kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Kecelakaan paling banyak terjadi pada pukul 15.00–18.00 WITA, umumnya dalam kondisi cuaca cerah dan jalan yang baik.
Polda Sulawesi Selatan juga telah memetakan titik rawan kecelakaan dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Penegakan hukum didukung oleh 89 unit ETLE yang terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.
Baca Juga: Dinsos Palu: Penerima Bansos Bisa Dicoret Jika Terlibat Judi Online
“Banyak korban meninggal bukan semata akibat kecelakaan, tetapi karena keterlambatan penanganan awal. Semakin cepat penanganan dalam golden period, semakin besar peluang korban bertahan hidup,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, sejumlah kesepakatan dihasilkan, antara lain penguatan edukasi interaktif keselamatan berkendara di titik rawan kecelakaan, perluasan program E-PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, serta integrasi SIM-RS dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan Guarantee Letter (GL) bagi korban kecelakaan.
Selain itu, diusulkan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder guna menekan fatalitas korban pada masa penanganan awal.
Dari sisi infrastruktur, Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan merencanakan pemeliharaan dan peningkatan jalan sepanjang 1.000 km pada periode 2025–2027. Sementara Dinas Perhubungan berkomitmen menambah koridor angkutan umum dari dua menjadi tiga koridor.
Jasa Raharja menilai forum kolaboratif tersebut penting dalam membangun peta jalan keselamatan transportasi berbasis data dan kondisi lokal. Permasalahan keselamatan lalu lintas dinilai tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi dan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan.(*/rna)
Editor : Mugni Supardi