Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

RI Kuasai 60% Sawit Dunia, Hilirisasi CPO Jadi Senjata Utama

Talib • Rabu, 1 April 2026 | 10:23 WIB
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku utama hilirisasi CPO untuk energi dan industri nasional. (DOK KEMENTAN)
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku utama hilirisasi CPO untuk energi dan industri nasional. (DOK KEMENTAN)

RADAR PALU - Kementerian Pertanian menegaskan hilirisasi CPO menjadi strategi utama untuk memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen CPO terbesar dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen. 

Baca Juga: Beasiswa PT Sawit Jaya Abadi 2 untuk 67 Siswa Binaan

Menurutnya, kekuatan ini harus dimanfaatkan untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui hilirisasi CPO.

“Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi CPO adalah langkah konkret menuju produk bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Dorong Produk Turunan Bernilai Tinggi

Pengolahan CPO menjadi produk turunan dinilai mampu memperkuat ekonomi nasional. Produk tersebut meliputi pangan olahan seperti margarin, kosmetik, sabun, oleokimia, hingga bioenergi. 

Baca Juga: Gesekan Lahan Sawit di Morowali Utara Picu Kekerasan, Warga Khawatir Iklim Investasi Terganggu

Dengan hilirisasi CPO, daya saing industri dalam negeri juga meningkat di pasar global.

Kunci Kemandirian Energi Nasional

Selain sektor industri, hilirisasi CPO juga menjadi fondasi penting dalam kemandirian energi melalui pengembangan biodiesel B50.

Program ini mencampur 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar, sehingga berpotensi menekan impor energi.

“Dengan implementasi penuh B50, Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor solar,” kata Arief.

Potensi Hemat Devisa dan Kendali Pasar

Pemerintah mencatat kebutuhan biodiesel B50 mencapai sekitar 5,3 juta ton CPO. Volume tersebut dapat dialihkan dari ekspor menjadi biofuel dalam negeri. 

Baca Juga: Sulteng Dapat Program Peremajaan Sawit Rakyat 950 Hektare Senilai Rp57 Miliar

Langkah ini dinilai mampu menghemat devisa sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, hilirisasi CPO memberi Indonesia posisi tawar kuat dalam menentukan harga dan pasokan energi alternatif global.

Kinerja Sawit Nasional Terus Meningkat

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 51,66 juta ton atau naik 7,26 persen. 

Baca Juga: Perlindungan Pekerja Perempuan di Industri Sawit Sulteng Jadi Komitmen Bersama

Sementara total produksi CPO dan PKO mencapai 56,55 juta ton, meningkat 7,18 persen dibanding tahun sebelumnya.

Ekspor juga tumbuh signifikan menjadi 32,34 juta ton dengan nilai mencapai US$ 35,87 miliar atau sekitar Rp 590 triliun.

Dampak Langsung ke Petani

Peningkatan kinerja sektor sawit berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Hal ini terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,45 pada Februari 2026.

Kenaikan ini mencerminkan harga yang lebih kompetitif di tingkat petani serta meningkatnya permintaan pasar.

Nilai Tambah Bisa Tembus 30 Kali Lipat

Hilirisasi CPO terbukti mampu meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan. Secara umum, nilainya bisa naik 3 hingga 10 kali lipat. 

Baca Juga: GAPKI Sulawesi Ajak Semua Pihak Lindungi Pekerja Perempuan Sawit

Bahkan untuk produk tertentu seperti vitamin E dan oleokimia, nilai tambahnya bisa mencapai lebih dari 30 kali lipat dibanding CPO mentah.

Saat ini, industri hilir sawit telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan.

Indonesia Berpengaruh di Pasar Global

Selain sawit, penguatan produksi beras nasional juga memberi dampak pada pasar global.

Penurunan impor beras Indonesia hingga jutaan ton ikut menekan harga beras dunia, menunjukkan besarnya pengaruh Indonesia dalam perdagangan internasional.

Strategi Besar Pembangunan Nasional

Kementan menegaskan hilirisasi CPO merupakan bagian dari strategi besar pembangunan nasional berbasis pertanian.

“Kebijakan hilirisasi yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempatkan nilai tambah di dalam negeri sebagai prioritas,” ujar Arief.

Dengan hilirisasi CPO, Indonesia tidak hanya memperkuat ekonomi domestik, tetapi juga meningkatkan peran strategisnya dalam menentukan arah pasar energi dan pangan global.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Hilirisasi CPO #Sawit Indonesia #ekonomi nasional #kementan #biodiesel B50