Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Jejak Panjang Tsunami Laut Maluku, dari Gamalama hingga Halmahera

Mugni Supardi • Sabtu, 4 April 2026 | 02:31 WIB
Ilustrasi. (MUGNI SUPARDI)
Ilustrasi. (MUGNI SUPARDI)

 
RADARPALU - Laut Maluku dan wilayah sekitarnya tercatat memiliki sejarah panjang kejadian tsunami yang berlangsung selama berabad-abad.

Data historis menunjukkan, sejak tahun 1608 hingga 2019, kawasan ini berulang kali dilanda tsunami dengan berbagai skala dampak.

Catatan paling awal terjadi pada 1608 di sekitar Gunung Gamalama, Pulau Makian, dan Ternate, di mana tsunami dilaporkan merusak banyak kapal.

Baca Juga: Jalur Trans Sulawesi Ampana–Poso Kembali Terbuka, Diberlakukan Satu Arah Bergantian

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 1673 yang bersumber dari aktivitas di sekitar Gunung Gamkonora, Maluku Utara.

Memasuki abad ke-19, frekuensi kejadian meningkat. Pada 1845 di Kema, Minahasa Utara, tsunami dilaporkan terjadi dua kali dengan fenomena surut laut hingga tiga kali.

Setahun kemudian, 1846, tsunami setinggi 1,2 meter tercatat dengan pola naik-turun hingga 16 kali di wilayah Maluku Utara.

Baca Juga: Longsor Trans Sulawesi Ampana–Poso, Jalur Padapu–Bongka Sempat Lumpuh Kini Sudah Bisa Dilalui

Rentetan kejadian terus berlanjut pada periode 1856 hingga 1859, melanda Halmahera dan kawasan Kema-Manado.

Dampaknya bervariasi, mulai dari kerusakan permukiman pesisir, hanyutnya gubuk dan pepohonan, hingga gelombang yang mencapai bangunan jauh dari garis pantai.

Pada 1871, tsunami merusak sejumlah kampung di Kepulauan Sangihe–Talaud.

 

Sementara pada 1889, gelombang tsunami mencapai ketinggian sekitar 2 meter di Manado dan bahkan hingga 4 meter di Kema.

Memasuki era modern, aktivitas tsunami di wilayah ini relatif lebih kecil namun tetap terjadi.

Pada 2014, tsunami kecil terdeteksi di Jailolo setinggi 9 cm dan Manado 3 cm. Kemudian pada 2019, tsunami lokal kembali tercatat di Halmahera.

Baca Juga: Tiga Perkara Perdata Nany Widjaja di PN Surabaya Tetap Berjalan

Para ahli menilai, posisi Laut Maluku yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik menjadikannya rentan terhadap aktivitas tektonik dan vulkanik pemicu tsunami.

Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat pesisir tetap menjadi kunci dalam mitigasi bencana.

Riwayat panjang ini menjadi pengingat bahwa potensi tsunami di kawasan timur Indonesia, khususnya Laut Maluku, masih sangat relevan hingga saat ini.(*)

Editor : Mugni Supardi
#tsunami Laut Maluku #sejarah tsunami Indonesia #tsunami Halmahera #tsunami Manado Kema #cincin api Pasifik