RADAR PALU - Penyerangan terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, memicu kecaman luas dari berbagai kalangan.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin, mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus penyiraman cairan yang diduga air keras terhadap aktivis HAM tersebut.
Kasus ini memang sedang menjadi perhatian nasional. Sejumlah laporan media menyebut Andrie Yunus diserang orang tak dikenal pada Kamis malam, 12 Maret 2026, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, dan polisi menyatakan penyelidikan terus berjalan, termasuk pemeriksaan saksi serta penelusuran rekaman CCTV.
Baca Juga: Rakor Pemkab Buol Bersama Untad Palu Bahas Persiapan Pembukaan RPL di Kabupaten Buol
Dalam pernyataannya, Ketua FKUB Sulteng, Prof Zainal Abidin mengecam keras aksi kekerasan itu dan menilai penyerangan terhadap sesama manusia dengan cara brutal merupakan tindakan yang tidak beradab, bertentangan dengan nilai kemanusiaan, sekaligus mencederai rasa aman publik.
Prof Zainal menegaskan, kekerasan semacam itu tidak dapat ditoleransi, terlebih terjadi pada momentum Ramadan yang seharusnya menjadi ruang memperkuat pengendalian diri, empati, dan penghormatan terhadap sesama.
Menurut Prof Zainal, aparat penegak hukum perlu bertindak cepat, profesional, dan transparan untuk membongkar pelaku maupun motif di balik serangan tersebut.
Baca Juga: BMKG Rilis Data Hilal Penentu Awal Syawal 1447 H
Langkah itu dinilai penting, bukan hanya untuk memberi keadilan bagi korban, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap penegakan hukum dalam kasus-kasus kekerasan yang menyasar aktivis dan pembela hak asasi manusia.
“Peristiwa seperti ini tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa pengungkapan yang jelas. Aparat harus hadir memberi kepastian hukum, sekaligus memastikan masyarakat tidak hidup dalam rasa takut,” demikian garis sikap yang disampaikan Ketua FKUB Sulteng.
Serangan terhadap Andrie Yunus juga memunculkan kekhawatiran lebih luas mengenai ruang aman bagi aktivis sipil di Indonesia.
Baca Juga: Buka Bersama Pelosok di Donggala, Cendekia Society Bagikan Alat Tulis untuk Santri
Pemerintah, melalui pernyataan resminya, turut mengecam tindakan kekerasan terhadap Andrie dan menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam negara demokrasi tidak boleh dijawab dengan intimidasi maupun kekerasan.
Berdasarkan informasi yang berkembang, korban mengalami luka bakar pada sejumlah bagian tubuh dan gangguan pada penglihatan akibat cairan yang disiramkan pelaku.
Sejumlah sumber juga menyebut serangan dilakukan oleh dua orang yang mendekati korban menggunakan sepeda motor sebelum melarikan diri.
Bagi FKUB Sulteng, pengusutan tuntas kasus ini menjadi penting untuk menunjukkan bahwa negara tidak boleh kalah oleh teror dan kekerasan.
Penegakan hukum yang cepat dan menyeluruh diyakini menjadi kunci untuk mencegah munculnya rasa takut di tengah masyarakat, sekaligus mengirim pesan bahwa siapa pun yang menggunakan kekerasan untuk membungkam suara kritis harus diproses sesuai hukum.
Peristiwa ini, kata Zainal, juga harus menjadi pengingat bersama bahwa kehidupan sosial, apalagi di tengah suasana keagamaan yang penuh makna, semestinya dibangun di atas nilai persaudaraan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat Saat Mudik Lebaran 2026
Karena itu, Rais Syuriah PBNU dan guru besar filsafat di UIN Datokarama Palu, mengajak seluruh elemen masyarakat menolak segala bentuk kekerasan dan tetap menjaga persatuan di ruang publik. ***
Editor : Talib