Program ini akan berlangsung selama enam minggu hingga 16 April 2026 dan diisi dengan pengembangan profesional intensif serta pertukaran budaya.
Para peserta berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari lembaga pemerintah, sektor swasta, organisasi nonpemerintah, hingga kalangan akademisi.
Mereka akan mengikuti berbagai kegiatan di sejumlah organisasi sektor publik dan swasta di Amerika Serikat sesuai bidang keahlian masing-masing.
Program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) diluncurkan pada 2013 sebagai program unggulan pemerintah Amerika Serikat untuk memperkuat pengembangan kepemimpinan dan jejaring generasi muda di kawasan Asia Tenggara.
Melalui pertukaran pendidikan dan budaya, program regional, serta dukungan pendanaan tahap awal, YSEALI bertujuan membangun kapasitas kepemimpinan generasi muda sekaligus mempererat hubungan antara Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN.
Juru Bicara Embassy of the United States, Jakarta, Jamie Ravetz, menyampaikan kebanggaannya dapat mendukung para pemimpin muda Indonesia melalui program tersebut.
“Kami bangga mendukung generasi pemimpin Indonesia berikutnya melalui Program YSEALI Professional Fellows. Pertukaran ini tidak hanya membangun keahlian profesional, tetapi juga menjalin hubungan yang berkelanjutan antara negara kita. Kami menantikan dampak positif yang akan dihasilkan para peserta bagi komunitas mereka dan kawasan,” ungkap Jamie Ravetz.
Selama mengikuti program, para peserta akan memperoleh pengalaman langsung melalui penempatan profesional di berbagai organisasi di Amerika Serikat.
Mereka juga akan mengikuti lokakarya pengembangan profesional, kegiatan jaringan, serta diskusi dengan rekan-rekan Amerika yang menghadapi tantangan serupa di bidang masing-masing.
Selain itu, peserta juga berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan virtual yang dirancang untuk memperluas wawasan dan keterampilan profesional.
Setelah kembali ke Indonesia, peserta terpilih dapat mengajukan pendanaan untuk melaksanakan rencana aksi lanjutan guna mengatasi berbagai tantangan di komunitas asal mereka.
Salah satu peserta, Yusuf, analis hukum muda di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, mengaku ingin memanfaatkan program ini untuk meningkatkan kapasitas profesionalnya.
“Melalui Program YSEALI Professional Fellows, saya ingin meningkatkan keterampilan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, manajemen kontrak, manajemen risiko, serta penyelesaian sengketa dengan mempelajari praktik terbaik dari Amerika Serikat,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memperkuat kemampuan kepemimpinan, pemahaman lintas budaya, serta kapasitas kebijakan yang dimilikinya. Dengan demikian, ia dapat berkontribusi dalam mendorong transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam sistem hukum pengadaan publik dan pertahanan di Indonesia. (*)
Editor : Agung Sumandjaya