RADAR PALU - Lonjakan distribusi barang selama Ramadan dan Idulfitri diperkirakan meningkat hingga 30 persen. Kondisi ini mendorong lahirnya inovasi logistik cerdas untuk menjaga kelancaran pengiriman di tengah kemacetan.
Lonjakan Distribusi Saat Ramadan
Aktivitas distribusi barang di Indonesia mengalami peningkatan signifikan selama Ramadan hingga Idulfitri. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memperkirakan volume pengiriman naik sekitar 30 persen dibandingkan hari normal.
Kenaikan ini dipicu tingginya konsumsi masyarakat, termasuk belanja daring yang terus meningkat menjelang Lebaran.
Namun, lonjakan tersebut juga memicu tekanan pada sistem distribusi, terutama di kota-kota besar yang sudah lebih dulu menghadapi kemacetan lalu lintas.
Dampak ke Biaya dan Waktu Pengiriman
Kemacetan tak hanya memperlambat pengiriman barang, tetapi juga meningkatkan biaya logistik. Perusahaan harus menambah armada, stok, hingga pusat distribusi agar pasokan tetap lancar.
Situasi ini mempertegas pentingnya sistem logistik yang lebih efisien, adaptif, dan mampu merespons kondisi lapangan secara real-time.
Riset Logistik Cerdas dari Universitas Pertamina
Menjawab tantangan tersebut, dosen Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina, Dr. Muhammad Zaki Almuzakki, mengembangkan riset bertajuk L-TEAM (Logistics Technology for Efficient Autonomous Mobility).
Proyek ini berfokus pada pengembangan logistik cerdas berbasis kendaraan otonom dan robot yang dapat saling berkomunikasi menggunakan algoritma kecerdasan buatan.
Riset tersebut mendapat dukungan pendanaan dari program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju Kolaborasi Internasional (RIIM KI).
Kolaborasi Internasional
Dalam pelaksanaannya, Dr. Zaki bekerja sama dengan tim lintas disiplin dari Universitas Pertamina, serta menggandeng peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tak hanya itu, kolaborasi juga melibatkan mitra internasional seperti Southern University of Science and Technology (SUSTech), Tiongkok, dan Zhejiang CoTEK Robotics Co., Ltd.
Kolaborasi ini memperkuat pengembangan teknologi logistik berbasis kecerdasan buatan di Indonesia.
Cara Kerja Sistem L-TEAM
Sistem L-TEAM memungkinkan kendaraan otonom dan robot logistik beroperasi tanpa bergantung pada satu pusat komputer.
Setiap unit dapat bekerja mandiri, namun tetap saling berbagi informasi melalui algoritma yang dikembangkan.
Dengan sistem ini, kendaraan dapat menentukan rute paling efisien, menghindari kemacetan, serta merespons perubahan lalu lintas dengan cepat.
“Dengan koordinasi yang presisi, proses pengiriman bisa tetap lancar meski kondisi lalu lintas padat,” ujar Dr. Zaki.
Relevan Saat Musim Lebaran
Menurut Dr. Zaki, teknologi logistik cerdas menjadi sangat relevan saat terjadi lonjakan distribusi seperti Ramadan dan Idulfitri.
Sistem yang adaptif dinilai mampu menjaga stabilitas pengiriman meski terjadi peningkatan volume dan kepadatan lalu lintas.
Dukungan Kampus untuk Inovasi
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Wawan Gunawan A. Kadir, menyebut keberhasilan pendanaan internasional ini menunjukkan kapasitas riset kampus yang semakin kuat.
Ia menegaskan, pengembangan logistik cerdas juga sejalan dengan upaya menciptakan sistem transportasi yang efisien dan ramah lingkungan.
Pengembangan logistik cerdas menjadi solusi strategis untuk menghadapi lonjakan distribusi saat momen besar seperti Lebaran, sekaligus membuka peluang inovasi teknologi transportasi di masa depan.***
Editor : Muhammad Awaludin